Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Selatan. Tampilkan semua postingan

Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari, Kalimantan Selatan

Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari, Mufti Kerajaan Indragiri Riau adalah salah seorang buyut dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Beliau adalah seorang ulama besar yang hidup pada tahun 1857-1939 M, sangat terkenal tidak saja di Kalimantan Selatan, tetapi juga di daerah Sumatera dan daerah lainnya. Salah satu karya tulisnya yang populer adalah risalah Amal Ma’rifah.

Kitab ini disusun oleh beliau untuk menjadi tuntunan bagi orang-orang yang mencari ilmu-ilmu kesempurnaan di zaman itu, sebab sedikit sekali guru tasawuf yang alim dan mampu mengajarkan tasawuf secara benar. Kitab ini juga sering dijadikan rujukan serta diajarkan oleh ulama atau guru-guru agama di Kalimantan Selatan, dan ada kecenderungan kitab ini diidentikkan dengan kitab al-Durr al-Nafis karya Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, serta dianggap bernuansa ajaran wahdat al-wujud. Terkait dengan hal ini penulis tertarik untuk meneliti kitab ini secara lebih jauh dan mendalam tentang konsep tauhid sufistik dan tasawuf Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari yang terkandung dalam kitabnya tersebut, sehingga penilaian terhadap kitab ini dapat lebih komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pendahuluan

Di tengah masyarakat Kalimantan Selatan, nama Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari cukup dikenal, sebab beliau merupakan salah seorang zuriat ulama besar Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Beliau adalah seorang da’i yang gigih, pendidik yang giat, mufti yang aktif, penerjemah, ulama yang wara’, sufi yang tawadhu, dan juga penyair kondang yang pertama sekali memperkenalkan tasawuf di tanah Melayu.[1] Syair-syair yang beliau susun mampu memukau orang-orang di zamannya, sehingga melalui syair-syair itu beliau juga berdakwah dan berusaha meluruskan aliran kalam dan tasawuf yang cenderung menyimpang, disebabkan para tokohnya yang tidak memiliki dasar agama yang kuat dan hanya bertumpu pada khayalan dan alam kebatinan saja.[2] Selain aktif berdakwah, Abdurrahman Siddiq juga aktif menulis, di antara karyanya yang terkenal adalah Amal Ma’rifah dan Syajaratul Arsyadiyah.[3]

Latar belakang ditulisnya kitab Amal Ma’rifah ini berangkat dari banyaknya orang yang menuntut ilmu ke berbagai wilayah Nusantara guna mencari ilmu-ilmu “kesempurnaan” dalam rangka mencapai martabat seorang muslim yang betul-betul taat kepada Allah SWT. Namun pada saat itu banyak aliran kalam dan tasawuf yang cenderung menyimpang, karena tidak menempatkan porsi syariat secara benar sehingga masyarakat cenderung menjadi fatalis (Jabari), disebabkan para tokohnya yang tidak memiliki dasar agama yang kuat dan hanya bertumpu pada khayalan dan alam kebatinan saja. Untuk itulah kitab Amal Ma’rifah dapat menjembatani dan menjadi arah bagi orang-orang yang mencari kesempurnaan keimanan kepada Allah SWT.

Di daerah Kalimantan Selatan pun diduga ada pandangan masyarakat yang cenderung menyimpang dari ajaran kitab tersebut. Hal ini kemungkinan disebabkan cara orang dalam memahami kitab ini terlalu tekstual dan sepotong-sepotong. Memang di dalam kitab ini ada beberapa ajaran tasawuf yang cenderung menyatukan antara Khalik dengan makhluk, antara lain pernyataan yang menegaskan bahwa semua perbuatan manusia harus dipandang dengan matahati dan matakepala disertai i’tikad bahwa peristiwa yang terjadi di alam ini adalah semata-mata perbuatan Allah.

Pemahaman terhadap materi kitab yang tidak menyeluruh, berakibat banyak pandangan yang menyimpang dari inti kitab ini. Sebagaimana terungkap dalam seminar “Pemantapan Tasawuf di Kalimantan Selatan” tahun 1985 dan seminar “Pemantapan Pengajian Tasawuf Sunni di Kalimantan Selatan” tahun 1986, banyak peserta seminar menilai bahwa kitab beliau tersebut beraliran Wahdat al-Wujud.[4]

Ketidaktahuan dalam memahami ajaran atau gagasan suatu kitab, dapat merusak ketauhidan dan paham tasawuf seseorang. Oleh karena itu, isi kitab tersebut perlu dikaji lebih menyeluruh lagi, sehingga diperoleh kejelasan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan, dan terhindar dari kesalahan dalam memvonis ajaran seorang ulama.

Dalam kitab Amal Ma’rifah nampaknya bahwa Syekh Abdurrahman Siddiq mengemukakan tentang konsep tauhid dan sufistik yang bernuansa Akhlaki/Amali paling jauh sampai kepada wahdat al-syuhud, akan tetapi tidak sampai kepada wahdat al-wujud meskipun ada sejumlah ungkapan yang mendekati ke arah itu.[5] Hal ini karena pada saat itu setting sosial masyarakat banyak diwarnai paham wahdat al-wujud, yang terlihat dengan banyaknya ajaran-ajaran yang mengarah kepada paham tersebut di masyarakat.

Sementara itu, secara umum tulisan yang mengetengahkan sosok Abdurrahman Siddiq al-Banjari sebagai objek kajian cukup banyak, baik yang ditulis dalam bentuk penelitian maupun artikel ilmiah antara lain adalah :

1. Hasil penelitian Bahran Noor Haira berjudul “Kitab Amal Ma’rifah, Sebuah Interpretasi Baru, (1996) mengungkapkan pemahaman baru dan berisikan bantahan terhadap anggapan orang yang menilai bahwa Abdurrahman Siddiq penganut tasawuf wahdat al-wujud.

2. Jamhari Arsyad dalam skripsi sarjananya di Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin tahun 1985 mengangkat judul “Risalah Amal Ma’rifah (Tinjauan Atas Suatu Ajaran Tasawuf)”. Penelitian ini walaupun ditekankan pada tinjauan tasawuf, namun titik tekannya lebih pada kualitas tafsir dan hadits yang digunakan dalam kitab tersebut.

3. Tulisan M. Arrafie Abduh berjudul “Corak Tasawuf Abdurrahmad Siddiq dalam Syair-Syairnya”, yang dimuat dalam Jurnal Penelitian Kutubkhanah, Volume III, diterbitkan oleh IAIN Sultan Syarif Qasim Pekanbaru Riau tahun 2000/2001, mengkaji pemikiran tasawuf Abdurrahman Siddiq al-Banjari lewat syair-syair yang telah beliau tulis.

4. Tulisan Muhammad Nazir berjudul “Kontroversi Sikap Ulama Tentang Eksistensi Ilmu Kalam dan Pandangan Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari”, yang dimuat dalam Jurnal Khazanah IAIN Antasari, Volume II, Nomor 3, Mei-Juni 2003, mengkaji dan mengungkapkan tentang pendapat dari Abdurrahman Siddiq terhadap eksistensi dan urgensi Ilmu Kalam, melalui salah satu karya tulisnya berkenaan dengan masalah tauhid, yang berjudul Aqaid al-Iman.

Dari keempat orang penulis di atas, ternyata belum ada uraian yang secara utuh memuat ajaran tasawuf Abdurrahman Siddiq, baik yang tercermin dalam sejarah hidupnya maupun yang tertuang dalam karya tulis yang dihasilkannya, seperti yang terkandung dalam risalah Amal Ma’rifah. Kemudian, untuk menilai corak pemikiran tasawuf seseorang, harus pula melihat prinsip ajaran yang ia pegang, dalam hal ini keterkaitan antara hakikat, syariat dan tarekat, serta dasar-dasar yang ia pergunakan.

Karena itu melalui penelitian ini, penulis berusaha untuk memaparkan kehidupan Abdurrahman Siddiq, kemudian naskah kitab yang menjadi objek penelitian, ajaran-ajarannya serta konsep tauhid sufistik dan tasawuf yang terkandung dalam risalah Amal Ma’rifah tersebut. Kajian seperti ini sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan secara mendalam.

1. Riwayat Hidup
a. Kelahiran

Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari (selanjutnya disebut Abdurrahman Siddiq) dilahirkan di Kampung Dalam Pagar Martapura Kalimantan Selatan pada tahun 1857 M pada masa pemerintahan Sultan Adam al-Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman al-Mu’tamidillah (1825-1857 M),[6] dengan nama Abdurrahman. Kemudian saat menuntut ilmu di Mekkah, oleh salah seorang gurunya memberi tambahan “Siddiq” pada namanya, sehingga menjadi Abdurrahman Siddiq.[7]

Nama ayahnya adalah H. Muhammad Afif bin Mahmud bin H. Jamaluddin, sedangkan nama ibunya adalah Shafura binti H. Muhammad Arsyad (Pagatan). Silsilah dari pihak ayahnya, bertemu pada Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dari istrinya yang bernama Gowat (Go Hwat Nio) seorang keturunan Cina. Dari istrinya ini Syekh Muhammad Arsyad memiliki enam orang anak, di antaranya adalah Khalifah Haji Zainuddin. Haji Zainuddin kawin dengan Ambas melahirkan tujuh orang anak, satu di antaranya bernama Sari. Sari bersuamikan Mahmud dan melahirkan tujuh orang anak, satu di antaranya adalah Haji Muhammad Afif, orangtua dari Abdurrahman Siddiq.[8]

Silsilah keluarga dari pihak ibu juga bertemu pada Syeikh Muhammad Arsyad dari istrinya yang bernama Bajut.[9] Bajut melahirkan anak yang bernama Syarifah. Syarifah bersuamikan Usman dan melahirkan Muhammad As’ad yang kawin dengan Hamidah dan melahirkan 12 orang anak. Salah satu di antara anak Muhammad As’ad dan Hamidah bernama Muhammad Arsyad. Muhammad Arsyad beristrikan Ummu Salamah dan melahirkan tujuh orang anak, satu di antaranya bernama Shafura dan Shafura inilah ibu dari Abdurrahman Siddiq.

b. Zuriatnya

Abdurrahman Siddiq merupakan zuriat kelima dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1770-1812 M), yang urutannya adalah Abdurrahman Siddiq bin Shafura binti Mufti H. M. Arsyad bin Mufti H. Muhammad As’ad bin Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad. Kemudian apabila dilihat dari pihak neneknya, Ummu Salmah, Abdurrahman Siddiq merupakan generasi keempat dari Syekh Muhammad Arsyad, yakni Abdurrahman Siddiq bin Shafura bin Ummu Salamah binti Pangeran Mufti H. Ahmad bin Syekh Muhammad Arsyad sal-Banjari.[10]

Selain punya zuriat ke atas yang bertemu pada Syekh Muhammad Arsyad, Abdurrahman Siddiq juga banyak melahirkan zuriat ke bawah melalui istri-istri yang pernah dinikahinya, yang berjumlah sembilan orang dan anak berjumlah 35 orang.[11]

c. Pendidikannya

Abdurrahman Siddiq sewaktu kecilnya tidak sempat lama diasuh oleh ibunya, sebab di usia baru tiga bulan ibunya Shafura meninggal dunia. Selanjutnya beliau diasuh oleh saudara perempuan almarhum yang bernama Sa’idah, yang dalam masa pengasuhan ini dia tetap dipelihara kakek dan neneknya. Menjelang usia satu tahun, kakeknya yang bernama Mufti H. Muhammad Arsyad bin Mufti H. Muhammad As’ad meninggal dunia. Sejak saat itu hingga dewasa Abdurrahman tinggal dan diasuh oleh neneknya yang bernama Ummu Salamah.

Ummu Salamah adalah seorang perempuan yang berilmu agama dan taat beribadah. Dalam pemeliharaannya inilah Abdurrahman Siddiq diajari membaca Alquran dan setelah menjelang dewasa disuruh belajar kepada guru-guru agama yang ada di Kampung Dalam Pagar.[12]

Sewaktu belajar agama di Dalam Pagar ini, Abdurrahman Siddiq sempat berguru dengan H. Muhammad Said Wali, H. Muhammad Khotib dan Syekh H. Abdurrahman Muda. Seiring dengan usia dewasa, beliau juga aktif berdagang sampai ke pulau Jawa dan Sumatera dan sempat pula menuntut ilmu agama di Padang Sumatera Barat.

Setelah menamatkan pendidikannya di Padang tahun 1882, tidak lama kemudian, yakni tahun 1889 beliau pergi menuntut ilmu ke Mekkah. Ada versi mengatakan beliau berangkat ke tanah suci tahun 1887 dari pulau Bangka Sumatera Selatan yang menjadi tempat kediamannya saat itu.[13]

Di Mekkah ia menuntut ilmu kepada para ulama besar yang membuka halaqah-halaqah pengajian agama di Masjidil Haram. Guru-guru tempatnya belajar di antaranya adalah Syekh Said Bakri Syatha, Syekh Said Babasyid, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani.[14] Selain itu Abdurrahman Siddiq juga giat mengaji agama di halaqah-halaqah yang ada di Masjid Nabawi di Madinah.[15]

Abdurrahman Siddiq tinggal di tanah suci Mekkah dan Madinah selama tujuh tahun, lima tahun menuntut ilmu dan dua tahun mengajar (tahliah) di Masjidil Haram. Sebelum pulang ke tanah air untuk menyampaikan dan mengamalkan ilmu yang diperoleh atas izin dari pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Abdurrahman Siddiq sempat pula mengajar di Masjidil Haram.

Setelah mengabdikan ilmu di Martapura, bersama keluarga dia pindah ke Sapat, Indragiri. Abdurrahman juga mengadakan perjalanan dakwah ke Semenanjung Melayu pada tahun 1911. Di Sapat Indragiri pada tahun 1912 beliau membangun sebuah masjid dan pondok pesantren di tengah-tengah perkebunan kelapa. Di sana selain sebagai guru agama dan muballigh beliau juga dikenal sebagai petani kelapa. Lokasi pesantren tersebut dikenal sebagai kampung Parit Hidayat, yang kemudian berkembang menjadi locus pendidikan di daerah Riau seiring dengan kedatangan para santri dari berbagai pelosok Indragiri.

Abdurrahman Siddiq juga pernah ditawari untuk menjadi Mufti[16] di beberapa tempat. Pertama sewaktu singgah di Betawi ditawari menjadi Mufti Betawi, yang ketika itu dijabat oleh Syekh Said Usman Betawi. Kedua, beliau juga ditawari oleh Sultan Kerajaan Johor menjadi Mufti, namun kedua tawaran itu ditolaknya. Tawaran untuk menjadi mufti di kerajaan Indragiri Riau pun baru diterimanya setelah pihak kerajaan memohon berkali-kali, yang mulai diembannya sejak tahun 1919 sampai wafatnya tahun 1939.

Abdurrahman Siddiq adalah seorang ulama besar yang sangat produktif. Muhammad Arrafie Abduh menyebutnya seorang ulama yang wara’, sufi yang tawadlu’, da’i yang gigih, pendidik yang giat, mufti yang aktif, penterjemah, petani, dan orang yang gigih menghidupkan seni yang bernafaskan nilai-nilai Islam dan aktif dalam ilmu beladiri Budi Suci dalam rangka menunjang suksesnya dakwah.[17] Karya-karya Abdurrahman semuanya ditulis dalam bahasa Melayu dengan huruf Arab Melayu,[18] dan umumnya berkenaan dengan masalah agama, antara lain adalah :

1. Fathul Alim, kitab tentang Ilmu Tauhid diterbitkan 28 Sya’ban 1347 H/8 Februari 1929 M
2. Aqaid al-Iman, kitab tentang Ilmu Tauhid diterbitkan 18 Sya’ban 1355 H/2 Nopember 1936 M, penerbit Mathba’ah Ahmadiyah, Singapura
3. Asror al-Shalat min Uddah Kutub al-Mu’tamadah, kitab Fiqih yang menerangkan rahasia-rahasia shalat, diterbitkan bulan Zulqaidah 1349 H/2 April 1931.
4. Risalah Amal Ma’rifah, ditulis tahun 1332 H
5. Mau’izhat lin Nafs wa li Amtsali, kitab Tauhid bercorak Tasawuf diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiyah Singapura, tahun 1355 H.
6. Syair Ibarat dan Khabar Qiamat, sebuah buku sastra keagamaan diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiyah Singapura tahun 1344 H.
7. Kitab al-Faraid, sebuah Kitab Fiqih tentang kewarisan, diterbitkan oleh Mathba’ah al-Ikhwan Singapura tahun 1338 H.
8. Majmu’ al-Ayat wa al-Hadits fi Fadoli al-Ilmi wa al-Ulama wa Al-Muallimin wa al-Mustami’in li Khadim al-Thalabat, sebuah buku kumpulan ayat dan hadits tentang kelebihan ilmu dan ulama, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiyah Singapura tahun 1346 H.1
9. Risalah Syajarah al-Arsyadiyah dan Risalah Takmilah Qaul al-Mukhtashar fi Alamat al-Mahdi al-Muntazhar, risalah yang berisi silsilah keturunan Syeikh Arsyad, tanda-tanda hari kiamat dan kedatangan Imam Mahdi, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiyah Singapura tahun 1336 H.
10. Kumpulan Khutbah, sebuah kitab berbahasa Arab yang berasal dari kumpulan Khutbah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan diterjemahkan oleh Abdurrahman Siddiq, diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiyah Singapura tahun 1938 M.

2. Gambaran Umum Risalah Amal Ma’rifah
a. Keadaan Naskah

Nama lengkap kitab ini adalah Risalah Amal Ma’rifah Mengesakan Allah Ta’ala Yang Dinukilkan Dari Pada Kitab Tasawuf Dengan Ikhtisar oleh Hamba Abdurrahman Siddiq Banjari. Kitab ini ditulis dengan menggunakan bahasa Arab Melayu.[19] Disusun dan selesai ditulis pada bulan Rabiul Awwal tahun 1332 H dan pertama kali dicetak tahun 1347 H atas inisiatif dari H. Abdul Hamid, yang merupakan menantu Abdurrahman Siddiq. Kemudian, kitab ini ditulis dengan copy baru dan tulisan seorang khathtath bernama Muhammad Nafis Abdul Razak tahun 1391 H.[20]

Kitab ini sudah dicetak oleh beberapa percetakan atau penerbit, oleh karena itu kemungkinan tingkat ketebalannya relatif berbeda antara satu cetakan dengan cetakan lain. Seperti terbitan Mathba’ah Al-Ahmadiyah Jalan Sultan Nomor 82 Singapura, bertahun 1347 H (1929 M), cetakan keempat tebalnya adalah 32 halaman. Cetakan dan diterbitan Toko Buku Hasanu Banjarmasin tahun 1405 H/1984 M, dengan format yang agak tebal menggunakan kertas putih. Sedangkan cetakan dan terbitkan Toko Kitab Beirut Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah, kitab Amal Ma’rifah disertai dengan penjelasan, dengan judul “Ini Risalah Amal Ma’rifah Beserta Taqrir”, tebalnya 89 halamannya. Orang yang mensyarah kitab ini bernama Mahmud Siddiq, dia adalah anak dari Abdurrahman Siddiq. Walau tidak disebutkan waktu dan tanggal penerbitan, namun penyelesaian pensyarahannya pada tanggal 5 Desember 1979 M. Di samping itu kitab ini juga pernah dicetak oleh penerbit Darul Ihya Kutubil Arabiyah Surabaya.

Jadi paling tidak kitab ini pernah dicetak oleh empat penerbit, yaitu Mathba’ah al-Ahmadiyah Singapura, Tolo Buku Hasanu Banjarmasin, Darul Ihya Surabaya, dan Toko Buku Beirut Barabai. Oleh karena itu kitab ini cukup tersebar luas diberbagai daerah bahkan negara, khsususnya di kawasan Asia Tenggara, seperti di Singapura, Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Thailand dan Birma.[21]

Ada kalangan yang menganggap kitab Amal Ma’rifah ini merupakan ikhtisar dari ajaran tasawuf yang ditulis oleh Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dalam kitabnya Al-Durr al-Nafis. Akan tetapi bila melihat judul kitab Amal Ma’rifah ini, maka Abdurrahman Siddiq tidak hanya mengikhtisarkan dari satu kitab saja, melainkan beliau mengatakan risalah ini dinukilkan dari beberapa kitab tasawuf, di mana salah satu kitab tasawuf yang dijadikan rujukan dalam menyusun risalah tersebut adalah kitab al-Durr al-Nafis. Tepatnya, kitab Amal Ma’rifah ini merupakan kitab tasawuf yang ada kemiripan dengan kitab al-Durr al-Nafis. M. Laily Mansur mengatakan, kitab ini sudah menjadi pegangan sebagian guru-guru tasawuf di samping kitab al-Durr al-Nafis yang disusun oleh Syekh Muhammad Nafis dan kitab-kitab tasawuf berbahasa Arab Melayu lainnya. Atau ajaran tasawuf yang termuat dalam kitab al-Durr al-Nafis ikut memberi pengaruh terhadap ajaran tasawuf dalam kitab Amal Ma’rifah.[22]

b. Isi Kandungan Risalah Amal Ma’ifah

Walaupun teks risalah Amal Ma’rifah tidak disusun dengan sistematika yang lebih tegas sebagaimana kitab-kitab kontemporer, namun di dalamnya juga memuat beberapa hal yang cukup sistematis, meliputi: pengertian syariat, tarekat dan hakikat, konsep pengesaan Allah dengan af’al-Nya, asma-Nya, sifat-Nya, dan zat-Nya.

Sesuai dengan pernyataan Abdurrahman Siddiq bahwa kitab ini dinukil dari sejumlah kitab tasawuf, maka di dalamnya diakui pula adanya sejumlah tokoh sufi yang diikuti ajarannya atau dijadikan dasar oleh Abdurrahman Siddiq dalam menguraikan pendiriannya.

3. Konsep Tauhid Sufistik dan Tasawuf Abdurrahman Siddiq

Sebelum berbicara tentang tauhid dan tasawuf, Abdurrahman Siddiq telah lebih dahulu mengemukakan kedudukan syariat, tarekat, hakikat dan ma’rifat. Keempat unsur ini memang penting bagi keagamaan seseorang dan tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Beliau sudah mengaskan, syariat tanpa hakikat hampa dan hakikat tanpa syariat batil sebagaimana pendapat Syekh Abdul Qadir Jaelani yang menyatakan bahwa “tiap-tiap hakikat yang tidak meneguhi akan dia oleh syariat, maka itu adalah zindik”.[23]

Ungkapan-ungkapan ini boleh dikatakan merupakan kata kunci dalam bertasawuf, sehingga kelompok dan ajaran tasawuf mana saja bila mengabaikan syariat maka itu sesat. Hal ini sekaligus merupakan penegasan dan penolakan Abdurrahman Siddiq terhadap adanya kecenderungan sebagian golongan di masa itu yang ingin menempuh jalan hidup bertasawuf, tapi mengabaikan syariat. Penegasan Abdurrahmnan Siddiq ini sejalan dengan pendapat tokoh sufi Abu Yazid al-Bustami yang menyatakan bahwa:

Artinya: “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi karamat sampai ia bisa terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya. Kecuali dia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama serta menunaikan segala kewajiban syariatnya secara baik.

Seseorang baru bisa dekat, dan menjadi wali Allah bila tetap rajin beramal dan beribadah, atau menjalankan syariat dengan sebaik-baiknya sebagaimana yang dikatakan oleh Ma’ruf al-Karakhi berikut ini:

Artinya: “Jauhilah olehmu keinginan untuk meninggalkan amal ibadah, karena amal ibadah itulah yang akan mendekatkan kamu kepada Tuhanmu. Kemudian ada yang bertanya : Apakah amal ibadah itu? Jawab beliau : Beristiqomah untuk taat kepada Tuhan, berkhidmat dan memberi nasihat kepada kaum muslimin”.

Melalui kitab Amal Ma’rifahnya tersebut dan juga karya-karyanya yang lain, Abdurrahman Siddiq berusaha meluruskan aliran tauhid dan tasawuf yang cenderung menyimpang. Abdurrahman Siddiq berusaha meluruskan semua ini dengan mengacu kepada ayat-ayat dan hadits yang beliau anggap relevan serta pendapat para ulama sufi yang diakui ketokohannya.

Dalam rangka bertauhid mengesakan Allah, Abdurrahman Siddiq berusaha melihat tauhid dari sisi yang lebih mendalam, tidak sekadar tauhid Uluhiyyah dan Rububiyah yang dikenal oleh kalangan awam dan menengah. Beliau mengajarkan tauhid sufistik dalam empat macam, yaitu tauhid al-Af’al, tauhid al-Asma, tauhid al-Sifat, dan tauhid al-Zat.

a. Tauhid al-Af’al

Tauhid atau Wahdaniyat af’al, beliau merumuskan perbuatan manusia dalam hubungannya dengan perbuatan Tuhan. Bahwa semua perbuatan manusia baik yang positif berupa iman dan taat maupun perbuatan yang negatif berupa kafir dan maksiat, baik perbuatan itu bersifat mubasyarah, maupun tawallud, kesemuanya dalam pandangan mata hati adalah perbuatan Allah semata. Bila hal ini sudah diyakini secara haqqul yaqin, barulah seseorang hamba mendapat ma’rifat dalam wahdaniyat af’al dengan Allah. Pendapat demikian sepintas lalu meniadakan perbuatan makhluk, sehingga terkesan perbuatan makhluk itu tidak ada, yang ada hanya perbuatan Allah. Dasar yang digunakan oleh Abdurrahman Siddiq dalam mengajarkan wahdaniyat af’al ini antara lain adalah surah ash-Shafaat ayat 96:

Artinya: “Padahal Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu, karenanya sembahlah Dia dan esakanlah Dia”.

Pendapat ini bila dipahami secara sepotong-potong tentu berbahaya. Orang awam yang tauhid dan syariatnya masih lemah boleh jadi akan enggan mengerjakan amal kebaikan, atau bahkan berani melakukan perbuatan jahat, karena beranggapan kedua sisi perbuatan itu berasal dari Allah juga. Jika Allah tidak menghendaki, tidak akan terwujud perbuatan baik dan jahat itu. Tetapi bagi orang yang keberagamaannya sudah mantap, hal demikian tidak jadi masalah, karena Abdurrahman Siddiq sendiri sudah menyediakan kata kuncinya, yaitu hakikat tanpa syariat itu batil, atau hakikat tanpa syariat zindik. Kemudian apabila syariat diteliti, maka tidak satupun ditemui ajarannya yang menyuruh mengabaikan amal kebaikan (ma’ruf) dan menyuruh mengerjakan kejahatan (munkar).

Tidak hanya itu, syariat juga memberi tempat kepada akal untuk menilai suatu perbuatan tergolong ma’ruf dan munkar. Abdul Qadir Jaelani mengatakan: “Artinya, segala sesuatu yang bersesuaian dengan Al-Qur’an, hadits dan akal sehat disebut ma’ruf dan segala sesuatu yang bertentangan dengan ketiganya disebut munkar”. [26]

Jadi perbuatan (af’al) hamba yang baik dan buruk dapat diukur dengan syariat, yang bersumber dari Alquran, hadits dan akal (ra’yu). Akal di sini adalah hasil ijtihad manusia yang juga dapat dijadikan landasan hukum sesudah Alquran dan hadits, meliputi ijma’, qiyas, istihsan, maslahat- mursalah, urf, dan lain-lain.[27]

Karenanya tidak masuk akal bila syariat menyuruh berbuat yang munkar atau melarang yang ma’ruf. Disebabkan syariat Islam sejalan dengan akal, maka pasti perintah syariat adalah yang ma’ruf dan yang dilarangnya adalah yang munkar. Dengan demikian, walaupun pada dasarnya Allah yang menciptakan manusia dan semua af’alnya (wahdaniyat af’al), namun tidaklah pantas menyandarkan perbuatan yang munkar kepada Allah atau sebagai perbuatan Allah. Yang benar adalah bahwa perbuatan baik (ma’ruf) lahir atas hidayah Allah dan sebaliknya perbuatan jahat (munkar) akibat kebodohan manusia itu sendiri.

Artinya: “Apapun yang kamu peroleh hai manusia, berupa kebaikan maka itu berasal dari Allah dan apapun yang menimpamu berupa keburukan atau bencana, maka itu dari dirimu sendiri karena melakukan hal-hal yang mengundang datangnya bencana itu”.

Pendapat ini bagi Abdurrahman Siddiq dimaksudkan agar manusia tidak tergelincir kepada akidah Qadariyah bahwa setiap perbuatan manusia adalah karena kudrat manusia itu sendiri dan memberi bekas atau sebaliknya tergelincir ke dalam akidah Jabariyah yang meyakini semua perbuatan baik dan buruk berasal dari Allah, sedangkan usaha dan ikhtiar manusia tidak memberi bekas seperti halnya bulu yang berterbangan ditiup angin.[28]

Selain itu konsep wahdaniyat af’al ini oleh Abdurrahman Siddiq juga dimaksudkan untuk mewujudkan tasawuf akhlaki pada hamba, yaitu terlepasnya mereka dari sifat syirik khafi, ujub, riya, sum’ah dan lainnya.[29] Sehingga dengan meyakini wahdaniyat af’al, manusia akan terhindar dari sifat riya dan ujub, misalnya merasa dirinya hebat karena rajin beribadah atau alim, mampu melakukan apa saja pebuatan baik. Sekiranya manusia tidak meyakini wahdaniyat af’al-Nya Allah, bisa jadi ia akan riya, ujub, sum’ah dan sifat tercela yang lainnya karena merasa hebat dengan perbuatannya serta merasa ia sendiri yang kuasa melakukan semua itu.

Jadi wahdaniyat-Nya Allah pada af’al yang diajarkan oleh Abdurrahman Siddiq punya dua muara. Pertama meluruskan akidah agar tetap berada di jalur Ahlussunah wal Jama’ah dan tidak cenderung kepada Qadariyah atau Jabariyah sebagimana ditekankan dalam pendahuluan kitabnya,[30] kedua menumbuhkan tasawuf amali agar pada diri manusia terhindar dari sifat-sifat tercela.

Pendapat Abdurrahman Siddiq tentang tauhid al-Af’al ini, bila diteliti rujukannya agaknya cenderung kepada pendapat Junaid al-Baghdadi, yang membagi tauhid untuk awam dan untuk orang khawwas. Berkenaan dengan tauhid khawwas menurut beliau adalah bila seseorang mampu mengesakan Allah dengan keyakinan bahwa manusia itu hanya laksana bayang-bayang di hadapan Allah, segala yang berlaku pada aktivitas, perbuatan manusia adalah ketentuan yang berlaku atas kuasa Allah, karena dalam pengesaan Allah itu manusia telah fana dari dirinya dan dari segala yang lainnya, dengan memandang kepada hakikat wujud dan keesaan Allah. Hilang lenyap perasaan indrawi manusia dan perbuatannya, sebab yang berlaku hanyalah af’al dan kehendak Allah saja dan eksistensi manusia itu seperti tidak ada.[31]

Dengan demikian pada aspek wahdaniyat af’al ini, Abdurrahman Siddiq tidaklah mengajarkan wahdat al-wujud (tauhid wujudi), tapi lebih kepada wahdat al-syuhud (tauhid syuhudi).[32] Hal ini karena kesatuan af’al yang berasal dari Allah itu hanyalah pada hakikat dan pada pandangan batin, tanpa mengenyampingkan af’al atau usaha dan ikhtiar manusia. Sebab kewajiban manusia menjalankan syariat bagi Abdurrahman Siddiq tidak bisa ditawar-tawar.

b. Tauhid al-Asma

Menurut Abdurrahman Siddiq, tauhid (wahdaniyat al-Asma) adalah meyakini dengan pandangan mata hati bahwa tiada sekali-kali yang ada di alam ini memiliki nama, kecuali pada hakikatnya zat Allah saja, atau yang wujud dan punya nama hanya Allah saja. Segala nama yang ada di alam ini hanya zahir, karena tiap-tiap asma itu menuntut akan wujud musamma. Artinya yang wujud dan punya nama Allah saja dan wujud segala alam ini hanya khayal dan sangkaan saja serta nisbah kepada wujud Allah, AsmaNya itu kembali kepada wujud-Nya :

Artinya: “Maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah”.

Bila seseorang sudah musyahadah akan Esanya Allah pada asma, maka bila melihat ada orang yang pemurah, dikembalikanlah kepada Allah bahwa hanya Dia Yang Rahman. Bila melihat orang kaya, Allah jualah yang Maha Kaya (Ghani), demikian seterusnya pada qiyasan-qiyasan yang lain.[33]

Himpunan sekalian asma itu ada dua. Pertama jami’, artinya menghimpun sekalian mazhar pada asma, yang diistilahkan dengan:

Artinya: “Pandang yang banyak pada satu asma, maksudnya sekalian alam ini pada dasarnya dari Allah jua”.

Kedua ma’ani, menegahkan, yaitu tertegahnya sekalian mazhar mempunyai nama. Terbitnya dari Allah juga, yang diistilahkan dengan:

Artinya: “Pandang yang satu pada yang banyak, yakni permulaannya dan kesudahannya pada Allah jua.”

Jadi dalam wahdaniyat asma ini, muslim melihat segala yang di alam ini dari Allah juga berasalnya dan kepada Allah pula kembalinya.

Ajaran ini boleh jadi asal muasalnya berupa pandangan serba Tuhan (Panteisme). Menurut Harun Nasution, Panteisme berarti seluruhnya Tuhan, bahwa seluruh kosmos ini Tuhan. Semua yang ada dalam keseluruhannya ialah Tuhan dan Tuhan ialah semua yang ada dalam keseluruhannya. Benda-benda yang ditangkap oleh pancaindra adalah bagian dari Tuhan. Tuhan adalah immanent, berada dalam alam, bukan di luar. Karena seluruh kosmos ini satu, maka Tuhan dalam Panteisme juga satu, hanya menurut Panteisme Tuhan mempunyai bagian-bagian. Alam yang dilihat oleh panca indra hanya ilusi atau khayal saja, yang hak dan yang ada itu hanya Tuhan.[36]

Dilihat dari pengertian Panteisme di atas, maka nampak bahwa wahdaniyat al-Asma yang diajarkan oleh Abdurrahman Siddiq memang agak identik. Namun, wahdaniyat as-Asma yang diajarkan ini juga hanya ada dalam penyaksian batin (syuhudi), sehingga beliau mengajarkan syuhud al-katsrah fi al-wahdah dan syuhud al-wawdah fi al-katsrah. Pendapat ini agaknya dipengaruhi oleh beberapa pendapat, diantaranya Abu Bakar al-Syibli dan Imam al-Ghazali.

Al-Syibli pernah mengatakan, “Aku tidak pernah melihat sesuatu terkecuali Tuhan”. Sufi yang menganut pendapat demikian akan mengalami penghayatan wahdat al-syuhud dan tenggelam dalam mabuk cinta (rapture to love) kepada Allah. Apa saja yang dipandangnya tampak sebagai Tuhan.[37] Sementara dalam pandangan al-Ghazali wahdaniyat al-Asma ini berada dalam tingkatan tauhid martabat ketiga. Menurut al-Ghazali, pada martabat ini seseorang melihat segala yang banyak dalam alam ini pada hakikatnya terbit dari yang satu yaitu Allah. Tauhid tingkat ini juga disebut tauhid ahl al-kasyf atau tauhid martabat muqarrabin, sebab seorang sufi melakukan musyahadahnya dengan jalan kasyf. Orang yang mencapai tauhid ini mampu menyaksikan keesaan Tuhan dengan kasyf melalui perantaraan nur al-Haqq.[38]

Dengan demikian, ajaran tauhid al-Asma yang dikemukakan oleh Abdurrahman Siddiq sangat boleh jadi mengacu kepada pendapat al-Syibli dan al-Ghazali, yaitu wahdat al-syuhud. Walaupun ada kemiripan dengan Panteisme, kemungkinan itu hanya faktor kebetulan saja, sebab Abdurrahman Siddiq tidak mencantumkan pendapat para filosof di luar Islam sebagai acuan pendapatnya. Tauhid al-Asma ini juga bertujuan untuk memantapkan tauhid itu sendiri serta mencegah dari mengagumi sesuatu yang lain di luar Allah. Misalnya ketika melihat orang yang kaya ia tidak akan silau, sebab hanya Allah yang Maha Kaya dan Allah pulalah yang memberikan kekayaan pada orang tersebut.

Pada sisi lain, orang yang sampai pada tauhid al-Asma ini tidak lagi mementingkan harta benda dunia dengan berbagai nama ini dan tidak pula risau atau iri dengan orang yang memilikinya, sebab semuanya telah mampu dikembalikannya kepada Asma-Nya Allah.

c. Tauhid al-Sifat

Dalam wahdaniyat sifat, Abdurrahman Siddiq mengajarkan hanya Allah yang Esa pada segala sifat; dalam kudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar, kalam dan sebagainya. Tidak ada zat lain yang punya sifat seperti sifatnya Allah. Kalaupun ada makhluk punya sifat itu hanya majaz, hakikatnya hanya sifat Allah.

Dengan memiliki dan meyakini wahdaniyat sifat ini, seorang hamba akan mampu mencapai maqam fana fillah dan baqa bisifatillah. Hamba akan beroleh ma’rifat dan Allah akan membukakan rahasia sifatNya yang mulia kepada hamba.

Pandangan demikian juga timbul karena penglihatan syuhudi, bukan dalam realitas. Jadi tidak dapat dikatakan bahwa Abdurrahman Siddiq menghilangkan eksistensi makhluk dan khaliq. Pengarang hanya menekankan tauhid al-Sifat ini pada segi perasaan, zauqiyah. Orang yang mencapai tauhid jenis ini merasakan mereka kehilangan diri dan sifat-sifat mereka dan merasa menyatu dalam sifatNya Tuhan.

Wahdaniyat sifat yang dikemukakan oleh Abdurrahman Siddiq ini agaknya juga dipengaruhi oleh pendapat Junaid al-Baghdadi tentang tauhid orang khawas sebagaimana dikemukakan terdahulu. Puncak dari tauhid ini juga wahdat al-syuhud.[39]

Orang yang berhasil mencapai tauhid al-Sifat ini akan mengantarkannya kepada pengalaman dan penghayatan fana fillah. Fana, ecstasy, ini amat didambakan oleh para sufi. Orang yang mencapainya akan mengalami perubahan-perubahan: Pertama, peralihan moral dari sifat-sifat tercela dengan jalan pengendalian nafsu dan keinginannya. Kedua, lenyapnya kesadaran terhadap apa yang ada di sekeliling, baik pikiran, perbuatan dan perasaan, lantaran terhisap dalam penghayatan pada Tuhan, karena penghayatan hanya tertuju pada sifat-sifat Allah. Ketiga, lenyapnya kesadaran akan keberadaan dirinya.[40]

Jadi orang yang mampu bertauhid sifat ini akan tenggelam perasaan, pikiran dan sifat-sifat dirinya dan semuanya terhisap atau tertuju pada sifat-sifat Tuhan saja. Orang tidak akan merasa ada makhluk yang kuasa, berilmu, berkehendak dan lain-lain, karena pemilik semua sifat-sifat utama hanya Allah saja, sebab hanya Allah yang amat berkuasa atas segala sesuatu.

Namun lebih jauh Abdurrahman Siddiq juga menekankan bahwa seseorang yang mampu meyakini tauhid al-Sifat ini selain beroleh keutamaan-keutamaan di atas, juga akan beroleh ilmu laduni, ilmu yang tidak diperoleh melalui belajar, ilmu yang tidak tergantung pada hapalan dalam kitab. Perolehan ilmu laduni lewat tauhid al-Sifat ini, selain mengacu kepada Alquran juga beliau sandarkan kepada pendapat Abu Yazid Bustami yang berkata kepada ulama zahir (non sufi): “Kamu ambil ilmu hai ulama zahir ilmu yang mati dari orang yang mati dan kami ambil ilmu kami dari Tuhan yang Hidup tiada pernah mati”.[41]

Jadi sandaran segala sifat hanya Allah juga dan manusia hanya memiliki sifat kelemahan, kepada Allah-lah tempat kembalinya semua sifat kesempurnaan.

d. Tauhid al-Zat

Dalam hal wahdaniyat zat, Abdurrahman Siddiq mengajarkan keyakinan bahwa tiada yang maujud di dalam maujud kecuali hanya Allah. Wujud manusia hanya khayal, semuanya akan fana dalam maujud Allah, seperti maujud dalam mimpi, setelah terbangun semua sirna, begitu juga maujud yang lain selain Allah.

Orang yang mampu mencapai tauhid keempat ini akan mampu menyelam dalam laut ahadiyatullah, mabuk dan tidak ingin siuman dari mabuknya. Ketika itu baginya habis fana fillah, hilangnya wujudnya dalam wujudnya Allah.

Paham ini sangat dekat kepada paham wahdat al-wujud dan hulul atau ittihad. Abu Yazid yang menjadi rujukan Abdurrahman Siddiq juga merupakan salah satu tokoh sufi yang cenderung kepada wahdat al-wujud melalui konsep ittihad yang diajarkannya. Saat Abu Yazid syathahat dan mengalami penghayatan ittihad (the unitive state) ia mengatakan: “Aku adalah Engkau dan Engkau adalah Aku”. Dan masih banyak lagi ucapan syathahat lainnya yang menunjukkan Abu Yazid sedang ittihad atau manunggaling kawula Gusti.[42]

Tetapi menurut Abdurrahman Siddiq, semua keyakinan itu haruslah dalam pandangan zauqiyah (perasaan), bukan pandangan qauli dan lafzi, sebab semua pandangan panca indra lemah dan tidak kuasa menembus alam gaib. Hanya orang yang zauq (merasa) yang akan mendapat pengalaman tesebut. Karenanya beliau tetap memegang kepada syuhudul katsrah fil wahdah dan syuhudul wahdah fil katsrah.

Dengan demikian, paham wahdaniyat zat yang dikemukakan oleh Abdurrahman Siddiq, meski sangat dekat dengan ittihad dan wahdat al-wujud, namun beliau menempatkannya dalam wahdat al-syuhud saja. Walaupun mengacu kepada beberapa pendapat Abu Yazid Bustami, namun Abdurrahman Siddiq sendiri tidak pernah mengucapkan kata-kata syathahat, seperti yang pernah diucapkan oleh Abu Yazid Bustami ataupun sufi yang lain. Beliau tetap teguh memperpegangi prinsip bahwa Allah itu tidak sama dengan sesuatu apapun, serta baqanya zat Allah, sedangkan semua makhluk lain akan fana.

Jadi dari dari keempat tingkat tauhid di atas, yakni wahdaniyat af’al, asma, sifat, dan zat yang beliau kenalkan semuanya mengacu kepada pendapat ulama sufi terdahulu seperti pendapat asy-Syibli, al-Baghdadi dan al-Ghazali dengan konsep wahdat al-syuhud. Walau pada tingkat wahdaniyat zat pandangan Abdurrahman Siddiq sangat dekat dengan wahdat al-wujud, namun tetap aspek syuhudi yang ditekankannya. Jadi wahdat itu bukan fakta, bukan pada qauli dan lafzi, tapi pada zauqi saja.

Berdasarkan uraian di atas dapatlah dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Konsep tauhid sufistik menurut Abdurrahman Siddiq merupakan perpaduan antara tauhid dan tasawuf, dengan mengenalkan konsep wahdaniyat af’al, wahdaniyat asma, wahdaniyat sifat dan wahdaniyat zat.

2. Keempat bentuk wahdaniyat ini sarat dengan tasawuf falsafi yang bermuatan wahdat al-syuhud banyak dipengaruhi oleh pendapat Abu Bakar al-Syibli, Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali. Pada wahdaniyat zat, beliau hampir saja mendekati wahdat al-wujud. Namun beliau tetap menekankan bahwa wahdaniyat al-Zat itu hanya pada dimensi zauqi, bukan qauli dan lafzi, sehingga beliau tidak pernah mengucapkan kata-kata syathahat sebagaimana pernah diucapkan Abu Yazid al-Bustami, al-Hallaj atau Ibnu Arabi. Melalui wahdaniyat af’al diharapkan manusia tidak syirik, ujub dan riya dengan af’alnya, karena pada hakikatnya hanya Allah yang memiliki af’al, sebab Allah tidak saja menciptakan manusia tapi juga menciptakan af’al manusia. Melalui wahdaniyat asma diharapkan manusia tidak silau oleh nama dan beragam nama yang ada pada makhluk dan yang dipunyai makhluk, sebab hakikatnya hanya Allah yang mempunyai nama-nama kesempurnaan. Melalui wahdaniyat sifat diharapkan manusia tidak sombong dengan sifat-sifat dan kelebihannya, sebab hanya Allah yang memiliki segala sifat kesempurnaan. Kemudian melalui wahdaniyat zat, diharapkan mata hati manusia menyatu dengan zat Allah, sehingga segala pikiran, perasaan dan perbuatan terkonsentrasi pada zat Allah saja, tapi bukan menyatu dengan Allah dalam bentuk wahdat al-wujud atau manunggal dengan Tuhan.

Berkenaan dengan Pemikiran Tasawuf Syekh Abdurrahman Siddiq (Telaah Atas Kitab Amal Ma’rifah), disarankan hal-hal sebagai berikut :

1. Penulis walaupun berusaha meneliti lebih menyeluruh, mulai dari biografi, keadaan naskah kitab sampai kepada konsep tauhid sufistik dan tasawuf yang terkandung di dalamnya, tidaklah berarti kajian penulis sudah sempurna, sehingga penelitian-penelitian lanjutan tetap diperlukan.

2. Ajaran tauhid Abdurrahman Siddiq memang perlu dipelajari dipahami dan dihayati oleh umat, namun hendaknya terbatas bagi kalangan menengah ke atas saja yang penghayatan tauhid, i’tikad, dan pengamalan syariatnya sudah memadai. Bagi orang awam yang tauhid, i’tikad, dan syariatnya belum matang hendaknya dihindarkan dari mempelajari isi kandungan kitab Amal Ma’rifah ini, sebab dapat berakibat terabaikannya syariat serta terganggunya akidah.

3. Ajaran tauhid yang dikemukakan oleh Abdurrahman Siddiq hendaknya dipahami dalam konteks tasawuf akhlaki dan amali, sehingga dalam menghayati tingkatan-tingkatan tauhid, seseorang tetap konsisten menempuh maqamat-maqamat akhlak tasawuf yang terpuji dan tetap mengutamakan pengamalan syariat. Tegasnya pemahaman tauhid harus secara total dan berintegrasi dengan syariat dan hakikat (tasawuf), sehingga tidak terjadi pengabaian salah satunya.
Selengkapnya..

Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari, Kalimantan Selatan

Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari (atau lebih dikenal dengan nama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710 - meninggal di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun atau 15 Shofar 1122 - 6 Syawwal 1227 H)[1] adalah ulama fiqih mazhab Syafi'i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Beliau hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Beliau mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian.

Beliau adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara.[2]

1. Silsilah keturunan
Beberapa penulis biografi Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, antara lain Mufti Kerajaan Indragiri Abdurrahman Siddiq, berpendapat bahwa ia adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao.

Jalur nasabnya ialah Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin
Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama’ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja’far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.

Masa kecil

Diriwayatkan, pada waktu Sultan Tahlilullah (1700 - 1734 M) memerintah Kesultanan Banjar, suatu hari ketika berkunjung ke kampung Lok Gabang. Sultan melihat seorang anak berusia sekitar 7 tahun sedang asyik menulis dan menggambar, dan tampaknya cerdas dan berbakat, dicerita-kan pula bahwa ia telah fasih membaca Al-Quran dengan indahnya. Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan.

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari mendapat pendidikan penuh di Istana sehingga usia mencapai 30 tahun. Kemudian ia dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut.Hasil perkawinan tersebut ialah seorang putri yang diberi nama Syarifah.

Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Muhammad Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta.

Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya isterinya mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya. Deraian air mata dan untaian doa mengiringi kepergiannya.

Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Di antara guru beliau adalah Syekh ‘Athoillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan al-‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.

Syekh yang disebutkan terakhir adalah guru Muhammad Arsyad di bidang tasawuf, dimana di bawah bimbingannyalah Muhammad Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah.

Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu, timbullah kerinduan akan kampung halaman. Terbayang di pelupuk mata indahnya tepian mandi yang di arak barisan pepohonan aren yang menjulang. Terngiang kicauan burung pipit di pematang dan desiran angin membelai hijaunya rumput. Terkenang akan kesabaran dan ketegaran sang istri yang setia menanti tanpa tahu sampai kapan penentiannya akan berakhir. Pada Bulan Ramadhan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu.

Akan tetapi, Sultan Tahlilullah, seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah. Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya.

Sultan Tahmidullah II menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama "Matahari Agama" yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kesultanan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, sultan pun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang ‘alim lagi wara’. Selama hidupnya ia memiliki 29 anak dari tujuh isterinya.
3. Hubungan dengan Kesultanan Banjar

Pada waktu ia berumur sekitar 30 tahun, Sultan mengabulkan keinginannya untuk belajar ke Mekkah demi memperdalam ilmunya. Segala perbelanjaanya ditanggung oleh Sultan. Lebih dari 30 tahun kemudian, yaitu setelah gurunya menyatakan telah cukup bekal ilmunya, barulah Syekh Muhammad Arsyad kembali pulang ke Banjarmasin. Akan tetapi, Sultan Tahlilullah seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah.

Sultan Tahmidullah II yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya. Sultan inilah yang meminta kepada Syekh Muhammad Arsyad agar menulis sebuah Kitab Hukum Ibadat (Hukum Fiqh), yang kelak kemudian dikenal dengan nama Kitab Sabilal Muhtadin.
4. Pengajaran dan bermasyarakat

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah pelopor pengajaran Hukum Islam di Kalimantan Selatan. Sekembalinya ke kampung halaman dari Mekkah, hal pertama yang dikerjakannya ialah membuka tempat pengajian (semacam pesantren) bernama Dalam Pagar, yang kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kampung yang ramai tempat menuntut ilmu agama Islam. Ulama-ulama yang dikemudian hari menduduki tempat-tempat penting di seluruh Kerajaan Banjar, banyak yang merupakan didikan dari suraunya di Desa Dalam Pagar.

Di samping mendidik, ia juga menulis beberapa kitab dan risalah untuk keperluan murid-muridnya serta keperluan kerajaan. Salah satu kitabnya yang terkenal adalah Kitab Sabilal Muhtadin yang merupakan kitab Hukum-Fiqh dan menjadi kitab-pegangan pada waktu itu, tidak saja di seluruh Kerajaan Banjar tapi sampai ke-seluruh Nusantara dan bahkan dipakai pada perguruan-perguruan di luar Nusantara Dan juga dijadikan dasar Negara Brunai Darussalam.
5. Karya-karyanya

Kitab karya Syekh Muhammad Arsyad yang paling terkenal ialah Kitab Sabilal Muhtadin, atau selengkapnya adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin, yang artinya dalam terjemahan bebas adalah "Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama". Syekh Muhammad Arsyad telah menulis untuk keperluan pengajaran serta pendidikan, beberapa kitab serta risalah lainnya, diantaranya ialah:

Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Duapuluh,
Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang sesat,
Kitab Nuqtatul Ajlan, yaitu kitab tentang wanita serta tertib suami-isteri,
Kitabul Fara-idl, semacam hukum-perdata.

Dari beberapa risalahnya dan beberapa pelajaran penting yang langsung diajarkannya, oleh murid-muridnya kemudian dihimpun dan menjadi semacam Kitab Hukum Syarat, yaitu tentang syarat syahadat, sembahyang, bersuci, puasa dan yang berhubungan dengan itu, dan untuk mana biasa disebut Kitab Parukunan. Sedangkan mengenai bidang Tasawuf, ia juga menuliskan pikiran-pikirannya dalam Kitab Kanzul-Makrifah.
Selengkapnya..

Syekh Muhammad Kasyful Anwar Al Banjari

Sejarah Singkat

Tuan Guru Muhammad Kasyful Anwar Al Banjari dilahirkan di Kampung Melayu pada malam selasa tanggal 4 Rajab 1304 H jam 22.00 malam,dari pasangan H.Ismail bin H. Muhammad Arsyad bin Muhammad Sholeh bin Badruddin bin Kamaluddin dan Hj.Siti binti H.Abdurrahim bin Abu Su’ud bin Badruddin bin Kamaluddin pasangan yang serasi lagi bertaqwa,sejak kecil beliau sudah medapatkan pendidikan di lingkungan keluarga, seperti belajar Al-Qur’an karena pendidikan seperti ini lazim dikalangan masyarakat Banjar pada masa itu, diantara guru gurunya yang juga keluarganya adalah :

~KH.Ismail bin H.Ibrahim bin Muhammad Sholeh bin Khalifah Zainuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
~Syekh Abdullah Khotib bin H.Muhammad Sholeh bin Khalifah Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Setelah melihat kecerdasannya, kakeknya yaitu H. Muhammad Arsyad dan neneknya Hj. Siti Aisyah mengirimnya ke kota suci sumber ilmu Makkatul Mukarramah untuk meneruskan pelajarannya. Pada tahun 1313 H berangkatlah Beliau beserta seluruh keluarganya ke Tanah Suci Mekkah, sesampainya dinegeri Mekkah ia sangat rajin menuntut ilmu baik kepada ayahnya sendiri maupun kepada ulama lainnya, Beliau belajar bahasa arab kepada H. Amin bin Qadhi Haji Mahmud bin Aisyah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari beliau lama menetap di Mekkah, sewaktu dua tahun berada di Mekkah ayah beliau wafat dan dimakamkan di Mekkah dan dimakamkan di Ma’la, saat itu umurnya baru 11 tahun, pada umur 13 tahun ibunya menyusul ayahnya wafat di Mekkah dan dimakamkan di Ma’la sepekuburan dengan bapaknya,setelah itu beliau hanya tinggal bersama kakek dan neneknya yang selalu merawatnya.

Diantara guru guru beliau adalah:

1.Syeikh Umar Hamdan al-Mahrus yang bergelar Muhaddist al-Haramain
2.Syeikh Muhammad Yahya al-Yamani
3.syeikh said bin Muhammad al-Yamani
4.Syeikh Sayyid Ahmad bin Syeikh Sayyid Abu Bakar bin Syeikh Sayyid al-Arif Billah sayyid Muhammad Syata
5.Syeikh Sayyid Ahmad bin Hasan al-Aththas penulis kitab Tadzikirunnas
6.Syeikh Muhammad Ali bin Husein al-Maliki bergelar Sibawaihi karena kealimannya
7.Syeikh Umar Ba Junaid Mufti Syafiiyyah
8.Syeikh Muhammad Sholeh bin Muhammad Ba Fadhal
9.Syeikh Muhammad Ahyad al-Bughuri
10.Syeikh Sayyid muhammad Amin al-Kutbi

Setelah 17 tahun belajar di Mekkah akhirnya pada bulan Rabiul Awwal Tahun 1330 H ia kembali ke Tanah Air, setelah tiba di Tanah air beliau dikawinkan oleh kakek neneknya dengan seorang perempuan sholehah bernama Halimah binti Ja’far pada bulan Syawwal 1330 H pada usia 26 tahun. Beliau dikaruniai anak 6 rang 4 putra 2 putri, setelah menerapkan ilmu selama 20 tahun di kampung halaman pada tahun 1350/1930 M beliau berangkat lagi keTanah Suci bersama istri dan 2 orang anaknya beserta dua orang keponakannya yaitu Anang Syarani dan Muhammad Syarwani Abdan (Bangil) yang nantinya sangat terkenal di Tanah Suci sebagai Dua Mutiara dari Banjar, keberangkatannya kali ini selain untuk memperdalam ilmu agama juga untuk membimbing anak dan kedua keponakannya. Beliau bermukim selama 3 tahun,pada 17 Syafar 1353 H beliau kembali ke Martapura sedang dua keponakanna tetap tinggal di Tanah Suci meneruskan pendidikannya.

Dirumahnya beliau membuka pengajian atas permintaan masyarakat,kemudian pada tahun 1922 M ia tampil memimpin Madrasah Darussalam pada periode ke 3, kepribadian beliau sangat sederhana, tanpa henti beliau mendidik murid muridnya,begitulah kehidupan pribadi seorang ‘alimul jalil ulama yang memegang teguh disiplin ilmu dan kemasyarakatan,ilmu dan amal baginya jalan untuk meningkatkan ketaqwaan, harta tidak boleh memperbudaknya tetapi hartalah yang harus menjadi budaknya untuk menunjang segala amal kita dijalan Allah dan beliau tetap tersenyum walaupun hidup dalam kesederhanaan,bahkan dikatakan masih kekurangan untuk mencukupi keperluannya sehari hari, namun beliau selalu bersikap qanaah (merasa cukup dengan nikmat yang telah diberikan Allah Swt) serta bersikap ikhlas fi sabilillah dalam setiap keaadaan.

Akhirnya pada malam senin pukul 9.45 menit tanggal 18 syawwal 1359 H rohnya yang mulia kembali kepada Rabb nya yang Maha Tinggi dengan tenang dan damai pada usia 55 tahun dan dimakamkan di Kampung Melayu Martapura, Semoga Allah SWT membalas segala amal ibadah beliau dan dikumpulkan dengan Rasulullah Saw dan orang orang sholeh sebelum beliau. amiin.

Kiranya cukup sampai disini riwayat dari guru kita yang mulia Tuan Guru Muhammad Kasyful Anwar Al-Banjari kalau ada kekurangan alfaqir mohon ampun minta redha sebesar besarnya buat saudara saudaraku semua. Semoga oleh Allah Swt kita barataan dimudahkan dalam beribadah kepadaNya dan bisa mengikuti jejak beliau, berkumpul dengan Rasulullah Saw dan Para Nabi, para Wali Allah dan orang orang sholeh guru guru kita di akhirat nanti. Amiiin Ya Robbal Alamin.
Selengkapnya..

KH Muhammad Arifin Ilham Al Banjari

Dalamnya laut bisa diukur, tapi nasib orang siapa yang tahu. Itulah yang dialami KH Arifin Ilham, 34 tahun. Sebagaimana pemuda pada umumnya, ia pun belum tahu akan bekerja di mana dan menjadi apa setelah lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Nasional (Fisipol Unas) Jakarta.

Ternyata, lewat proses gigitan ular, Allah SWT menjadikan anak muda ini memimpin majelis zikir yang jamaahnya kini mencapai ribuan dari segala status. Memimpin majelis zikir, menurutnya, merupakan sesuatu yang tak pernah terbayangkan ketika ia menjadi mahasiswa, meskipun ia pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Darun Najah (Jakarta Selatan) dan Pondok Pesantren As-Syafi'iyah (Jakarta Timur).

Alkisah, pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 8 Juni 1969, ini termasuk seorang penyayang binatang. Di rumah ibu angkatnya di Jakarta, ia banyak memelihara binatamg, antara lain burung hantu, kera, dan ayam kate.

Awal April 1997, ia diberi seekor ular hasil tangkapan warga kampung yang ditemukan di semak belukar. Karena kurang hati-hati Arifin digigit binatang melata ini. Namun, ia tidak menyadari kalau dirinya keracunan. Sewaktu dalam perjalanan dengan mengendari mobil, ia pun merasakan sesuatu yang tidak biasa, tubuhnya terasa panas, meradang, dan membiru.

Melihat keadaan Arifin yang demikian, ibu angkatnya Ny Cut mengambil alih kemudi, menuju rumah sakit terdekat. Namun, beberapa rumah sakit menolak dengan alasan peralatan medis yang tidak memadai. Bahkan sejumlah dokter di beberapa rumah sakit tersebut memvonis, umur Arifin tinggal satu persen. Karena sulitnya mendapatkan pertolongan selama 11 jam, keadaan Arifin makin gawat.

Detak jantungnya melemah. Melihat kondisi anak angkatnya yang makin parah, Ny Cut mencoba mendatangi RS Saint Carolus (Jakarta Pusat). Alhmadulilah pihak rumah sakit menerimanya. Arifin langsung ditempatkan di ruang ICU. Infus pun dipasang di tubuhnya. Untuk membantu tugas paru-paru, jantung, dan hatinya yang telah sangat lemah, dokter memasukkan beberapa batang selang ke mulutnya.

Dengan pertolongan Allah, setelah satu bulan lima hari pihak rumah sakit menyatakan ia telah melewati masa kritis dan memasuki masa penyembuhan. Walaupun kondisinya telah jauh lebih baik, Arifin mengalami perubahan pada suaranya. Menurut analisa dokter, hal ini disebabkan oleh pemasangan beberapa selang sekaligus dalam mulutnya untuk waktu yang cukup lama.

Tapi tidak ada yang mengetahui rencana Allah, justru dengan suaranya itu, Arifin menjadi lebih mudah dikenal para jamaah hanya dengan mendengar suaranya. Seperti diceritakan Arifin, selama masa kritis, ia mendapatkan pengalaman spiritual yang sangat luar biasa. Di alam bawah sadarnya ia merasa berada di sebuah kampung yang sangat sunyi dan sepi.

Setelah berjalan-jalan sekeliling kampung, ditemuinya sebuah masjid, yang kemudian dimasukinya. Di dalam masjid ternyata sudah menunggu tiga shaf jamaah dengan mengenakan pakaian putih. Salah satu jamaah kemudian memintanya memimpin mereka berzikir, mengingat Allah SWT.

Keesokan harinya ia kembali bermimpi. Hanya saja sedikit berbeda. Kali ini ia merasa berada di tengah kampung yang penduduknya berlarian ketakutan karena kedatangan beberapa orang yang dianggap sebagai jelmaan setan. Melihat kehadirannya, para penduduk pun berteriak dan meminta dirinya menjadi penolong mereka mengusir setan-setan tersebut.

Hari berikutnya ia kembali bermimpi. Kali ini ia diminta oleh seorang bapak untuk mengobati istrinya yang sedang kesurupan. Mendengar permintaan bapak tersebut, Arifin bergegas, tapi Allah berkehendak lain. Istrinya ternyata telah meninggal sebelum sempat ditolong Arifin. Berbekal pengalaman-pengalaman gaib yang ia alami, Arifin pun memantapkan hatinya untuk menjadi pengingat manusia agar tidak lupa berzikir.

Banyak kegiatan yang dilakukannya. Salah satu yang paling berkesan adalah memimpin zikir untuk para narapidana di Cipinang. Menurut Arifin, kegiatan ini memberikan dampak yang sangat dalam sehingga banyak di antara narapidana tidak sanggup membendung air matanya, menyesali dosa-dosanya.

Meskipun banyak hujatan, Arifin juga telah melakukan zikir di LP Nusakambangan, yang antara lain juga diikuti oleh Tommy Suharto. Tahun 1998, Arifin mengisi ceramah di sebuah rumah di kawasan Condet, Jakarta Timur. Di sinilah ia bertemu dengan Wahyuniati Al-Waly, seorang muslimah yang taat, yang kemudian menjadi pendampingnya.

Tidak berapa lama setelah pertemuan itu, ia bermimpin di depan Ka'bah dengan Yuni berdiri disampingnya dengan menggunakan baju putih bersih. Dengan penasaran, pagi harinya ia menelpon Abah (panggilan Arifin untuk ayahnya), menanyakan perihal mimpinya. Abahnya mengartikan bahwa Yuni adalah jodoh yang diberikan Allah kepadanya. Maka keduanya pun naik ke pelaminan pada 28 April 1998.

Yuni yang ternyata adik kelasnya di Fisipol Unas menilai sosok suaminya sebagai seorang yang baik, romantis, penyayang, pintar, dan kuat landasan agamanya. Ketika ditanya jadual acaranya yang demikian padat, Arifin dengan merendah menyatakan, Alhamdulillah hingga kini ia masih diberikan kesempatan untuk selalu shalat tahajud tiap pukul tiga pagi hingga subuh.

Sekalipun ia tidur hanya sekitar tiga jam, tapi saat berada di kendaraan menuju tempat acara zikir ia menyempatkan diri untuk tidur di mobil. Menurut Arifin, acaranya sudah terisi hingga akhir Agustus mendatang. Ada satu hal yang dipegang oleh dai kelahiran Banjarmasih ini, yakni memegang janji.

Karenanya, tiga kali ia terpaksa menolak permintaan Sekretariat Negara agar berdakwah bersama Presiden Megawati. ''Saya tidak mau kecewakan masyarakat yang telah jauh hari menunggu-nunggu kedatangan saya,'' ujarnya. Arifin mengaku, menjelang pemilu 2004 ini sudah ada parpol yang memintanya agar ia berkampanye untuk partai tersebut. Bahkan ada dari partai besar, yang menjamin bahwa ia nantinya paling sedikit akan menjadi anggota DPR.

''Tapi, saya ingin sebagai rantai (tali) tasbih, yang dapat menampung semua umat,'' ujar dai yang tinggal di Depok sejak 1999 ini. Sikapnya untuk selalu menjadi 'rantai tasbih' itu ternyata 'berbuah manis'. Setiap acara zikir yang dipimpinnya selalu dipadati jamaah dari berbagai kalangan dan status. Minimal, pemandangan ini tampak ketika ia memimpin zikir di Masjid Al-Amr Bittaqwa di Perumahan Mampang Indah II, Depok, Ahad (4/5) lalu.

Sejak pukul 06.00 pagi, masjid yang hanya bisa menampung 500 orang itu sudah dipadati jamaah. Mereka yang hadir belakangan lalu ditampung di tenda-tenda sekitar masjid. Menjelang pukul 08.00, yang tampak adalah lautan manusia berwarna putih warna kopiah dan busana sebagian besar jamaah. Tepat pukul delapan, Arifin datang dan langsung menuju panggung di depan masjid.

Ia didampingi Presiden Partai Keadilan Dr Hidayat Nurwahid, mantan KASAD Jenderal (Purn) Harsono, Habib Abdurahman Semith yang datang bersama belasan kyai dari Semarang, ketua Jamiatul Muslimin Indonesia Habib Husein Alhabsji, dan sejumlah ulama lainnya. Berikutnya, selama dua jam, ribuan jamaah Majelis Zikir Az-Zikra, nama yang diberikan Arifin untuk majelisnya, hanyut dan histeris dalam ritual zikir.

Begitu syahdunya acara zikir ini, tidak peduli pengusaha, artis, sutradara, dan berbagai profesi yang datang ke acara itu dari berbagai tempat di Tanah Air, meneteskan air mata. Bahkan banyak yang terisak-isak. Arifin sendiri terus menyeka air matanya yang terus menerus mengalir dengan dua saputangan yang dibawanya.

Namun, menurut Arifin, tangis bukan termasuk ritual zikir. Zikir pun, katanya, tidak juga sekadar duduk dan memanjatkan puja-puji kepada Allah SWT. ''Yang terpenting dari zikir adalah, di dalam hati harus selalu ingat dan merasakan kehadiran Allah SWT,'' jelas ayah dua anak ini. Arifin membagi zikir meliputi empat hal.

Pertama, zikir hati senantiasa mengingat Allah dalam hati. Kedua, zikir akal, yang berarti mampu menangkap bahasa Allah dalam gerak alam semesta. Ketiga, zikir lisan, yang berupa ucapan asma Allah terjemahan dari kata hati. Keempat, zikir amal yang merupakan aplikasi takwa. Sedangkan anjurannya agar para jamaah zikirnya berbusana putih-putih, Arifin mengemukakan filosofinya. Putih, kata alumnus Fiskipol Unas ini, adalah warna yang melambangkan kesucian dan warna yang sangat disukai Rasulullah SAW.alwi shahab/dokumentasi republika/Mei 2003

Biodata

Nama : H Muhammad Arifin Ilham
Kelharian : Banjarmasin, 8 Juni 1969
Pendidikan : - Ponpes Daarul Najah (1983-1987) - Ponpes Asyafi'iyah (1987 - 1989) - Fisipol Unas Pengalaman
Organisasi: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
Prestasi : - Juara Lomba Pidato Bahasa Inggris ASEAN - Juara bulutangkis antar-Ponpes se Jabotabek
Istri : Wahyuniati Al-Waly (28 tahun).
Selengkapnya..

KH Idham Chalid, Cipete Jakarta

KH. Dr. Idham Chalid
Lahir : Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921
Alamt: Jalan Fatmawati,Komp.Darul Ma’arif Jakarta Selatan
Jabatan Penting :

Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU)
Ketua Partai Masyumi
Pendiri/Ketua Partai NU
Pendiri/Ketua Partai Persatuan Pembangunan ( PPP)
Wakil Perdana Menteri Indonesia
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan MPR
Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Kabinet Pembangunan I 1968-1973)
Menteri Sosial

PENGHARGAAN: Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo, Mesir

BIOGRAFI

KH Idham Chalid kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921, seorang ulama dan politikus pelaku filosofi air. Dia seorang tokoh Indonesia yang pernah menjadi pucuk pimpinan di lembaga eksekutif, legislatif dan ormas (Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR, dan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama). Juga pernah memimpin pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP.

Laksana air, peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo, ini seorang tokoh nasional, yang mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dan akomodatif dengan tetap berpegang pada tradisi dan prinsip Islam yang diembannya. Demikian pula sebagai politisi, ia mampu melakukan gerakan strategis, kompromistis, bahkan pragmatis. Dengan sikap dan peran ganda demikian, termasuk kemampuan mengubah warna kulit politik dan kemampuan beradaptasi terhadap penguasa politik ketika itu, ulama dari Madrasah Pondok Modern Gontor, ini tidak kuatir mendapat kritikan dan stereotip negatif sebagai tokoh yang tidak mempunyai pendirian, bunglon bahkan avonturir.

Peran ganda dan kemampuan beradaptasi dan mengakomodir itu kadang kala membuat banyak orang salah memahami dan mendepksripsi diri, pemikiran serta sikap-sikap socio-polticnya.

Namun jika disimak dengan seksama, sesungguhnya KH Idham Chalid yang berlatarbelakang guru itu adalah seorang tokoh nasional (bangsa) yang visi perjuangannya dalam berbagai peran selalu berorientasi pada kebaikan serta manfaat bagi umat dan bangsa.

Dengan visi perjuangan seperti itu, pemimpin NU selama 28 tahun (1955-1984), itu berpandangan tak harus kaku dalam bersikap, sehingga umat selalu terjaga kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi situasi politik di masa demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila, tidak jarang adanya tekanan keras dari pihak penguasa serta partai politik dan Ormas radikal.

Sebagaimana digambarkannya dalam buku biografi berjudul “Idham Chalid: Guru Politik Orang NU” yang ditulis Ahmad Muhajir (Penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, Cetakan Pertama, Juni 2007) bahwa seorang politisi yang baik mestilah memahami filosofi air.

“Apabila air dimasukkan pada gelas maka ia akan berbentuk gelas, bila dimasukkan ke dalam ember ia akan berbentuk ember, apabila ia dibelah dengan benda tajam, ia akan terputus sesaat dan cepat kembali ke bentuk aslinya. Dan, air selalu mengalir ke temapat yang lebih rendah. Apabila disumbat dan dibendung ia bisa bertahan, bergerak elastis mencari resapan. Bila dibuatkan kanal ia mampu menghasilkan tenaga penggerak turbin listrik serta mampu mengairi sawah dan tanaman sehingga berguna bagi kehidupan makhluk di dunia. (Hal 55)

Sebagai ulama dan politisi pelaku filosofi air, Idham Chalid dapat berperan sebagai tokoh yang santun dan pembawa kesejukan. Apresiasi ini sangat mengemuka pada acara peluncuran buku otobiografi: “Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah”, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis 6 Maret 2008.

Buku otobiografi Idham Chalid itu diterbitkan Yayasan Forum Indonesia Satu (FIS) yang dipimpin Arief Mudatsir Mandan, yang juga anggota Komisi I DPR dari PPP, juga selaku editor buku tersebut. Idham Chalid sendiri tengah terbaring sakit di rumahnya Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.

“Saya kira tidak ada tokoh yang bisa seperti beliau. Ketokohannya sangat menonjol, sehingga pernah memimpin partai politik pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP,” kata Wapres Jusuf Kalla mengapresiasi sosok Idham Chalid, saat memberi sambutan pada acara peluncuran buku tersebut.

”Beliau itu moderat, bisa diterima di ’segala cuaca’, berada di tengah, oleh sebab itu ia bisa diterima di mana-mana. Ia berada di tengah titik ekstrem yang ada,” ujar Kalla dihadapan sejumlah undangan, antara lain Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, dan sejumlah anggota kabinet dan DPR.

Menurut Jusuf Kalla, sikapnya yang moderat hanya bisa dijalankan oleh orang yang santun. “Hanya orang santunlah yang bisa bersikap moderat,” puji Jusuf Kalla untuk menegaskan bahwa Idham Chalid merupakan sosok ulama dan politisi yang moderat dan santun. Itulah sebabnya, ia bisa diterima di berbagai era politik dan kepemimpinan bangsa.

Menurut Wapres, jika berada di titik yang sama ekstremnya, maka selain demokrat, sosok politik orang yang menjalani itu sudah pasti santun. ”Karena itu, sikap yang santun bisa menjaga suasana kemoderatan,” katanya.

Idham Chalid yang memulai karir politik dari anggota DPRD Kalsel, seorang ulama karismatik, yang selama 28 tahun memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pernah menjadi Wakil Perdana Menteri pada era pemerintahan Soekarno, Menteri Kesejahteraan Rakyat dan Menteri Sosial pada era pemerintahan Soeharto dan mantan Ketua DPR/MPR. Idham juga pernah menjadi Ketua Partai Masyumi, Pendiri/Ketua Partai Nahdlatul Ulama dan Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sementara itu, editor buku, Arief Mudatsir Mandan, mengemukakan, Idham Chalid satu-satunya Ketua Umum PBNU yang paling lama dan bukan ”berdarah biru” NU. Menurutnya, selama kepemimpinan Idham, NU tidak pernah bergejolak. Kendati ia sering dinilai lemah, tetapi sebenarnya itulah strateginya sehingga bisa diterima berbagai zaman,” ujar Arief Mudatsir Mandan.

Sumber: aatsafwat.blogspot.com

Riwayat Hidup KH Idham Chalid

Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, dan merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin.

Saat usia Idham enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

Selain tercatat sebagai salah satu tokoh besar bangsa ini pada zaman Orde Lama maupun Orde Baru, sebagian besar kiprah Idham dihabiskan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Idham tercatat sebagai tokoh paling muda sekaligus paling lama memimpin ormas Islam yang didirikan para ulama pada tahun 1926 tersebut.

Dalam ormas berlogo bola dunia dan bintang sembilan itu, Idham menapaki karier yang sangat cemerlang hingga menjadi pucuk pimpinan. Dalam usia 34 tahun, Idham dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Jabatan tersebut diembannya selama 28 tahun, yaitu hingga tahun 1984. Pada tahun 1984, posisi Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai ormas yang tidak terlibat politik praktis serta tidak berafiliasi terhadap partai mana pun.

Selain itu, Idham juga tercatat sebagai “Bapak” pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, waktu Idham dihabiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Daarul Maarif di bilangan Cipete.

Sumber: Antara

Selama 28 Tahun Almarhum Idham Chalid Pimpin NU

Tidak banyak orang yang memiliki pengalaman seperti almarhum Mantan Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid dengan berbagai peran dan jabatan yang disandangnya.

Idham Chalid yang lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, adalah anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin.

Alamarhum memiliki pengabdian dan pengalaman yang begitu beragam. Setidak Idham Cholid yang telah memimpin NU selama 28 tahun ini dalam karirnya selalu berada dalam tiga sosok, yaitu ketua NU sebagai ormas, NU sebagai parpol dan sebagai pejabat negera. Dia juga pernah memimpin tiga partai yaitu Masyumi, NU dan PPP.

Kiai Idham Chalid pernah menduduki tiga jabatan menteri, yaitu wakil perdana menteri, menkopolkam, dan menteri sosial. Di posisi legislatif, ia juga menduduki berbagai jabatan mulai dari anggota DPRD Kalsel, DPR dan MPR.

Mengenai kemampuannya membawa NU dalam berbagai situasi, hal ini dikarenakan ia merupakan orang moderat yang selalu berada ditengah, disertai sikap kesantunan sehingga bisa diterima oleh semua pihak. Kiai Idham Chalid juga telah berhasil membawa NU keluar dari masa-masa pelik, bahkan genting saat Indonesia masih berusia muda dengan dinamika politik yang luar biasa.

Kiai Idham tercatat sebagai tokoh yang paling muda sekaligus paling lama memimpin ormas Islam yang didirikan para ulama pada tahun 1926 tersebut. Dalam ormas berlambang bola dunia dan bintang sembilan itu, Idham menapaki karir yang sangat cemerlang hingga menjadi pucuk pimpinan.

Dalam usia 34 tahun, Idham dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Jabatan tersebut diembannya selama 28 tahun, yaitu hingga tahun 1984. Selanjutnya posisi Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur),

Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, waktu Idham dihabiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Daarul Maarif di Bilangan Cipete.

KH Idham Chalid Bukan Hanya Milik Warga NU

Meninggalnya KH Idham Chalid (88) menjadi kehilangan besar bagi warga NU se-Indonesia. Baik semasa Orla maupun Orba, Idham Chalid selalu mengabdikan hidupnya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Menurut tokoh NU Kabupaten Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), mengemukakan, almarhum telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia. Dia juga berjasa besar bagi pengembangan organisasi NU maupun partai yang pernah berafiliasi dengan NU seperti PPP.

“Beliau adalah tokoh panutan kami. Bangsa Indonesia kehilangan sosok dia karena beliau telah mewarnai sejarah bangsa ini lewat kiprahnya,” kata Gus Yusuf, yang juga pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, kemarin.

Idham Chalid meninggal dunia pada Minggu (11/7), sekitar pukul 08.00 WIB, di rumah duka Pondok Pesantren Daarul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan. 10 tahun terakhir dia harus berjuang melawan serangan jantung dan stroke.

Rencananya, jenazah akan dimakamkan Senin (12/7) di Ponpes Darul Quran, milik keluarga, di Cisarua, Bogor, Jawa Barat karena menunggu kehadiran sebagian putra-putri dan sanak saudara yang tinggal baik di Kalimantan Selatan maupun berbagai daerah lain di Tanah Air.

Perjuangkan Idealisme

Semasa hidupnya, KH Idham Chalid selalu memperjuangkan idealismenya bagi kemajuan bangsa dan negara tanpa meninggalkan posisi dirinya sebagai seorang kiai. Di tengah himpitan situasi politik terutama masa Orde Baru, dia memerankan diri sebagai politisi ulung namun tetap kukuh sebagai seorang kiai.

“Dia tidak meninggalkan jati diri sebagai ulama NU. Hal ini karena dia berpolitik dilandasi ketekunan menjalankan ibadah,” lanjut Gus Yusuf.

Karena itu, Gus Yusuf tak ragu menyebut Chalid sebagai pribadi yang seimbang antara kepentingan rohani dengan duniawi. “Tidak seperti politikus saat ini yang sibuk dengan urusan-urusan politik tetapi tidak menjalankan secara konsekuen ibadahnya,” kritik tokoh seniman Komunitas Lima Gunung Magelang ini..
Selengkapnya..