Tampilkan postingan dengan label Sumatra Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumatra Barat. Tampilkan semua postingan

KH Sirajuddin Abbas Al Minangkabawi, Sumatra Barat

Biografi KH Sirajuddin Abbas (1905-1980)
Sebagian orang menuduh bahwa KH Sirojuddin Abbas adalah pembohong atau membuat fitnah. Ini dapat dinukil dari tulisan-tulisan puak salafi-wahabi. Akan tetapi, apakah banyak orang tahu siapakah KH Sirojuddin Abbas ini? Latar belakang beliau serta perjalanan dakwah beliau? oleh itu, ana akan memaparkan sekilas biodata beliau yang ana nukil dari Ensiklopedi Ulama Nusantara yang disusun oleh H. M. Bibit Suprapto.

Di kalangan ulama Indonesia, nama kiai Haji Sirojuddin Abbas sudah bukan nama asing lagi. Ulama ini terkenal seorang muallif kitab yang cukup produktif walau tidak sampai berjumlah puluhan buah. Sebagai seorang muallif kitab, Kiai Sirojuddin Abbas justru lebih banyak dikenal orang melalui karya-karya ilmiah keislaman yang disusunnya daripada bertemu langsung wajhan bi wajhin dengan orangnya.

Pikiran-pikiran keagamaan K. Sirojuddin Abbas banyak diikuti orang, baik yang menyangkut segi-segi akidah maupun syariah. Kitab-kitab karya ulama ini bukan saja dibaca oleh kelompok kecil di kalangan masyarakat Minangkabau di mana ia dilahirkan, bukan pula hanya oleh warga Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) yang pernah dipimpinnya, tetapi juga tersebar luas di kalangan umat Islam. Bisa dikatakan, orang Islam Indonesia, khususnya kelompok tradisional, menyatakan Kiai Sirojuddin sebagai pembela mazhab Syafi’i di Indonesia yang argumentatif dan menguasai bidangnya lewat kitab-kitab yang disusunnya. Kalangan tradisional di Indonesia, termasuk di dalamnya Nahdlatul Ulama, mengakui kealiman ulama ini. Ini terbukti dari banyaknya warga NU yang membaca karya-karya K. Sirojuddin Abbas, terutama warga NU dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Kelebihan lain K. Sirojuddin Abbas, selain seorang ulama muallif, adalah sangat gigih mempertahankan mazhab Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya mazhab Syafi’i dalam bidang ilmu fikih. Pembelaan ini relevan sekali dengan kondisi Indonesia dan Asia Tenggara yang mayoritas penganut mazhab Syafi’i dalam ibadahnya. Dengan pembelaannya yang gigih dan argumentatif, banyak kalangan modernis yang menyebutnya terlalu kaku dan apriori terhadap paham lain, khususnya paham-paham baru.

Sirojuddin Abbas dilahirkan tanggal 5 Mei 1905 M di Bengkawas, Bukittinggi (Sumatera Barat), putra seorang ulama besar di kawasan itu, Syekh Haji Abbas Qadli yang lebih dikenal dengan Syekh Abbas Ladang Lawas. Sebagai seorang putra ulama tentu saja Sirajuddin mendapatkan pendidikan ilmu-ilmu keislaman sejak usia kanak-kanak dengan harapan kelak ia menjadi seorang ulama penerus perjuangan ayahandanya.

Pertama kali ia belajar keagamaan kepada ayahandanya sendiri, kemudian meneruskan mengaji kepada ulama-ulama lain di kawasan Minangkabau. Sejak umur 7 hingga 9 tahun (1912-1924) ia menjelajahi beberapa pondok pesantren (surau) di ranah Minang untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman. Masih belum puas juga dengan ilmu yang didapatkan dari ulama-ulama tanah air, ia memperdalam ilmunya dengan pergi merantau di negeri orang, ke tanah suci Mekkah. Selama enam tahunan ia belajar di Mekkah (1927-1933) sekaligus menunaikan haji setiap tahunnya (7 kali) di sela-sela belajarnya dan tepat pada musim haji. Di sana ia banyak berkenalan dengan para pelajar dari kalangan melayu maupun dari belahan dunia lainnya. Ia berteman dengan Syekh Muhammad As’ad (ulama Bone), Haji Abdurrahman Sjihab (tokoh Al Wasliyah) dan lain-lain yang kala itu bersama-sama belajar di Mekah, di bawah asuhan ulama-ulama terkenal baik dari kalangan al-Jawi (Melayu) maupun dari kawasan lain.

Puas menuntut ilmu di tanah suci Mekah, ia pulang ke kampung halamannya di Minangkabau untuk meneruskan perjuangan ayahandanya, mengajar di pesantren ayahandanya, walau kemudian ia lebih melebarkan sayapnya berkiprah di dunia yang lebih luas, yakni dunia pendidikan, keagamaan, juga dunia politik. Sebagaimana telah di ketahui, Syeikh Abbas Ladang Lawas adalah pendiri Jam’iyah Perti (Perhimpunan Tarbiyah Islamiyah) 20 Mei 1930 bersam-sama Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan Syeikh Jamil Jaho (Trio Pendiri Perti). Sebagai putra pendiri organisasi Islam ini wajar sekali apabila Kiai Sirajuddin Abbas meneruskan perjuangan mereka, bahkan sempat tampil sebagai Ketua Umum Perti (1935). Jabatan ini di pertahankan terus sampai Perti menjadi sebuah partai politik (Partai Islam Perti) 1951. Ia pernah pula menjadi anggota parlemen mewakili Perti dan pernah menjabat Menteri Negara mewakili partainya. Jabatan ini dipegangnya hingga awal Orde Baru, ketika menjadi perpecahan dalam tubuh partai Perti, karena sebagian Pengurus Pusat Perti termasuk KH. Sirajuddin Abbas dianggap terlalu dekat dengan kelompok kiri.

Kiai Sirajuddin Abbas termasuk ulama Syafi’iyah yang sangat kukuh melestarikan dan mengembangkan mazhab Syafi’i, baik melalui jalur pendidikan, keagamaan maupun jalur politik. Setelah diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, berdirilah partai-partai politik di Indonesia dengan berbagai asas dan landasannya. Begitu pula Perti, yang asalnya merupakan jam’iyah diniyah sebagaimana Nahdlatul Ulama menjelma menjadi sebuah partai politik tersendiri tanpa bergabung dengan Masyumi dengan nama Partai Islam Perti berlambangkan masjid dan bintang. Partai ini tetap mencantumkan Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagai asas partainya dengan mengikuti mazhab Syafi’i.

Kiai Sirajuddin Abbas meneruskan perjuangan generasi pendiri organisasi itu dengan tetap pada prinsip semula. Ia mengubah perjuangan Perti tidak saja dalam dunia sosial pendidikan dan kebudayaan tetapi juga bidang politik. Partai Islam Perti terhitung partai keci. Tetapi dibawah kepemimpinan Kiai Sirajuddin Abbas, partai ini tetap eksis dan diperhitungkan oleh kelompok Islam lainnya. Bahkan bersama NU dan PSII (minus masyumi), Perti berhasil mendirikan Liga Muslim dengan tokoh-tokohnya Kiai Wahid Hasyim, Kiai Sirajuddin Abbas dan Abi Kusno Cokrosuyoso (1952), tetapi liga ini tidak dapat berjalan secara efektif dan akhirnya pudar.

Sebagai seorang ulama dan politisi, KH Sirajuddin Abbas memiliki banyak pengalaman di bidang politik maupun keagamaan. Ia banyak berkunjung ke berbagai negara asing, baik melalui kunjungan resmi (kenegaraan) sebagai anggota lembaga legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat) maupun kunjungan kerja lain dalam missi keagamaan. Di antara negara yang pernah dikunjunginya antara lain Arab Saudi, Mesir, Yaman, Libanon, Syiria, Irak, Iran, Pakistan, Kazakstan, Turkistan, Turkmenia, Sin Kiang, Aljazair, dan Maroko. Mustahil apabila tokoh ini tidak memiliki pengalaman yang cukup di bidang politik maupun kemasyarakatan. Karena kedekatannya dengan tokoh-tokoh politik kiri, yang tentunya demi kepentingan politiknya dan eksistensinya Perti sebagai partai kecil, maka ia sering dicap sebagai sel dari PKI dan kelompok kiri lainnya.

Walaupun KH Sirajuddin Abbas banyak terlibat dalam kegiatan praktis, tetapi ia tidak pernah melupakan kegiatan keagamaan. Semasa menjadi partai politik, Perti juga tetap menangani masalah keagamaan, sosial dan pendidikan, sebagaimana peran yang diambil oleh Nahdlatul Ulama. Memang kedua organisasi ini termasuk kelompok organisasi Islam tradisional di samping Al Wasliyah, Nahdlatul Wathan dan beberapa organisasi Islam berskala lokal.

KH Sirajuddin Abbas tercatat sebagai ulama terkemuka bukan lantaran pondok pesantren yang dipimpinnya, bukan karena ia seorang orator yang memukau publiknya,bukan pula karena ia tokoh partai politik Islam atau politisi. KH Sirajuddin Abbas dikategorikan sebagai ulama besar karena ia seorang ulama muallif (pengarang) yang bukunya dipergunakan sebagai rujukan berbagai pihak dari kalangan ulama Islam dalam mempelajari ilmu keislaman khususnya Ahli Sunnah wal Jamaah dan mazhab Syafi’i. Bayangkan saja, tokoh-tokoh ulama, cendekiawan sampai mahasiswa dan pelajar dari kalangan Nahdlatul Ulama (sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia) banyak mengikuti pendapat KH Sirajuddin Abbas yang ditulis dalam buku-bukunya. Mereka mengikuti pemikiran KH Sirajuddin Abbas tanpa memandangnya sebagai pemimpin organisasi Islam yang kecil semacam Perti, tetapi semata-mata karena keulamaannya.

Di antara karya ilmiah KH Sirajuddin Abbas yang banyak dibaca orang adalah I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengupas tentang firqah-firqah faham dalam bidang akidah keislaman yang 73 aliran. Di antara yang paling tepat adalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Begitu pula kitab 40 Masalah Agama (4 jilid) banyak mengupas persoalan-persoalan fikih yang dibahasnya secara argumentatif menurut faham mazhab Syafi’i. Kitab ini banyak dipergunakan di masyarakat Islam, baik di kalangan intelektual maupun orang awam.

Sebahagian karya ilmiah KH Sirajuddin Abbas ditulis dalam bahasa Arab sebagian lagi dalam bahasa Indonesia. Kitab-kitab kuning berbahasa Arab yang ditulis KH Sirajuddin Abbas adalah:

~ Siraj al-Munir, berisi fikih Syafi’i terdiri 2 jilid.
~ Jawahir Ilm an-Nafs, berisi ilmu jiwa ditinjau dari ajaran Islam.
~ Siraj al-Bayan fi Fihrasati Ayat al-Qur’an, berisi tentang pembahasan ayat-ayat Al-Qur’an untuk memudahkan orang mempelajari kitab suci itu.
~ Bidayah al-Balaghah, tentang ilmu balaghah dan bayan (retorika).
~ Khulashah Tarikh al-Islam, tentang sejarah Islam.
~ Ta’limul Insya’.

Karya-karyanya dalam bahasa Indonesia antara lain:

~ I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah
~ 40 Masalah Agama, terdiri 4 jilid besar.
~ Thabaqatus Syafi’iyah, yang berisi untaian ulama-ulama Syafi’iyah dari zaman ke zaman, termasuk sejarah singkat dan karya-karyanya.
~ Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i, juga pembelaan terhadap mazhab ini di Indonesia.

KH Sirajuddin Abbas tetap berkhidmat dalam perjuangan Islam melalui kegiatan karya ilmiah maupun kegiatan keagamaan lain yang praktis sampai usia lanjut. Ulama ini wafat di Jakarta tanggal 27 Agustus 1980 dalam usia 75 tahun, usia yang bisa dikatakan lanjut untuk manusia masa kini. Walaupun ia telah wafat, tetapi pengaruhnya tetap hidup di kalangan umat, selama karya-karyanya masih tetap dibaca oleh kaum muslimin. Bagaimanapun juga KH Sirajuddin Abbas merupakan salah seorang ulama pembela mazhab Syafi’i yang gigih di Indonesia walaupun banyak yang menilai karya-karyanya lebih bersifat doktrinal dan bahkan apologis untuk Ahlussunnah wal Jama’ah terutama dalam bidang fikih mazhab Syafi’i.
Selengkapnya..

Syekh Burhanuddin Ulakan, Sumatra Barat

Gamabr berikut adalah foto makam Syekh Burhanuddin dan ini profil dari Syeh Burhanuddin di Ulakan, Pariaman
Mudah-mudahan makam beliau selalu dijaga oleh Allah dari bencana alam ini

Syeikh Burhanuddin Ulakan ini, adalah murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri dari Aceh, Syeikh Burhanuddin Ulakan inilah orang pertama menyebarkan Thariqat Syathariyah di Minangkabau. Syeikh Burhanuddin Ulakan yang tersebut wafat pada tahun 610 H/1214 M. Menurut riwayat pula bahwa Syeikh Burhanuddin Ulakan datang bersama dengan Syeikh Abdullah Arif yang menyebarkan agama Islam di Aceh.
Syeikh Burhanuddin pertama datang ke Minangkabau mengajar di Batu Hampar sekitar 10 tahun lamanya. Sesudah itu, dia berpindah ke perkumpulan yang dekat dengan imam Bonjol, beliau mengajar di situ sekitar lima tahun. Kemudian dia meneruskan kegiatan dakwahnya ke Ulakan, Pariaman, mengajar selama 15 tahun. Dilanjutkan pula mengajar di Kuntu, Kampar Kiri, di sana dia mengajar selama 20 tahun, sehingga dia wafat pada 610 H/1214 M.
Diriwayatkan pula bahawa peninggalan-peninggalan Syeikh Burhanuddin Ulakan yang tersebut ialah berupa sebuah stempel yang diperbuat daripada tembaga tulisan Arab, sebilah pedang, kitab Fathul Wahhab karya Syeikh Abi Zakaria al-Ansari dan khutbah Jumaat tulisan tangan dalam bahasa Arab.

PENDIDIKAN
Namanya ketika masih kecil ialah Si Pono, ayahnya bernama Pampak. Ayahnya masih beragama Buddha, namun Si Pono dari Sintuk pergi ke Ulakan, pergi belajar kepada Angku Madinah yang berasal dari Aceh. Pada tahun 1032 H/1622 M atas anjuran gurunya, dia melanjutkan pelajaran agama Islam kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri di Aceh. Lalu Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri menukar namanya daripada Si Pono menjadi Burhanuddin. Tiga belas tahun lamanya dia belajar kepada ulama yang wali Allah itu. Ketika belajar berteman dengan beberapa orang, di antaranya Datuk Marhum Panjang dari Padang Ganting Tanah Datar, Tarapang dari Kubang Tiga Belas (Solok) dan lain-lain.
Beliau adalah seorang yang sangat patuh kepada gurunya, hal ini pernah diceritakan oleh Dr. Syeikh Haji Jalaluddin dalam salah satu bukunya sebagai berikut di bawah ini, “Dari sehari ke sehari tumbuhlah kasih sayang, takut dan malu kepada Syeikh tersebut. Pada suatu hari Syeikh itu mengunyah- nguyah sirih. Tiba-tiba tempat kapur sirihnya terlepas dari tangannya jatuh ke dalam kakus. Yang mana kakus (tandas,pen:) itu sangat dalam, telah dipakai berpuluh-puluh tahun”. Tuan Syeikh berkata: “Siapa antara kalian sebanyak ini sudi membersihkan kakus itu sebersih-bersihnya? Sambil untuk mengambil tempat sirih saya yang jatuh ke dalamnya?”.

Ramai murid yang merasa enggan dan malas mengerjakan yang diperintah Syeikh itu. Kemudian Burhanuddin bekerja berjam-jam membersihkan kakus itu sehingga bersih dan tempat kapur sirih pun ditemukan, lalu dibersihkannya dan dipersembahkannya kepada Syeikh tersebut. lalu tuan Syeikh berdoa dengan sepanjang-panjang doa. Selanjutnya Syeikh itu berkata: “Tanganmu ini akan dicium oleh raja-raja, penghulu-penghulu, orang besar di Sumatera Barat dan muridmu tidak akan putus-putusnya sampai akhir zaman, dan ilmu kamu akan memberkati dunia ini. Aku namai kamu Saidi Syeikh Burhanuddin”.

KEMBALI KE MINANGKABAU
Setelah dia berasa ilmu telah banyak dan telah pula mendapat izinan dari gurunya, Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri, beliau pun kembali ke tempat asalnya. Sebelumnya gurunya berkata, “Pulanglah kamu ke negerimu, ajarkanlah ilmu apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah. Kalau kamu tetap kasih, takut, malu, patuh kepadaku nanti kamu akan mendapat hikmat kebatinan yakni seolah-olah ruhaniyah saya menjelma kepadamu. Kalau kamu berkata, seolah-olah itu adalah kataku. Kalau kamu mengajar seolah-olah itu adalah pengajaranku. Bahkan terkadang-kadang rupa jasadmu seolah-olah itu adalah jasadku. Kalau kamu sudah begitu rupa mudahlah bagi kamu mengajarkan agama Islam kepada siapa pun juga. itulah yang dikatakan Rabithah Mursyid.

Seseorang yang mendapat Rabithah Mursyid orang itu akan terus mendapat taufik dan hidayah Allah. Dan diberi ilmu hikmah, terbuka rahsia Allah dan berbahagialah orang itu dunia akhirat, insya-Allah. Kita hanya bercerai pada lahir, pada batin kita tidak bercerai,” demikian Dr. Syeikh Haji Jalaluddin yang ditulis dengan gaya tasawuf bersifat propaganda.
Prof. Dr. Hamka menulis dalam bukunya Ayahku bahawa Syeikh Burhanuddin Ulakan murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri kembali ke kampung halamannya pada tahun 1100 H bersamaan tahun 1680M. Sejarah mencatat bahawa beliau meninggal dunia di Ulakan pada 1111 H atau 1691 M, lalu dimashyurkan oranglah namanya dengan “Syeikh Burhanuddin Ulakan”.
Mengenai riwayat hidup yang pernah diterbitkan, yitu buah pena Tuan Guru Haji Harun At-Thubuhi Rafinayani. Bahawa dalam buku kecil itu menyebut Syeikh Burhanuddin itu adalah berasal daripada suku Guci. Buya K.H. Sirajuddin Abbas juga menulis demikian. Terakhir sekali tentang tokoh sufi ini dapat pula dibaca dalam tulisan Drs. Sidi Gazalba yang dimuat dalam buku Mesjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam.

KETURUNAN
Menerusi tulisan Dr. Syeikh Haji Jalaluddin, dapat juga disimpulkan keterangan bahawa Syeikh Burhanuddin kembali dari Aceh dengan berjalan kaki. Mula-mula dia sampai ke negeri Tiku, Kabupaten Agam sekarang. Di Tiku itu dia berkahwin dengan seorang perempuan setempat. Dari perkahwinan itu dia mendapat anak lelaki yang bernaman “Sidi Abdullah Faqih”,. Beliau ini kemudian meneruskan ajaran orang tuanya.
Sidi Abdullah Faqih mendapat anak bernama “Sidi Abdul Jabbar”. Syeikh Abdul Jabbar mendapat anak bernama "Sidi Syeikh IIyas”. Sidi Syeikh Ilyas mendapat anak bernama “Sidi Yusni”. Sidi Yusni adalah murid Dr. Syeikh Jalaluddin dan sangat patuh kepada gurunya. Mungkin ayahnya Sidi Ilyas adalah keturunan Syeikh Burhanuddin Ulakan yang pertama mengamalkan Thariqat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah, kerana sebelumnya semuanya mengamalkan Thariqat Syathariyah. Diketahui pula bahawa Sidi Syeikh Ilyas tersebut adalah cicit Syeikh Burhanuddin Ulakan, beliau inilah baru mempersatukan antara tarekat dengan ilmu pencak silat, sebagai alat mempertahankan diri.
Manakala yang ditulis oleh Dr. Syeikh Jalaluddin tersebut agak berbeda dengan cerita masyarakat, yang meriwayatkan bahawa Syeikh Burhanuddin Ulakan tidak mempunyai zuriat. Diriwayatkan bahawa ketika dia belajar di Aceh pada suatu hari kerana syahwatnya naik, dia telah memukul kemaluannya sendiri, sehingga kemaluannya mengalami kecederaan dan menyebabkan tidak berfungsi lagi untuk melakukan hubungan seks.

TRADISI HARI RABU AKHIR BULAN SAFAR
Hingga kini kubur Syeikh Burhanuddin Ulakan masih diziarahi orang, terutama pada hari Rabu akhir bulan Safar. Dr. Syeikh Haji Jalaluddin selaku Ketua Umum Seumur Hidup P.P.T.I (Persatuan Pembela Thariqat Islam) mengajak seluruh pengikutnya setelah selesai Kongres P.P.T.I yang ke-16 mengadakan ziarah ke makam Syeikh Burhanuddin di Ulakan.
Semua mereka mengi'tiqadkan bahawa Syeikh Burhanuddin Ulakan adalah seorang Wali Allah yang banyak karamahnya. Kalau bertawassul kepadanya selalu dimustajabkan. Salah satu tradisi yang terjadi di makam di Ulakan itu yang terkenal sampai sekarang ialah Basapa. Tentang ini kita ikuti tulisan Sidi Gazalba, sebagai berikut, “Syeikh Burhanuddin wafat 10 Safar 1111 Hijrah. Kerana 10 Safar itu tidak tentu jatuh pada hari Rabu, maka ziarah ke makam pembangun Islam di Minangkabau itu yang dilakukan serempak hampir dari tiap pelosok Minangkabau, dilakukan dari hari Rabu sesudah 10 Safar itu setiap tahun.
Berziarah ini terkenal dengan sebutan basapa (bersafar) yang dilakukan serempak oleh puluhan ribu orang sebelum perang Pasifik. Maka jalan di antara Pariaman dan Ulakan penuh oleh iringan orang-orang pulang ziarah, yang jumlah panjangnya sampai kira-kira 10 kilometer. Kaum Muda di Minangkabau menolak basapa. demikian menurut Drs. Sidi Gazalba.
Ramai orang menuduh yang melakukan basapa terutamanya terdiri dari golongan tasawuf, lebih-lebih golongan Thariqat Syathariyah. Akan tetapi kalau kita selidiki lebih jauh, bukti dan kenyataannya bukan golongan Syathariyah saja, namun demikian golongan Thariqat Qadiriyah, golongan Thariqat Naqsyabandiyah, juga pengikut Mazhab Syafie bahkan orang-orang yang mengaku berdasarkan al-Quran dan hadis (tegasnya kaum muda) pun tidak kurang pula mengerjakan basapa di kubur Syeikh Burhanuddin di Ulakan itu.
Upacara basapa/bersafar adalah merupakan tradisi nasional kerana dia juga dilakukan di tempat lain di seluruh Nusantara. Penulis belum yakin bahawa dikeranakan Syeikh Burhanuddin itu wafat hari Rabu bulan Safar dijadikan sebab maka terjadinya basapa. Di Kalimantan Barat misalnya, orang bersafar ke kubur Upu Daeng Menambon di Sebukit Raya (di hulu Mempawah). Orang menduga bahawa Upu Daeng Menambon meninggal dunia pada 16 Safar 1174 H, iaitu tepat pada hari Rabu di akhir bulan Safar. Di Tanjung Katung, Singapura, pada zaman dulu ramai orang mandi-mandi Safar di sana, ini diakibatkan dengan meninggalnya siapa? Dan meninggalnya siapa pula jika dikerjakan perkara itu di tempat lain-lainnya?
Sebenarnya dalam kitab-kitab Islam banyak yang menyebut memang ada dinamakan bala pada akhir Safar. Seumpama Syeikh Muhammad bin Ismail Daud al-Fathani menyalin perkataan ulama, yang beliau muat dalam kitabnya Al-Bahyatul Mardhiyah, kata beliau, “Kata ulama disebut dalam kitab Al-Jawahir, diturunkan bala pada tiap-tiap tahun 320,000 (tiga ratus dua puluh ribu) bala. Dan sekalian bala pada hari Rabu yang akhir pada bulan Safar. Maka hari itu terlebih payah daripada setahun”. Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani menulis juga seperti demikian di dalam kitabnya, Jam'ul Fawaid.
Demikian juga ulama-ulama lainnya, baik yang berasal dari dunia Melayu mahu pun bukan. Jelas bahawa memang ada ulama yang mengakui pada hari Rabu akhir Safar itu ada bala yang turun. Bahawa Islam meyakini memang ada yang dinamakan bala, ada yang dinamakan taun, ada yang dinamakan wabak dan sebagainya. Sebaliknya sebagai perimbangannya ada yang dinamakan rahmat, ada yang dinamakan berkat, ada yang dinamakan hidayat dan sebagainya.
Tentang bila Tuhan menurunkan yang tersebut itu tiada siapa yang mengetahuinya. Dalam Islam ada nama-nama yang tersebut itu semua, bahkan telah menjadi keyakinan adanya. Sungguh pun turunnya bala, wabak atau sebaliknya tiada siapa yang mengetahuinya. Namun dalam menyambut hari yang bersejarah bolehlah akhir Safar, Rabunya dimasukkan dalam kategori ini ramai orang membuat kaedah-kaedah baru yang kadang-kadang berlebih-lebihan sifatnya. Selalu pula terjadi bidaah dan khurafat yang dicela oleh Islam itu sendiri.

Sebagai contoh, bersuka ria pada akhir Safar itu dengan melakukan mandi-mandi secara berkelompok, berkumpul lelaki dan perempuan adalah satu pekerjaan bidaah mazmumah yang sangat dilarang oleh syarak. Akan tetapi berdoa minta perlindungan daripada bala atau memohon rahmat atau lainnya adalah diajarkan oleh agama Islam. Meminta sesuatu kepada Allah boleh dilakukan setiap saat baik pada akhir Safar atau waktu lainnya lebih-lebih waktu yang dianggap berkat. Doa-doa dan perbuatan meminum air Safar pun tidak pula dapat dinafikan kerana banyak ulama yang telah menulis wafaq Safar itu di dalam kitab-kitab mereka, yang salahnya adalah perbuatan si jahil yang selalu melakukannya berlebih-lebihan.
Hingga di sini penulis tutup mengenai Syeikh Burhanuddin Ulakan, ulama besar mazhab Syafiie, pengikut fahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah, penyebar Thariqat Syathariyah di daerah Minangkabau yang telah mencurahkan seluruh hidupnya untuk Islam semata-mata bukan kepentingan lainnya. Usaha-usahanya belakang hari akan diikuti oleh ulama-ulama yang berasal dari Sumatera Barat secara berantai yang tiada akan putus-putusnya hingga waktu sekarang.
Kita mengenali nama-nama popular yang berasal dari Minangkabau di antaranya ialah; Syeikh Ismail bin Abdullah Minangkabau, Syeikh Ahmad Khathib bin Abdul Latif Minangkabau, Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli Candung, Syeikh Jamil Jaho, Dr. Syeikh Haji Jalaluddin, Syeikh Jamil Jambek, Dr. Abdul Malik Amrullah, Kiayi Haji Sirajuddin Abbas, Prof. Dr. Hamka dan ramai lagi.
Selengkapnya..

Syekh Muhammad Jamil Jambek, Sumatra Barat

Ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad 20 ini dikenal juga sebagai ahli ilmu falak terkemuka. Nama Syekh Muhammad Jamil Jambek lebih dikenal dengan sebutan Syekh Muhammad Jambek, dilahirkan dari keluarga bangsawan. Dia juga merupakan keturunan penghulu. Ayahnya bernama Saleh Datuk Maleka, seorang kepala nagari Kurai, sedangkan ibunya berasal dari Sunda.

Masa kecilnya tidak banyak diketahui. Namun, yang jelas Syekh Muhammad Jambek mendapatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rendah yang khusus mempersiapkan pelajar untuk masuk ke sekolah guru. Kemudian, dia dibawa ke Mekkah oleh ayahnya pada usia 22 tahun, untuk menimba ilmu.

Ketika itu dia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Semula Syekh Muhammad Jambek tertarik untuk mempelajari ilmu sihir, tapi dia disadarkan dan diinsyafkan oleh gurunya. Selama belajar di tanah suci, banyak ilmu agama yang dia dapatkan. Antara lain yang dipelajari secara intensif adalah tentang ilmu tarekat serta memasuki suluk di Jabal abu Qubais.

Dengan pendalaman tersebut Syekh Muhammad Jambek menjadi seorang ahli tarekat dan bahkan memperoleh ijazah dari tarekat Naqsabandiyyah-Khalidiyah. Namun, dari semua ilmu yang pernah didalami yang pada akhirnya membuatnya terkenal adalah tentang ilmu falak.

Keahliannya di bidang ilmu falak mendapat pengakuan luas di Mekkah. Oleh sebab itu, ketika masih berada di tanah suci, Syekh Muhammad Jambek pun mengajarkan ilmunya itu kepada para penuntut ilmu dari Minangkabau yang belajar di Mekkah. Seperti, Ibrahim Musa Parabek (pendiri perguruan Tawalib Parabek) serta Syekh Abbas Abdullah (pendiri perguruan Tawalib Padangpanjang).

Pada tahun 1903, dia kembali ke tanah air. Ia pun memilih mengamalkan ilmunya secara langsung kepada masyarakat; mengajarkan ilmu tentang ketauhidan dan mengaji. Di antara murid-muridnya terdapat beberapa guru tarekat. Lantaran itulah Syekh Muhammad Jambek dihormati sebagai Syekh Tarekat.

Setelah beberapa lama, Syekh Muhammad Jambek berpikir melakukan kegiatan alternatif. Hatinya memang lebih condong untuk memberikan pengetahuannya, walaupun tidak melalui lembaga atau organisasi. Dia begitu tertarik pada usaha meningkatkan keimanan seseorang. Hingga kemudian dia mendirikan dua buah surau. Yakni, Surau Tengah Sawah dan Surau Kamang keduanya dikenal sebagai Surau Inyik Jambek.

Kiprahnya mampu memberikan warna baru di bidang kegiatan keagamaan di Sumatra Barat. Mengutip Ensiklopedi Islam, Syekh Muhammad Jambek juga dikenal sebagai ulama yang pertama kali memperkenalkan cara bertablig di muka umum. Barzanji (rawi) atau marhaban (puji-pujian) yang biasanya dibacakan di surau-surau saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, digantinya dengan tablig yang menceritakan riwayat lahir Nabi Muhammad dalam bahasa Melayu.

Demikian halnya dengan kebiasaan membaca riwayat isra mi'raj Nabi Muhammad dari kitab berbahasa Arab. Dia menggantinya dengan tablig yang menceritakan peristiwa tersebut dalam bahasa Melayu, sehingga dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat. Termasuk juga tradisi membaca kitab, digantinya dengan membahas masalah kehidupan sehari-hari. Menurutnya, semua itu dilakukan karena agama diperuntukkan bagi siapa saja yang dapat memahaminya. Ia pun dikenal sebagai ulama yang lebih bergiat di aktivitas tablig dan ceramah.

Seiring perjalanan waktu, sikap dan pandangannya terhadap tarekat mulai berubah. Syekh Muhammad Jambek kini tidak lagi tertarik pada tarekat. Pada awal tahun 1905, ketika diadakan pertemuan ulama guna membahas keabsahan tarekat yang berlangsung di Bukit Surungan, Padangpanjang, Syekh Muhammad berada di pihak yang menentang tarekat. Dia "berhadapan" dengan Syekh Bayang dan Haji Abbas yang membela tarekat.

Kemudian dia menulis buku mengenai kritik terhadap tarekat berjudul Penerangan Tentang Asal Usul Thariqatu al-Naksyabandiyyah dan Segala yang Berhubungan dengan Dia, terdiri atas dua jilid.
Salah satu penjelasan dalam buku itu, yakni tarekat Naksyabandiyyah diciptakan oleh orang dari Persia dan India. Syekh Muhammad Jambek menyebut orang-orang dari kedua negeri itu penuh takhayul dan khurafat yang makin lama makin jauh dari ajaran Islam.

Buku lain yang ditulisnya berjudul Memahami Tasawuf dan Tarekat dimaksudkan sebagai upaya mewujudkan pembaruan pemikiran Islam.
Akan tetapi secara umum dia bersikap tidak ingin bermusuhan dengan adat istiadat Minangkabau. Tahun 1929, Syekh Muhammad Jambek mendirikan organisasi bernama Persatuan Kebangsaan Minangkabau dengan tujuan untuk memelihara, menghargai, dan mencintai adat istiadat setempat.

Di samping juga untuk memelihara dan mengusahakan agar Islam terhindar dari bahaya yang dapat merusaknya. Selain itu, dia juga turut menghadiri kongres pertama Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau tahun 1939. Yang tak kalah pentingnya dalam perjalanan dakwahnya, pada masa pendudukan Jepang, Syekh Muhammad Jambek mendirikan Majelis Islam Tinggi (MIT) berpusat di Bukittinggi.
Selengkapnya..

Syekh Sulaiman Ar Rasuli, Sumatra Barat

Arrasuli (imbuhan ar, as, al pada setiap kata benda dalam bahasa Arab/Al-Qur’an sama dengan The dalam bahasa Inggris) dalam bahasa Inggris The Rasul, nama Arrasuli diberikan oleh Muhammad Rasul kepada 2 orang anak-anak beliau, yaitu Soelaiman Arrasuli dan Habib Arrasuli). Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi, lahir di Canduang, sekitar 10 km. sebelah timur Bukittinggi, Sumatra Barat, 1287 H./1871 M., wafat pada 29 Jumadil Awal 1390 H./1 Agustus 1970 M. Ia adalah seorang tokoh ulama dari golongan Kaum Tua yang gigih mempertahankan madzhab Syafi’i. Tak jarang pula, Beliau dipanggil dengan sebutan “Inyik Canduang”. Angku Mudo Muhammad Rasul adalah seorang ulama dari IV (Ampek) Angkek Canduang Luhak Agam (Luhak ini terdiri dari Kab. Agam, Kodya. Bukittinggi, Kab. Pasaman dan Kab. Pasaman Barat sekarang).

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, yang lebih dikenal oleh para muridnya dengan nama Maulana Syeikh Sulaiman, sejak kecil memperoleh pendidikan awal, terutama dalam bidang pelajaran agama, dari ayahnya. Sebelum meneruskan studinya ke Mekah, Sulaiman ar-Rasuli pernah belajar kepada Syeikh Yahya al-Khalidi Magak, Bukittinggi, Sumatera Barat. Pada masa itu Masyarakat Minang masih menggunakan sistem pengajian surau dalam bentuk halaqah sebagai sarana transfer pengetahuan keagamaan.

Pendidikan terakhir Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi adalah di Mekkah. Ulama yang seangkatan dengannya antara lain adalah Kiyai Haji Hasyim Asyari dari Jawa Timur (1287 H/1871 M - 1366 H/1947 M), Syeikh Hasan Maksum, Sumatra Utara (wafat 1355 H/1936 M), Syeikh Khathib Ali al-Minangkabawi, Syeikh Muhammad Zain Simabur al-Minangkabawi (sempat menjadi Mufti Kerajaan Perak tahun 1955 dan wafat di Pariaman pada 1957), Syeikh Muhammad Jamil Jaho al-Minangkabawi, Syeikh Abbas Ladang Lawas al-Minangkabawi dll.

Sementara ulama Malaysia yang seangkatan dan sama-sama belajar di Mekkah dengannya antara lain adalah Syeikh Utsman Sarawak (1281 H/1864 M - 1339 H/1921 M), Tok Kenali (1287 H/1871 M - 1352 H/1933 M) dll.

Ketika tinggal di Mekah, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi selain belajar dengan Syeikh Ahmad Khatib Abdul Lathif al-Minangkabawi, beliau juga mendalami ilmu-ilmu daripada ulama Kelantan dan Pattani. Guru-gurunya ketika di Mekah antara adalah, Syeikh Wan Ali Abdur Rahman al-Kalantani, Syeikh Muhammad Ismail al-Fathani dan Syeikh Ahmad Muhammad Zain al-Fathani, Syeikh Ali Kutan al-Kelantani, dan beberapa ulama Melayu yang bermukim di sana.Sulaiman Arrasuli dilahirkan pada tahun 1871 dikenal sebagai pencetus didirikannya Sekolah/Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) yang saat ini bertebaran di hamper setiap propinsi di Indonesia. MTI pertama yang berdiri ada di Pakan Kamih Kanagarian IV Angkek Canduang. Beliau, bersama-sama dengan KH. Hasyim Ashari, pendiri Nahdatul Ulama (NU) pernah menimba ilmu di Mekkah dan mempunyai tekad yang sama dalam menyebarkan ilmu pengetahuan Islam di Indonesia. MTI merubah sistem pendidikan agama Islam yang awalnya sistem Surau menjadi sistem kelas. Sejak dirubahnya sistem ini pada tahun 1926 sampai dengan tahun 1942 diperkirakan terdapat 300 sekolah dengan jumlah murid sekitar 45.000 (empat puluh lima ribu) orang, yang mana murid-muridnya berasal dari seluruh Indonesia, bahkan dari Singapura dan Malaysia.

Pada tanggal 5 Mei 1928 beliau bersama-sama rekan-rekan beliau, yaitu Syeikh Abbas Ladang Lawas dan Syeikh Muhammad Jamil Jaho mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), hal ini disebabkan agar dalam pengembangan pengelolaan MTI yang telah tersebar di mana-mana lebih terorganisir. Namun dalam perjalanan organisasi ini PERTI menjadi partai politik sehingga Syekh Sulaiman Arrasuli yang juga dikenal dengan julukan Inyiek Canduang pernah menjadi Ketua Sidang Konstituante hasil pemilu tahun 1955. Setahun sebelum beliau wafat beliau berfatwa kepada warga Tarbiyyin agar kembali ke khittah, tetapi sebagian besar pengurus PERTI berpendapat bahwa selaku organisasi tidak dapat dirubah sehingga atas kesepakatan bersama maka kepanjangan PERTI adalah Pergerakan Tarbiyah Islamiyah, sedangkan Persatuan Tarbiyah Islamiyah menjadi TARBIYAH. Dan sejak pemilu tahun 1971 sampai sekarang PERTI adalah bagian dari Partai Persatuan Pembangunan.

Selain aktif di dunia pendidikan agama, Syeikh Sulaiman juga aktif di dunia politik dan keorganisasian. Sejak tahun 1921, ia bersama dua teman akrabnya, Syeikh Abbas dan Syeikh Muhammad Jamil, serta sejumlah ulama ‘kaum tua‘ (golongan ulama yang tetap mengikuti salah satu dari empat madzhab dalam fiqh: Maliki, Syafi‘i, Hanafi, dan Hanbali) Minangkabau, membentuk organisasi bernama ‘Ittihadul Ulama Sumatera‘ (Persatuan Ulama Sumatera) yang bertujuan untuk membela dan mengembangkan paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah madzhab Syafi‘i. Salah satu kegiatannya adalah menerbitkan majalah al-Radd wa al-Mardud sebagai sarana untuk menjelaskan serta mempertahankan paham Ahlussunnah waljamaah madzhab Syafi’i.

Sedangkan para ulama Malaysia yang seangkatan dengan Sulaiman ar-Rasuli dan sama-sama belajar di Mekah adalah Syeikh Utsman Sarawak (1281 H/1864 M - 1339 H/1921 M) dan Tok Kenali (1287 H/1871 M - 1352 H/1933 M).

Dalam penentuan awal dan akhir puasa (Ramadhan), Syeikh Sulaiman ar-Rasuli lebih menyetujui metode rukyah (melihat langsung bulan sabit). Ini merupakan sebentuk penegasan beliau untuk mempertahankan corak keislaman yang berakar pada tradisi Nusantara. Dalam banyak hal Syeikh Sulaiman ar-Rasuli beserta seluruh ulama Tarbiyah Islamiyah mempertahankan ciri-ciri dan cita-cita keislaman tradisional menurut manhaj Ahlussunnah Waljamaah bersama-sama dengan para ulama Nahdhatul Ulama (NU) dan semua ulama di seluruh dunia Islam yang masih tetap berpegang teguh kepada Mazhab Syafi’i.

Menurut Hamka, Syeikh Sulaiman ar-rasuli merupakan seorang ulama yang sangat gigih memperjuangkan kehidupan Umat Islam. Mendidik bangsanya menjadi lebih maju dan berusaha melepaskan diri dari penjajahan. Hamka melansir dalam bukunya yang berjudul Ayahku Menulis, “Cuma Beliau (maksudnya Dr. Haji Abdul Karim Amrullah) berselisih dalam satu perkara (dengan Syeikh Sulaiman ar-Rasuli). Bahwa Syeikh Sulaiman ar-Rasuli mempertahankan Thariqat Naqsyabandiyah, dan salah seorang di antara Syeikhnya (mungkin maksudnya Syeikh Saad Mungka, musuh polemik Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau, ed.), sedangkan pihak Dr. Haji Abdul Karim Amrullah dan Syeikh Jambek tidak suka kepada tarekat itu.”

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli juga merupakan ulama yang gigih mempertahankan tatanan kemasyarakatan Minangkabau untuk tetap mempertahankan tradisi kesalehan Nusantara. Setidak-tidaknya hal ini terlihat dari bagaimana Beliau memperjuangkan prinsip ”Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena musyawarah” serta ”Tungku tigo sajarangan” yang telah diyakini masyarakat Minang sebagai cara kebijakan paling berrurat akar dalam tradisi Nusantara serta sama seklai tidak bertentangan dengan nilai-nilai Syariat Islam.

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli adalah seorang ulama besar yang berpengaruh terhadap kawan dan lawan. Sejak zaman pemerintah Belanda, pembesar-pembesar Belanda datang mengunjunginya. Demikian juga pemimpin-pemimpin bangsa setelah kemerdekaan Indonesia. Soekarno sejak belum menjadi Presiden Indonesia hingga setelah berkuasa, sering berkunjung ke rumah Syeikh Sulaiman ar-Rasuli.

Tokoh ini adalah seorang ulama besar Indonesia yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Beliau adalah golongan Kaum Tua yang sangat gigih mempertahankan Mazhab Syafie. Syeikh Sulaiman menyampaikan pesan bahwa dengan memajukan pendidikan, maka umat Islam akan dapat bangkit dan berkiprah lebih aktif dalam usaha membangun bangsa dan agama. Syeikh Sulaiman berjasa besar dalam mengembangkan paham Sunni Syafi‘i dan tarekat Naqsybandiyah.

Inyiek Canduang wafat pada tanggal 1 Agustus 1970, dan dimakamkan di kampung halaman beliau, di halaman MTI Canduang. Pada hari pengkebumian beliau, diperkirakan tiga puluh ribu umat Islam dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya hadir untuk memberikan penghormatan terakhir pada jasad Beliau, termasuk para pemimpin dari Jakarta, bahkan juga dari Malaysia. Bendera Republik Indonesia dikibarkan setengah tiang selama 3 hari berturut-turut oleh Pemerintah dan rakyat Sumatera Barat, untuk menyatakan rasa turut berbelasungkawa dengan kepulangan al-’Alim al-’Allamah al-Fadhil Maulana Syaikh Sulaiman ar-Rasuli bin Angku Muhammad Rasul al-Minangkabawi, kembali ke haribaan Allah SWT. Semoga Allah sentiasa melimpahkan rahmat dan keredhaan kepadanya.

Sepeninggal beliau pengurus Tarbiyah memutuskan bergabung kepada partai penguasa di zaman orde baru, dan Alhamdulillah sejak reformasi secara organisasi Tarbiyah tidak berafiliasi kepada kepada partai politik manapun walaupun individu-individu dari pengurusnya berpolitik bahkan menjadi caleg pada Pemilu lalu.

Dalam pergerakan pendidkan (tarbiyah) Islam Syekh Sulaiman Arrasuli dibantu oleh adik beliau, Inyiek Habib Arrasuli, seorang saudagar yang cukup disegani di zamannya.

Syekh Sulaiman Arrasuli juga menjadi salah satu pendiri Bank Nasional, bank swasta pertama yang dimiliki pribumi di bumi pertiwi tercinta yang terlikuidasi pada krisis moneter 1998-1999 lalu.

Belum diketahui berapa banyak karya tulis yang dibuat oleh Syekh Sulaiman Arrasuli, namun yang baru diketahui ada 9, antara lain :

1. Dau’u as-Siraj al-Isra wal Mi’raj (Kisah Isra’ Mi’raj Rasulullah)
2. Samarat Al-Ihsan fi waldah sayyid al-Ihsan (Cerita tentang nabi-nabi)
3. Daw’u Al Qulub fi Qissah Yusuf wa Ya’qub (Kisah nabi Yusuf dan Ya’qub)
4. Risalah Al-Aqwal al-Wasitah fi az-Zikri wa ar-Rabitah (Tasawuf)
5. Al-Qaul al-Bayan fi Tafsir Al-Quran (Ilmu Tafsir)
6. Al Jawahir al-Kalamiyah (Usuluddin)
7. Sabil as-Salamah fi Wirdi Sayyid al-Ummah (Kumpulan doa-doa)
8. Kisah Muhammad Arif
9. Perdamaian Agama dan Adat

Syekh Sulaiman Arrasuli 16 kali menikah, dan mempunyai 21 orang anak, 78 orang cucu, serta cicit-cicit dan anak-anak cicit yang tersebar di manca negara.

Beberapa penghargaan yang diterima beliau, antara lain :

1. Bintang Perak Wilhelmina dari Kerajaan Belanda pada tahun 1931
2. Bintang Sakura dari Kerajaan Jepang pada tahun 1943
3. Perintis Kemerdekaan dari pemerintah Republik Indonesia (RI) pada tahun 1966
4. Penghargaan dari NU pada 3 Februari 2008 sebagai salah seorang dari 4 Pemikir Islam di Indonesia, dalam rangka Milad NU ke 82 yang dihadiri oleh Wakil Presiden RI

Tidak banyak penulis mengetahui sejarah hidup Inyiek Habib Arrasuli. Dari beberapa sumber diketahui beliau meninggalkan kampung halaman pada tanggal 17 Agustus 1916 merantau ke manca Negara, dan setelah menjadi saudagar yang berhasil sempat kembali ke kampung halaman membantu perjuangan kakanda tercinta kemudian kembali merantau, namun akhirnya wafat dan dimakamkan di kampong halaman tercinta.

Inyiek Habib 5 kali menikah mempunyai 16 orang anak, 38 orang cucu, serta cicit dan anak cicit yang tersebar di manca Negara.
Selengkapnya..

Syekh Yasin Al Fadani, Sumatra Barat

Ulama Mekkah yang nenek moyangnya berasal dari Padang Sumatra Barat, adalah sosok ulama Indonesia yang namanya Terukir dengan Tinta Emas karena keluasan ilmu yang dimilikinya. Beliau bergelar “Almusnid Dunya” ... (ulama ahli Musnad dunia), keahlian dalam hal ilmu periwayatan hadist ini, maka banyak para ulama-ulama dunia berbondong-bondong untuk mendapat Ijazah Sanad hadist dari beliau. Bahkan Al-‘Allamah Habib Segaf bin Muhammad Assegaf salah seorang ulama dan waliyulloh dari Tarim Hadromaut sangat mengagumi keilmuan Syekh Yasin Al-Padani hingga menyebut Syekh Yasin dengan ”Sayuthiyyuh Zamanihi".

Nama lengkapnya Abu Al-Faidh’ Alam Ad Diin Muhammad Yasin bin Isa Al-Padani, lahir di Mekkah tahun 1916. Sejak kecil Syekh Yasin sudah menunjukan kecerdasan yang luar biasa, Bahkan menginjak usia remaja Syekh Yasin mampu mengungguli rekan-rekannya dalam hal penguasaan ilmu hadist, fiqih bahkan para gurunya pun sangat mengaguminya. Syekh Yasin mulai belajar dengan ayahnya Syekh Muhammad Isa, dilanjutkan ke Ash-Shautiyyah guru-gurunya antara lain Syekh Muhktar Usman, Syekh Hasan Al-Masysath, Habib Muhsin bin Ali Al-Musawa.

Sekitar tahun 1934 terjadi konflik yang menyangkut nasionalisme, direktur Ash-Shautiyyah telah menyinggung beberapa pelajar asal Asia Tenggara terutama dari Indonesia, maka Syekh Yasin mengemukakan ide untuk mendirikan Madrasah Darul Ulum di Mekkah, banyak dari pelajar Ash-Shautiyyah yang berbondong-bondong pindah ke Madrasah Darul Ulum, padahal madrasah tersebut belum lama didirikan. Syekh yasin menjabat sebagai wakil direktur Madrasah Darul Ulum Mekkah, disamping itu Syekh Yasin mengajar di berbagai tempat terutama di Masjidil haram . Materi materi yang disampaikan Oleh Syekh Yasin mendapat sambutan yang luar biasa terutama dari para pelajar asal Asia Tenggara. Syekh Yasin juga dikenal sebagai sosok ulama yang sering minta Ijazah dari para ulama-ulama terkemuka sehingga Beliau memilki sanad yang luar biasa banyaknya.

Dan yang sangat menarik adalah sosok Syekh Yasin Al-Padani adalah kesederhanaannya, walaupun beliau seorang ulama besar namun beliau tidak segan-segan untuk keluar masuk pasar memikul, dan menenteng sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Dengan memakai kaos oblong dan sarung, Syekh Yasin juga sering nongkrong di warung teh sambil menghisap Shisah ( rokok arab). tak ada seorang pun yang berani mencelanya karena ketinggian ilmu yang dimiliki Syekh Yasin. Dan jika musim haji tiba Syekh Yasin mengundang ulama-ulama dunia dan pelajar untuk berkunjung kerumahnya untuk berdiskusi dan tak sedikit dari para ulama yang meminta Ijazah Sanad hadist dari Syekh Yasin. Namun biarpun lewat dari musim haji rumah Syekh Yasin pun selalu ramai dikunjungi para ulama dan pelajar.

Ulama kelahiran abad 20 ini menghasilkan karya-karya yang tak kurang dari 100 judul, yang semuanya tersebar dan menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam, pondok pesantren, baik itu di Mekkah maupun di Asia Tenggara. Susunan bahasa yang tinggi dan sistematis serta isinya yang padat menjadikan karya Syekh Yasin banyak digunakan oleh para ulama dan pelajar sebagai sumber referensi. Diantaranya:

Pertama, Fathul ‘allam Syarah dari kitab Hadist Bulughul Maram
Kedua, Ad Durr Al-Madhud fi Syarah Sunan Abu Dawud
Ketiga, Nail Al-Ma’mul Hasyiah ‘Ala Lubb Al-Ushul Fiqh
Keempat, Al Fawaid Al-Janiyah ‘Ala Qawaidhul fiqihiyyah, dan masih banyak karya beliau lainnya.

Beliau banyak dipuji oleh para Ulama dan para gurunya, seperti seorang ulama Hadist bernama Sayyid Abdul Aziz Al-Qumari menjuluki Syekh Yasin sebagai ulama kebanggaan Haromain ( Mekkah dan Madinah).

Dr. Ali Jum’ah salah satu Mufti Mesir dalam kitab Hasyiyah Al -mam Baijuri A’la Jawahirut Tauhid yang di tahqiqnya mengatakan bahwa dia mendapat Ijazah sanad dari Syekh Yasin Al Fadani.

Syekh M Zainuddin sewaktu mengajar di madrasah Ash-Shautiyyah mengalami kesulitan dan memaksa dirinya membolak balik berbagai kitab-kitab yang relevan, namun setelah terbitnya Kitab Qowaidhul Fiqih karya Syekh Yasin Al-Fadani menjadi ringanlah segala bentuk kesulitan-kesulitan yang biasa ia alami waktu mengajar.

Syekh Yasin juga sering mengadakan kunjungan-kunjungan keberbagai negara terutama di Indonesia yang merupakan asal dari nenek moyangnya, tak sedikit dari para ulama-ulama yang bertemu Syekh Yasin ingin dianggap murid oleh beliau dan minta ijazah sanad hadist. Dan kejadian yang menarik adalah sewaktu Syekh Yasin berkunjung keIndonesia banyak dari para ulama dari berbagai daerah di Indonesai berbondong-bondong menemui Syekh Yasin untuk dianggap murid salah satunya adalah KH Syafi’i Hadzmi. KH. Syafii datang menemui Syekh Yasin Al-Fadani untuk diangkat sebagai murid namun Syekh Yasin menolaknya, bukan karena tidak suka atau ada hal lain. Namun Syekh Yasin Menganggap bahwa dirinya tidak pantas menjadi guru dan beliau mengatakan bahwa dirinyalah yang pantas menjadi Murid KH Syafi”i Hadzami. Syekh yasin menilai bahwa kedalaman ilmu yang dimiliki KH Syafi’i Hadzami tak diragukan lagi. KH Syafi’i Hadzami begitu terkenal namanya di Mekkah sebagai sosok ulama Indonesai yang memiliki keluasan ilmu.

Begitulah sosok Syekh Yasin Al-Padani yang sangat menghargai para ahli ilmu. Dan pernah salah seorang murid Syekh Yasin Al-Fadani, KH Abdul Hamid dari Jakarta, sewaktu beliau dihadapi kesulitan dalam mengajar beliau mendapat sepucuk surat dari Syekh Yasin Al-Fadani, begitu membuka isi surat tersebut ternyata adalah jawaban dari kesulitan yang dihadapinya. KH Abdul hamid pun heran bagaimana Syekh Yasin bisa tahu kesulitan yang sedang beliau hadapi?

Pernah juga salah seorang Murid Syekh Yasin di mekkah menceritakan bahwa dirinya diperintahkan Syekh Yasin untuk dibuatkan teh, setelah teh tersebut diminum dirinya pergi ke Masjidil Haram dan terasa tidak percaya bahwa dirinya melihat Syekh Yasin sedang membawa kitab sehabis mengajar dari masjidil haram padahal baru tadi Syekh Yasin minum teh dirumahnya.

Syekh Yasin Al-Fadani tampil sebagai sosok ulama yang mampu mencetak murid-murid yang sangat mencintai ilmu diantara murid Beliau adalah Syekh Muhammad Ismail Zaini Al-Yamani, Syekh Muhammad Muhktaruddin, Habib Hamid Al-Kaff, KH. Ahmad Damhuri ( Banten), KH Abdul Hamid ( Jakarta), KH Ahmad Muhajirin ( Bekasi), Kh Zayadi Muhajir, Kh Syafi’i Hadzami dan masih banyak murid beliau yang tersebar di pelosok penjuru dunia yang meneruskan perjuangan Syekh Yasin Al-Fadani. Bangsa Indonesia pun boleh berbangga bahwa bangsa kita memilki Ulama-ulama yang sangat terkenal dan diakui ketinggian ilmunya di Mekkah maupun di dunia Sebut saja Syekh Muhammad Nawawi Al Bantani ( Banten), Syekh Yasin Al-Fadani ( Padang), Syekh Ahmad Khatib Sambas ( Kalimantan), Syekh Muhammad Zainuddin Al-Fancuri ( Lombok) dan lain-lain.

Tahun 1990 Syekh Yasin Al-Fadani dipanggil menghadap Allah SWT, seluruh dunia merasa kehilangan sosok ulama hadist yang mumpuni dan menjadi sumber rujukan ilmu. Dan kebesaran Allah ditampakan oleh para hadirin yang hadir dalam prosesi penguburan ulama besar tersebut. Begitu Jenazah dimasukkan ke liang lahat bukan liang yang sempit dan lembab yang tampak tapi liang tersebut berubah menjadi lapangan yang luas membentang disertai dengan semerbak wewangian yang harum dan menyegarkan.
Selengkapnya..