Syekh Muhammad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas, Kebumen Jawa Tengah

Beliau adalah sosok ulama yang sangat di segani dan menjadi panutan di kebumen propinsi jawa tengah.
Syaikh Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu: Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah. Sanad thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah telah ia peroleh secara langsung dari ayah beliau yakni Syaikh Muhammad Ilyas, sedangkan sanad Thariqah Asy-Sadziliyah diperolehnya dari As-Sayyid Ahmad An-Nahrawi Al-Makki (Mekkah).
Dalam hidupnya, Syaikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat besar, yaitu membaca Al-Qur’an dan Shalawat. Beliau tak kurang membaca shalwat sebanyak 16.000 kali dalam setiap harinya dan sekali menghatamkan Al-Qur’an. Adapun shalawat yang diamalkan adalah shalawat Nabi Khidir AS atau lebih sering disebut shalawat rahmat, yakni “Shallallah ‘ala Muhammad.” Dan itu adalah shalawat yang sering beliau ijazahkan kepada para tamu dan murid beliau. Adapun shalawat-shalawat yang lain, seperti shalawat Al-Fatih, Al-Anwar dan lain-lain.

Beliau juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai kepribadian yang sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian dari akhlaq yang melekat pada diri beliau. Sehingga amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.

Beliau disamping dikenal memiliki hubungan yang baik dengan para ulama besar umumnya, Syaikh Abdul Malik mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ulama dan habaib yang dianggap oleh banyak orang telah mencapai derajat waliyullah, seperti Habib Soleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bilfaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Probolinggo), KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Hamid bin Yahya (Sokaraja, Banyumas) dan lain-lain.

Diceritakan, saat Habib Soleh Tanggul pergi ke Pekalongan untuk menghadiri sebuah haul. Selesai acara haul, Habib Soleh berkata kepada para jamaah,”Apakah kalian tahu, siapakah gerangan orang yang akan datang kemari? Dia adalah salah seorang pembesar kaum ‘arifin di tanah Jawa.” Tidak lama kemudian datanglah Syaik Abdul Malik dan jamaah pun terkejut melihatnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Kraksaan, Probolinggo) bahwa ketika Syaikh Abdul Malik berkunjung ke rumahnya bersama rombongan, Habib Husein berkata, ”Aku harus di pintu karena aku mau menyambut salah satu pembesar Wali Allah.”

Asy-Syaikh Abdul Malik lahir di Kedung Paruk, Purwokerto, pada hari Jum’at 3 Rajab 1294 H (1881). Nama kecilnya adalah Muhammad Ash’ad sedang nama Abdul Malik diperoleh dari ayahnya, KH Muhammad Ilyas ketika ia menunaikan ibadah haji bersamanya. Sejak kecil Asy-Syaikh Abdul Malik telah memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya yang ada di Sokaraja, Banyumas terutama dengan KH Muhammad Affandi.

Setelah belajar Al-Qur’an dengan ayahnya, Asy-Syaikh kemudian mendalami kembali Al-Qur’an kepada KH Abu Bakar bin H Yahya Ngasinan (Kebasen, Banyumas). Pada tahun 1312 H, ketika Syaikh Abdul Malik sudah menginjak usia dewasa, oleh sang ayah, ia dikirim ke Mekkah untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari berbagai disiplin ilmu agama diantaranya ilmu Al-Qur’an, tafsir, Ulumul Qur’an, Hadits, Fiqh, Tasawuf dan lain-lain. Asy-Syaikh belajar di Tanah suci dalam waktu yang cukup lama, kurang lebih selama limabelas tahun.

Dalam ilmu Al-Qur’an, khususnya ilmu Tafsir dan Ulumul Qur’an, ia berguru kepada Sayid Umar Asy-Syatha’ dan Sayid Muhammad Syatha’ (putra penulis kitab I’anatuth Thalibin hasyiyah Fathul Mu’in). Dalam ilmu hadits, ia berguru Sayid Tha bin Yahya Al-Magribi (ulama Hadramaut yang tinggal di Mekkah), Sayid Alwi bin Shalih bin Aqil bin Yahya, Sayid Muhsin Al-Musawwa, Asy-Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tirmisi. Dalam bidang ilmu syariah dan thariqah alawiyah ia berguru pada Habib Ahmad Fad’aq, Habib Aththas Abu Bakar Al-Attas, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya), Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Bogor), Kyai Soleh Darat (Semarang).

Sementara itu, guru-gurunya di Madinah adalah Sayid Ahmad bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas bin Muhammad Amin Raidwan, Sayid Abbas Al Maliki Al-Hasani (kakek Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al-Hasani), Sayid Ahmad An-Nahrawi Al Makki, Sayid Ali Ridha.

Setelah sekian tahun menimba ilmu di Tanah Suci, sekitar tahun 1327 H, Asy-Syaikh Abdul Malik pulang ke kampung halaman untuk berkhidmat kepada keduaorang tuanya yang saat itu sudah sepuh (berusia lanjut). Kemudian pada tahun 1333 H, sang ayah, Asy Syaikh Muhammad Ilyas berpulang ke Rahmatullah.

Sesudah sang ayah wafat, Asy-Syaikh Abdul Malik kemudian mengembara ke berbagai daerah di Pulau Jawa guna menambah wawasan dan pengetahuan dengan berjalan kaki. Ia pulang ke rumah tepat pada hari ke- 100 dari hari wafat sang ayah, dan saat itu umur Asy Syaikh berusia tiga puluh tahun.

Sepulang dari pengembaraan, Asy-Syaikh tidak tinggal lagi di Sokaraja, tetapi menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab. Perlu diketahui, Asy-Syaikh Abdul Malik sering sekali membawa jemaah haji Indonesia asal Banyumas dengan menjadi pembimbing dan syaikh. Mereka bekerjasama dengan Asy-Syaikh Mathar Mekkah, dan aktivitas itu dilakukan dalam rentang waktu yang cukup lama.

Sehingga wajarlah kalau selama menetap di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu-ilmu agama dengan para ulama dan syaikh yang ada di sana. Berkat keluasan dan kedalaman ilmunya, Syaikh Abdul Malik pernah memperoleh dua anugrah yakni pernah diangkat menjadi Wakil Mufti Madzab Syafi’i di Mekkah dan juga diberi kesempatan untuk mengajar. Pemerintah Saudi sendiri sempat memberikan hadiah berupa sebuah rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes. Anugrah yang sangat agung ini diberikan oleh Pemerintah Saudi hanya kepada para ulama yang telah memperoleh gelar Al-‘Allamah.

Syaikh Ma’shum (Lasem, Rembang) setiap berkunjung ke Purwokerto, seringkali menyempatkan diri singgah di rumah Asy-Syaikh Abdul Malik dan mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik secara tabarrukan (meminta barakah) kepada Asy-Syaikh Abdul Malik. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Khalil (Sirampog, Brebes), KH Anshori (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas) yang merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur’an, mereka kerap sekali belajar ilmu Al-Qur’an kepada Syaikh Abdul Malik.

Kehidupan Syaikh Abdul Malik sangat sederhana, di samping itu ia juga sangat santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahiem kepada murid-muridnya yang miskin. Baik mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, dukuhwaluh, Bojong dan lain-lain.

Hampir setiap hari Selasa pagi, dengan kendaraan sepeda, naik becak atau dokar, Syaikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian sambil mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan (Forum silaturrahiem para pengikut Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah Kedung paruk yang diadakan setiap hari Selasa dan diisi dengan pengajian dan tawajjuhan).

Murid-murid dari Syaikh Abdul Malik diantaranya KH Abdul Qadir, Kiai Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah sekarang), KH Sahlan (Pekalongan), Drs Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma’shum (Purwokerto) dan lain-lain.

Sebagaimana diungkapkan oleh murid beliau, yakni Habib Luthfi bin Yahya, Syaikh Abdul Malik tidak pernah menulis satu karya pun. “Karya-karya Al-Alamah Syaikh Abdul Malik adalah karya-karya yang dapat berjalan, yakni murid-murid beliau, baik dari kalangan kyai, ulama maupun shalihin.”

Diantara warisan beliau yang sampai sekarang masih menjadi amalan yang dibaca bagi para pengikut thariqah adalah buku kumpulan shalawat yang beliau himpun sendiri, yaitu Al-Miftah al-Maqashid li-ahli at-Tauhid fi ash-Shalah ‘ala babillah al-Hamid al-majid Sayyidina Muhammad al-Fatih li-jami’i asy-Syada’id.”

Shalawat ini diperolehnya di Madinah dari Sayyid Ahmad bin Muhammad Ridhwani Al-Madani. Konon, shalawat ini memiliki manfaat yang sangat banyak, diantaranya bila dibaca, maka pahalanya sama seperti membaca kitab Dala’ilu al-Khairat sebanyak seratus sepuluh kali, dapat digunakan untuk menolak bencana dan dijauhkan dari siksa neraka.

Syaikh Abdul Malik wafat pada hari Kamis, 2 Jumadil Akhir 1400 H (17 April 1980) dan dimakamkan keesokan harinya lepas shalat Ashar di belakang masjid Baha’ul Haq wa Dhiya’uddin, Kedung Paruk Purwokerto.
Selengkapnya..

KH Noer Ali, Bekasi Jawa Barat

Singa Bekasi julukan tersebut memang layak di berikan kepada KH Noer Ali, seorang Ulama besar yang terlahir dari keluarga Petani. Semangat Nasionalisme yang membara dalam dadanya mampu mengobarkan semangat Perjuangan kepada masyarakat untuk melawan penjajah Belanda yang sejak lama menjajah tanah air.

Beliau memimpin lasykar Rakyat Bekasi melawan Belanda, pernah bergabung dan menjadi Komandan Batalyon III Barisan Hizbulloh . Kh Noer Ali namanya sangat dikenal oleh rakyat dan ditakuti Belanda karena keberanian dan jiwa patriotnya.

Beliau lahir di Desa Ujung Malang Bekasi tanggal 15 juli 1914 ayah beliu seorang petani bernama Anwar bin Layu dan ibunya bernama Maimunah. Cita cita yang dimilki oleh Kh Noer Ali sejak masa kanak-kanak adalah “membangan dan menciptakan perkampungan Surga”, sungguh suatu cita-cita yang sangat mulia yang terucap dari Kh Noer Ali kecil , beliau belajar dari mengaji alquran pada ayahnya dan kakaknya, usia lima tahun sudah mampu menghapul surat-surat pendek Alquran.

Menginjak usia 7 tahun Kh Noer Ali mengaji kepada Guru Maksum bekasi dan Guru Mughni, banyak sekali ilmu yang didapat dari kedua gurunya tersebut yang mendasari jiwanya dengan ruh-ruh keislaman , beranjak remaja Kh Noer Ali belajar kepada ulama besar di Betawi bernama Guru Marzuki disamping mempelajari ilmu-ilmu agama Guru Marzuki juga mengajari ilmu-ilmu beladiri , Hingga Beliau terkenal sakti dan tidak mempan ditembus peluru , bahkan Penjajah belandapun kesulitan menangkap Kh Noer Ali , sering menghilang dan tidak dapat dilihat oleh mata awam hingga masyarakatpun memberi gelar Kh Noer Ali sebagai” belut Putih” yang sangan licin.

Dengan semangat belajar yang tinggi Kh Noer Ali dengan Berat Hati Mengutarakan keinginannanya kepada ayahnya bahwa dirinya akan Menuntut Ilmu di Mekkah, Kh Noer Ali menyadari betul siapa ayahnnya yang hanya seorang Petani dan tidak mungkin memilki banyak uang untuk belajar Di Mekkah. Karena didorong rasa semangat belajar anaknya yag tinggi, ayahnya pun tak ingin mematahkan semangatnya , maka Ayahnyapun berusaha keras untuk mendapatkan Uang agar anaknya dapat belajar di Mekkah walaupun harus meminjam dan dibayar dengan di cicil selama bertahun-tahun. Dengan harapan kelak anaknya dapat menjadi orang yang berguna di masyarakat.

Tahun 1934 Kh Noer Ali akhirnya melanjutkan belajar Di Mekkah di madrash Darul u’lum, guru-guru beliau antara lain Syeck Ali al maliki, Syech Umar Turki, Syeck umar Hamdan Syech Ahmad Fathani dll. DiMekkah beliau bertemu dengan pelajar asal indonesia seperti Kh Masturo, Kh Sybro Malisi, Kh Hasbulloh dan masih banyak lagi. Hingga beliau memperakarsai membentuk himpunan Pelajar betawi dan Himpunan Pelajar Indonesia karena jiwa Nasionalisme dan prihatin melihat Bangsa Indonesia masih di jajah oleh Belanda. Bersama dengan rekan-rekannya Kh Noer Ali aktif melakukan pertemuan-pertemuan untuk mencari solusi dan dukungan bagaimana mengusir penjajah Belanda dari Bumi Indonesia.
Setelah enam tahun belajar di Mekkah Kh .Noer Ali mendirikan Pondok pesantren Attaqwa di ujung harapan Bekasi, disamping mengajar di pesantren Kh Noer Ali juga mengajak umat untuk angkat senjata melawan Penjajah Belanda, walaupun dengan senjata yang sangat sederhana namun banyak dari rakyat yang begabung dengan Kh Noer Ali untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Apalagi nama Kh Noer Ali sudah sangat terkenal dengan kesaktiaannya. Suatu Ketika beliau ditangkap Belanda hanya pasrah saja dan tidak melakukan perlawanan, Kh Noer Ali digring masuk kedalam Truk Tentara Belanda. Ditengah jalan KH noer Ali memohon kepada Alloh minta perlindungan, Bukan main kagetnya tentara Belanda yang mengawal Kh Noer Ali di dalam Truk, Kh Noer Ali menghilang begitu saja dalam pandangan mata tentara Belanda. Membuat Nyali Tentara Belanda semakin Ciut “Pimpinannnya saja sakti gimana dengan tentara Kh Noer Alinya????kata tentara Belanda. jatulah mental -mental tentara belanda dalam menghadapi Lasykar-lasykar yang diPimpin Kh Noer Ali.

Dan suatu ketika Kh noer Ali dan para lasykarnya bergerilya kedalam hutan, para lasykar terlihat sangat kelaparan karena berperang Gerilya dengan Pasukan Belanda, Saat intu Kh Noer Ali sholat selesai sholat minta kepada Alloh agar di berikan para lasykar tersebut makanan. Maka dengan mengulum dan merlemparkan secarik kertas ketanah tiba-tiba terbentang dihadapannya Nasi dan lauk pauknya, Subhanalloh…..

Dan Ketika masa perjuangan dengan Penjajah berakhir Kh Noer Ali kembali berjuang dibidang Dakwah dan pendidikan di Pondok Pesantren At Taqwa yang ia bangun di Bekasi. walaupun beliau Seorang Ulama besar beliau masih saja haus akan ilmu, dan beliau mengaji kepada Habib Ali Al habsyi Kwitang jakarta untuk bertabaruk.

Tanggal 3 may 1992 Kh Noer Ali wafat dalam usia 78 tahun. Masyarakat dan para ulama merasa sangat kehilangan sosok ulama dan pejuang yang telah banyak berjasa bagi negara. Maka tahun 2006 Pemerintah memberikan gelar pahlawan Nasional Kepada Kh Noer Ali dan Namanya pun di abadikan menjadi nama jalan Kh Noer Ali di kalimalang bekasi. Kini Pondok pesantrennyapun berkembang dengan Pesat .
Selengkapnya..

KH Abdullah Syafe'i, Jakarta

Orang Jakarte, siapa yang tak kenal nama KH Abdullah Syafii (alm) dan Perguruan Assyafi’iyah. Sedangkan bagi penduduk Jakarta, setidaknya mengenal nama ulama kharismatis ini sebagai nama jalan terusan Casablanca-Tebet Jakarta Selatan.

Syahdan, dengan kapal layar, pada pertengahan abad ke-19 (1834), Syaikh Junaid, seorang ulama Betawi, menuju Mekah. Di sana ia bermukm dengan menggunakan nama al-Betawi. Kefasihannya amat termashur karena beliau dipercaya menjadi imam Masjidil Haram.

Syaikh Junaid al Betawi, yang diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mazhab Syafi’ie, juga mengajar agama di serambi Masjidil Haram. Muridnya banyak sekali. Bukan hanya para mukiman dari Indonesia, juga mancanegara. Nama Betawi menjadi termashur di tanah suci berkat Syaikh kelahiran Pekojan, Jakarta Barat, ini.

Syaikh Junaid mempunyai dua putera dan puteri. Salah satu puterinya menikah dengan Abdullah al Misri, seorang ulama dari Mesir, yang makamnya terdapat di Jatipetamburan, Jakarta Pusat. Seorang puteri lainnya menikah dengan Imam Mujitaba. Sedangkan kedua puteranya, Syaikh Junaid As’ad dan Arsyad, menjadi pelanjut ayahnya mengajar di Masjidil Haram. Syeh Junaid wafat di Mekah pada 1840 dalam usia 100 tahun.

Di antara murid Syeh Junaid yang sampai kini kitab-kitabnya masih tersebar di dunia Islam adalah Syaikh Nawawi al Bantani, keturunan pendiri kerajaan Islam Banten, Maulana Hasanuddin (putera Syarif Hidayatullah). Karenanya, setiap haul Syaikh Nawawi, selalu dibacakan fatihah untuk arwah Syaikh Junaid.

Imam Mujitaba, yang menetap di Mekah, menikah dengan putri Syaikh Junaid. Pasangan ini menurunkan Guru Marzuki, tokoh ulama Betawi dari Cipinang Muara, Jakarta Timur. Karena alimnya, guru Mujitaba diberi gelar waliyullah oleh masyarakat Islam di tanah suci. Menurut budayawan Betawi, Ridwan Saidi, Guru Mujitaba satu angkatan dengan mukimin Indonesia lainnya seperti Syaikh Nawawi al Bantani dan Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi.

Sedangkan putera almarhum guru Marzuki, yang hingga kini memiliki perguruan di Rawabunga, Jakarta Timur, mendapat gelar birulwalidain karena begitu berhidmatnya kepada kedua orang tuanya.

Guru Marzuki memiliki sejumlah murid yang kemudian menjadi ulama terkemuka di Indonesia. Salah satunya adalah KH Abdullah Syafi’ie, yang mendirikan dan mengembangkan Perguruan Assyafiiyah dengan sekolah mulai dari TK sampai perguruan tinggi.

KH Abdullah Sjafi’ie (wafat 3/9-1985) bersama putera-puterinuya menangani 63 lembaga pendidikan Islam. Sedangkan masjid Al-Barkah di Kampung Bali Matraman, Jakarta Selatan, yang dibangun pada 1933 saat kyai berusia 23 tahun, merupakan masjid yang megah hingga sekarang.

Semuanya berawal dari mushola bekas kandang sapi, yang dijadikan cikal bakal Perguruan Asyafiiyah.

Kini pengajian Ahad pagi di Masjid Ak-Barkah selalu yang diikuti ribuan jamaah. KH Abdullah Syafi’ie perguruannya menghasilkan ribuan orang diantara mereka kini menjadi tokoh agama dan pimpinan majelis taklim di berbagai tempat di Indonesia.

KH Abdullah Syafi’ie adalah figur yang mampu mengkombinasikan dua arus besar pemikiran yang berkembang di lingkungan masyarakat Islam. Dalam diri beliau tercermin betul warna NU dan Muhammadiyah-an. Toh beliau mampu menjadikan diri sebagai model kombinasi yang menarik itu. Di bidang politik, beliau pada Pemilu 1955 berkampanye untuk partai Masyumi.

Nama Pesantren

Ajaran birulwalidain dari Guru Marzuki, juga diwariskan KH Abdullah Syafi’ie kepada putranya, KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii. Salah satu tanda baktinya kepada ayahanda, KH Abdul Rasyid memberi nama pesantren yang didirikannya di Pulo Air, Sukabumi, sebagai Pesantren KH Abdullah Syafi’ie.

Dirintis pada 1990-an, Pesantren al Qur’an tersebut berdiri di atas tanah wakaf pengusaha restauran Sunda, Haji Soekarno (alm). Tanah itu awalnya berupa taman rekreasi Pulo Air seluas 3,3 hektar.

Pertama kali dibuka, jumlah santrinya hanya 13 murid SD. Namun seiring dengan berjalannya waktu, perkembangannya kini sungguh amat pesat.

Sekarang saja Pesantren KH. Abdullah Syafii telah menempati tanah seluas 27 ha dengan sarana bangunan yang dimiliki terbilang lengkap. Santrinya lebih dari 650 orang yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan pernah ada yang berasal dari Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, maupun dari Jeddah, Saudi Arabia.

Selain belajar dan Menghafal al Quran mereka pun belajar pengetahuan umum yang diajarkan mulai dari TK, SD, SMP, SMU. Demikianlah warna pesantren KH. Abdullah Syafi’i, ia memadukan gaya pesantren hafidz Qur,an dengan sekolah umum.

Untuk meningkatkan imtaq dan iptek para santrinya ini, pengelola pesantren tidak setengah-setengah mewujudkannya. Tiap sekolah yang berada di bawah koordinasi pondok telah menyediakan laboratorium tersendiri di bidang fisika, komputer dan bahasa. Pesantren ini juga memiliki sarana asrama yang amat bersih, juga masjid yang cukup memadai di tengah kampus. Dalam dua tahun terakhir ini malah telah berdiri stasion radio FM Pulo Air .

Pekan lalu, wartawan Suara Islam sempat bermalam di sana. Pagi hari jam 04.00 WIB, kehidupan pesantren sudah mulai menggeliat. Santri-santri cilik sudah mulai dibangunkan (sebagian bahkan ada santri balita). Air jernih Pulo Air segera mengguyur badan hangat santri yang segera berbenah ke masjid menyongsong panggilan adzan subuh.

Suasana ritual khas pesantren segera hadir, mulai dari shalat berjamaah subuh dan wirid-wiridnya, disusul penghafalan Qur’an oleh seluruh santri di sudut-sudut halaman dan ruangan yang tersedia. Menghafal al Quran ini memang merupakan ciri khas dari Pesantren al-Qur’an KH. Abdullah syafi’ie. Kini telah ratusan orang diwisuda, di antaranya hafal sampai 30 juz penuh. Sebagian dari para alumni mulai dikenal di berbagai universitas Islam di berbagai negara seperti di Mesir, Madinah dan negara Timur Tengah lainnya.

Pesantren ini lokasinya di pinggir lintas Jalan Raya Sukabumi ke arah Cianjur kilometer 10. Panoramanya sungguh menawan. Dinaungi cuaca sejuk lereng Gunung Gede. Dari dalam tanah menyembul sejumlah titik sumber air jernih dengan debit air jutaan meter kubik yang seolah tiada batasnya. Wajar saja bila Pesantren KH. Abdullah Syafi’ie ini merupakan pesantren yang air bersihnya terkaya di seluruh Indonesia.

Selain itu, warna Assyafi’iyah dan Betawi yang khas akan terasa gaungnya saat Pesantren KH. Abdullah Syafi’ie mengadakan acara tahunannya berupa Wisuda Santri dan Haul yang biasanya digelar setiap bulan September. Acara Haul KH. Abdullah Syafii yang ke 21 dan HUT Pesantren yang ke 16 akan diselenggarakan pada 3 September 2006 bersamaan 10 Syaban 1427 H.

Seperti tahun yang sudah-sudah, beberapa pejabat tinggi negara akan hadir. Kali ini dikabarkan akan hadir Menag Maftuf Basyuni, Ketua Mahkamah Konstitusi Pro. Dr. Jimly Asshiddiqie SH, deretan tokoh Islam, habaib, ulama, juga orang tua santri dari berbagai kota di seluruh Indonesia.

Yang istimewa tentulah hadirnya jamaah Assyafi’iyah yang sengaja datang dari seluruh pelosok Jakarta dan sekitarnya. Lebih seratus bus besar Hiba diperkirakan akan memenuhi jalan sepanjang Jagorawi hingga ke Sukabumi-Cianjur.Tak ayal seperti tahun-tahun yang lalu konvoi bus berbagai majlis talklim ibukota ke arah Pulo Air ini memacetkan jalan ke arah Sukabumi.

Suasana Haul Wafatnya KH.Abdullah Syafi’i dan Wisuda Santri ini dipadukan dengan acara Maulud Nabi dan Isra-Mi’raj. Sementara itu jamaah yang datang ke lokasi pesantren benar-benar akan mendapatkan rekreasi. Anak-anak dengan sukacitanya akan berlari-larian di komplek pesantren, sebagian lain mandi ke kolam renang di dua lokasi terpisah. Sementara di panggung acara yang disesaki puluhan ribu jamaah, tekun mengikuti acara resmi. Pidato-pidato pejabat tinggi, ulama, habaib bagai memindahkan suasana di Bali Matraman dengan Tabligh akbarnya ke Pulo Air.Tak pelak suasana berwarna khas Betawi kini merambah Puloair Sukabumi.

Bedanya, acara di Pulo Air ini dipadu dengan penampilan para santri dalam kemahirannya melafadzkan ayat-ayat al Qur’an. Bahkan dengan demonstrasi hafal 30 juz, kemahiran santri berpidato bahasa Inggris, Arab, Indonesia, dan berbagai atraksi seni lainnya.

Seperti tahun sebelumnya, pengunjung dibuat terpukau oleh penampilan para santri Pesantren KH. Abdullah Syafii ini. Sejumlah pejabat tinggi negara sejak 1990 berganti-ganti menjadi saksi sukses yang diraih pesantren di Pulo Air ini, mulai Habibie, Tarmidzi Taher, Hamzah Haz, hingga menteri zaman SBY, seperti MS.Kaban, Maftuh Basyuni dan Ketua MK, Jimly Asshiddiqie.

Ditemui di Pulo Air, Pimpinan Perguruan Assyafiiyah dan Pesantren KH. Abdullah Syafii, KH. Abdul Rasyid AS, berulang-ulang menyatakan rasa syukur tak terhingga dengan perjalanan pesantren yang diasuhnya ini lebih 16 tahun terakhir.

Semua orang dahulu tatkala menerima wakaf dari Bapak Haji Soekarno, merasa ragu bisakah tanah 3,3 Ha wakaf ini bisa dikembangkan menjadi pesantren maju? Bisa dimaklumi saat itu kata Kyai Rasyid kondisinya sekadar tanah dan air melimpah belaka. Kini alhamdulillah puluhan bangunan sudah berdiri dan setiap tahun insya Allah akan terus dibangun.

Bahkan Kyai Rasyid mengangan-angankan berdirinya sebuah Universitas Islam yang besar di lokasi pesantrennya ini. Untuk merealisasikan rencana itu telah disediakan tanah di pinggir jalan besar. Rencananya, juga akan dilengkapi sebuah masjid monumental. Bisakan rencana itu terwujud?

Seperti pada 1989 lalu mula-mula rencana besar itu bagai fatamorgana layaknya, tapi insya Allah jika kita bekerja keras, itu semua akan terwujud. []

Selintas Macan Betawi

KH Abdullah Syafi’ie, yang populer sebagai ”Macan Betawi”, lahir di Kampung Bali Matraman, Jakarta Selatan pada 16 Sya’ban 1329 H./10 Agustus 1910 hari Sabtu. Nama ayahnya H. Syafi’ie Bin Sairan dan ibundanya Nona Binti Asy’ari. Mempunyai dua orang adik perempuan yang bernama H. Siti Rogayah dan H. Siti Aminah.

Kedua orangtuanya cinta kepada orang-orang alim dan soleh sehingga dari sejak kecil sudah diarahkan untuk belajar ilmu agama.

Sambil belajar, menuntut ilmu terus mengajar. Pada umur 17 tahun sudah memperoleh surat pemberian tahoe: boleh mengajar di langgar partikulir.

Ketika berumur 23 tahun mulai membangun Masjid Al Barakah di Kampung Bali Matraman. Di situlah Almarhum lebih menekuni pembinaan masyarakat-ummat mengajak mereka ke jalan Allah.

Sekitar tahun 30-an, da’wahnya lebih meluas lagi mencapai daerah sekitar Jakarta dan almarhum menuntut ilmu ke Bogor (Habib Alawy Bin Tohir Alhaddad).

Sekitar tahun 40-an, membangun tempat pendidikan yaitu madrasah tingkat Ibtidaiyah, dan secara sederhana mulai menampung pelajar-pelajar yang mukim (tinggal) terutama dari keluarga.

Pada tahun 1957 membangun AULA AS-SYAFI’IYAH yang diperuntukkan bagi madrasah tingkat Tsanawiyah Lilmuballighin wal Muallimin.

Tahun 1965 mendirikan Akademi Pendidikan Islam As-Syafi’iyah (AKPI As-Syafi’iyah).

Tahun 1967 mendirikan Stasiun Radio As-Syafi’iyah, tahun 1969 AKPI ditingkatkan menjadi UIA.

Tahun 1968 merintis tempat pendidikan disuatu desa pinggiran Jakarta, yaitu Jatiwaringin Kecamatan Pondokgede Bekasi sebagai pengembangan dari pendidikan yang telah ada.

Pada tahun 1974-1975 membangun pesantren putra dan pesantren putri di Jatiwaringin.

Pada tahun 1978 membangun pesantren khusus untuk Yataama dan Masaakin.

Pengembangan sarana untuk pendidikan dan pesantren terus dikembangkan ke sekitar Jakarta seperti Cilangkap-Pasar Rebo, di Payangan-Bekasi, Kp. Jakasampurna-Bekasi dll.

Tahun 1980 mulai menyiapkan lokasi untuk kampus Universitas Islam As-Syafi’iyah di Jatiwaringin.

Almarhum pernah menjabat sebagai Ketua I Majlis Ulama Indonesia pada periode pertama dan juga sebagai Ketua Umum Majlis Ulama DKI periode pertama dan kedua.

Almarhum banyak memikirkan tentang pendidikan untuk menghadirkan ulama untuk masa yang akan datang dengan mendirikan Pesantren Tinggi yaitu Ma’had Aly DAARUL ARQOM As-Syafi’iyah di Jatiwaringin.

Almarhum berhati lembut : merasa pedih hatinya dengan penderitaan ummat terutama jika ummat mendapat musibah dalam urusan agama. Almarhum segera berusaha memberikan petunjuk dan pengarahan serta mencarikan jalan-jalan keluarnya.

Selalu mengajak ummat kepada Tauhidullah dan AQIDAH ala thoriqoh Alissunnah wal jama’ah. Dimana-mana

beliau berdakwah dan berceramah selalu mengajak jama’ah untuk beristighfar dan mengumandangkan kalimatuttauhid: La ilaaha illallaah Muhammadurrasulullah.

Jiwa dan semangatnya membangun ummat untuk menghidupkan syi’arnya agama Islam. Mendirikan masjid-masjid, musholla dan madrasah serta pesantren-pesantren. Menggalakkan ummat untuk berani dan suka beramal jariah, infak dan shodaqoh serta berwakaf.

Mengajak Ulama dan Asatidzah untuk bersatu. Memberikan kesempatan kepada Asatidzah dan Ulama-ulama muda untuk tampil ditengah masyarakat.

Menyelenggarakan Majlis Muzakarah Ulama dan Asatidzah.

Menyantuni para dhu’afaa (kaum yang lemah) dengan bantuan berupa beras, pakaian, uang dll.

Pada Selasa dinihari jam 00.30 KH Abdullah Syafi’ie berpulang ke rahmatullah saat menuju rumah sakit Islam. Dishalatkan di masjid Al Barkah Bali Matraman oleh puluhan ribu ummat Islam secara bergelombang dipimpin oleh para Alim Ulama. Turut serta tokoh-tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah. Dimakamkan pada hari selasa tgl. 18 Dzulhijjah 1405 H./ 3 September 1985 di Komplek Pesantren Putra As-Syafi’iyah Jatiwaringin Pondokgede dengan dihantarkan oleh ratusan ribu ummat Islam.
Selengkapnya..

Habib Ali bin Husein Al Athos, Bungur Jakarta

Jakarta dengan predikat sebagai kota metropolitan , dengan hingar bingar tempat hiburan dan maksiat yang merajalela. Kalau bukan karena cinta Alloh kepada Ulama dan Habaib yang senantiasa menggelar majlis majlis ilmu dan majlis majlis dzikir Sudah Alloh luluh lantahkan kota jakarta ini . Majlis ilmu dan dzikir yang telah meredam murka Alloh. Ulama dan habaib yang menjadi Paku dan benteng dalam mengajak umat untuk selalu taat terhadap perintah Alloh.

Sekitar tahun 1940 Jakarta atau dulu di sebut Betawi punya Banyak Tokoh ulama dan pejuang dan yang paling menjadi panutan dan memiliki banyak murid yang tersebar di tanah air adalah Habib Ali al habsyi, habib Ali bin husen Al athos dan habib Salim bin Jindan. Trio Ulama tersebut yang dengan gencar memperjuangkan Syiar-syiar agama alloh.

Habib Ali bin Husein Al athos adalah Ulama kelahiran Hadro maut terkenal dengan julukan Habib Ali Bungur. Lahir di Huroidhah pada 1 muharam 1309 H atau bertepatan 1889 M . Nama lengkap beliau Al-Habib Ali bin Husein bin Muhammad bin Husein bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas. Sejak kecil habib ali belajar kepada para ulama - ulama Setempat , sejak dulu sampai saat ini kota Hadro maut gudangnya para ulama dan auliya, bahkan salah seorang ulama di Jawa timur bahwa tukang sapu ditarim banyak berpredikat sebagai Wali, itu baru tukang sapunya bagaimana dengan Ulamanya. Setelah sekian lama belajar di kotanya Habib ali melakukan pengembaraan ke kota suci mekkah untuk bejalar sekaligus menunaikan ibadah haji. Di Mekkah habib ali mempergunakan waktunya untuk belajar kepada para ulama setempat . Kurang lebih 4 tahun lamanya beliau di Mekkah akhirnya sekitar tahun 1916 Habib Ali melakukan dakwah ke berbagai negara hingga akhirnya Beliau Singgah dan menetap di Jakarta . Di samping melakukan Dakwah di Jakarta Habib Ali juga tak segan segan untuk belajar dan mengambil Tabaruk dari Para ulama -ulama Sepuh di tanah air, Seperti habib Muhammad al muhdhor (bondowoso ), Habib Abdullohbin Muhsin Al athos ( Bogor).

Pergolakan politik di tanah air memicu juga semangat Habib Ali Bungur untuk mengobarkan semangat Jihad melawan penjajah dan komunis yang telah cukup lama membuat bangsa indonesia menderita belum lagi para penjajah melakukan Misi menyebarkan Agama Nasrani dengan melakukan tebar pesona dan simpatik agar rakyat yang telah menderita mau mengikuti agamanya . Belum lagi muncul nya aliran Komunis anti Tuhan ( atheis ) yang bernaung di bawah partai PKI Hal inilah yang membuat Habib Ali bungur dan Para Ulama ulama betawi lainnya berusaha sekuat tenaga menjaga Aqidah umat Islam agar mereka terbentengi dan tetap teguh memegang ajaran Islam yang sebenarnya.

Habib Ali bungur sosok ulama yang tawadhu dan konsisten dalam menjalankan ajaran agama, Wibawa dan pengaruh beliau sangat besar dalam perkembangan islam di Betawi, beliau tak segan segan menegur pejabat dan aparat pemerintahan yang singgah kerumahnya untuk lebih mencintai warganya. Kehidupannya sangat sederhana tak silau dengan gemerlap dunia. Walaupun demikian beliau menganjurkan agar Rakyat hidup berkecukupan dan tidak menderita.

Salah seorang ulama dan pengasuh Pon -pes Darul Hadist Al faqihiyyah malang Al marhum Al habib Abdulloh bil Faqih pernah mengatakan bahwa Habib Ali bungur adalah seorang Wali Qutub di jamannya dan seorang pemimpin Rohani Islam yang selalu konsiten mengamalkan syariat-syariat Islam .

Ulama - ulama besar betawi banyak belajar kepada Habib Ali Bungur diantaranya seperti KH Abdullah Syafi`i, KH Tohir Rohili, KH Fatullah Harun, KH Hasbialloh, KH Ahmad Zayadi Muhajir, KH Achmad Mursyidi, Syekh KH Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary, mu`allim KH M Syafi`i Hadzami dan masih banyak lagi murid-murid beliau yang tersebar di tanah air.

Habib Ali bungur sangat mencintai dan menghormati para ulama shalafus Sholeh hingga beliau mengarang kitab tentang sejarah perjalanan ulama -ulama Hadro maut dari tanah kelahirannya sampai ke indonesia. Kitab tersebut di beri judul Tajul A’ras fi Manaqib Al-Qutub Al-Habib Sholeh bin Abdullah Al-Attas, disamping memuat Manakib shalafus Sholeh juga Kitab tersebut berisi Mutiara - mutiara Tashauf dan Thariqoh Alawiyyah .

Pagi tanggal 16 Feburuari 1976 Habib Ali Bungur menghembuskan Napasnya yang terakhir, Langit Jakarta menjadi mendung tetesan dan linangan air mata mengalir dari murid murid beliau dan rakyat yang sangat mencintai beliau . Ribuan Peziarah berdatangan dari berbagai pelosok nusantara untuk memberikan penghormatan terakhir, Jakarta kehilangan sosok ulama yang menjadi panutan dan guru para ulama di Jakarta.
Selengkapnya..

KH Abdul Wahab Hasbulloh, Jombang Jawa Timur

Beliau bernama Kh.Abdul Wahab Hasbulloh yang dilahirkan di desa tambak beras Jombang bulan maret tahun 1888 M . Sejak kecil Beliau menerima pelajaran dasar-dasar agama Islam dari ayahnya K.Hasbulloh , menginjak usia 13 tahun beliau melanjutkan ke Pondok pesantren Langitan Tuban, Pondok Mojosari Nganjuk, Pondok pesantren Tawang sari sepanjang kemudian melanjutkan ke pondok KH.Muhammad Kholil Bangkalan Madura setelah itu melanjutkan ke Pondok pesantren Tebuireng Jombang.

Hampir 14 tahun menuntut ilmu di tanah air , sekitar tahun 1921 M Kh.Abdul Wahab Hasbulloh Pergi ke tanah Suci Mekkah di samping menunaikan ibadah Haji beliau juga belajar disana selama hampir 5 tahun , Guru guru beliau di Mekkah adalah Kh.Mahfudz Termas yang juga berasal dari Indonesia dan Syech Al Yamani dari kedua guru inilah beliau mendapat ijazah istimewa karena kecerdasan yang beliau miliki.

Kyai Abdul Wahab kembali dari belajarnya di tanah suci Makkah. dan membantu mengajar di pesantren yang telah dirintis oleh ayahnya , kepedulian Kh.A wahab terhadap kondisi bangsa yang masih dijajah oleh bangsa Asing memaksa beliau untuk aktif terhadap gerakan kebangsaan melalui berdirinya “TASWIRUL AFKAR” bersama dengan Kh.Mas Mansyur dan sekarang menjadi Madrasah terbesar di kota Surabaya . Tahun 1916 dari Taswirul afkar ini beliau mendirikan madrasah “Nahdlatul Wathon” yang artinya kebangkitan tanah air. Pada mulanya madrasah ini di asuh oleh para ulama-ulama terkenal seperti KH.Mas mansyur lama kelamaan Madrasah tersebut menjadi tempat pengkaderan para remaja islam yang kemudian biasa disebut Jamiyyah Nasihin, Kh A Wahab juga mendirikan koperasi pedagang tahun 1918 yang bernama “Nahdaltut Tujjar” .

Memasuki tahun 1920 persaingan antara kaum Tradisionalis yang di wakili oleh Kh.A Wahab dan kaum Modernis yang di wakili oleh Kh.Ahmad dahlan ( pendiri Muhammadiyyah) dan Syeck Ahmad Sukarti ( Al irsyad ) semakin memanas , ketika kaum Modernis menyerang Praktek - praktek kaum Tradisionalis yang dianggapnya mengandung Kufarat dan Bid’ah. Kh.A Wahab dan Kh.Hasyim Asy’ari tidak sepenuhnya menolak saran kaum Modernis terutama mengenai modernisasi sistem pendidikan walaupun menolak meninggalkan Mazhab. Upaya mencari titik temu antara kaum tradisionalis dan modernis semakin sulit tatkala islam modernis semakin gencar melakukan pembaharuan melalui forum - forum perdebatan dan propaganda yang kontraversial adalah yang dilakukan oleh Faqih hasyim murid Haji Rosul dari sumatra barat di Surabaya.

Dan yang paling mengejutkan adalah mundurnya salah seorang Guru Nahdlatul Wathon yaitu Kh Mas Mansyur ikut bergabung dengan Muhammadiyah. Sungguhpun demikian Tokoh ulama tradisionalis tidak patah semangat , Kh A Wahab melobi beberapa Ulama -ulama untuk membentuk gerakan yang mewakili kaum Tradisionalis mulanya usaha Kh.A wahab di tolak oleh Kh.Hasyim Asy’ari karena khawatir akan memperuncing perselisihan yang akan mengakibatkan terjadinya perpecahan dikalangan umat Islam. Akhirnya Kh Hasyim Asy’ari berkonsultasi dengan gurunya KH.Muhammad Kholil bangkalan madura tentang Usulan para ulama yang mengawakili kalangan Tradisionalis untuk membentuk sebuah Jamiyyah. Lalu Kh Muhammad Kholil memberikan muridnya Kh Hasyim Asy”ari sebuah tongkat yang merupakan suatu Isyarat bahwa Gurunya merestui Usulan tersebut . Akhirnya tanggal 31 januari 1926 bertepatan dengan 16 Rajab 1334 H di bentuklah sebuah Jamiyyah yang di beri nama NAHDLATUL OELAMA ( NO ) atau Nahdlatul U’lama ( NU ) dalam ejaan yang telah di sempurnakan. Turut hadir dalam pertemuan tersebut tokoh tokoh ulama yang mewakili kaum Tradisionalis diantaranya adalah Kh.Hasyim Asy’ari, KH.A Wahab Hasbulloh, Kh.Bisri Sansuri(jomabang), Kh.Ridwan Abdulloh(Surabaya), Kh.Asnawi( Kudus), Kh.Ma’sum (lasem), Kh Nawawi (pasuruan), Kh.Nahrowi ( malang), Kh.Abdul Aziz (Surabaya) dll.

Pertemuan yang dilakukan di rumah Kh.A Wahab Hasbullah mengasilkan 3 keputusan penting.

1. Mengutus Delagasi untuk menemui Raja Sa’ud di Mekkah untuk menghormati dan menghargai kebebasan melakukan peribadatan kaum Tradisionalis di Indonesia dan usul tersebut diterima oleh Raja Sa’ud.

2. Membentuk Sebuah Jamiyyah sebagai wadah persatuan para Ulama dalam tugasnya memimpin umat menuju Izzatul Islam wal muslimin. Jamiyyah tersebut di beri nama Nahdlatul u’lama ( NU ) yang tujan utamanya adalah terwujudnya masyarakat islam yang beraqidah Ahlus sunnah wal jama’ah.

3. Semangat Nasionalisme dan kegamaan terhadap politik Hindia Belanda yang membatasi kebebasan umat Islam Indonesai melakukan ibadah Haji. Dan semangat melestarikan Trasidi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik ( al muhafadzah ‘ala qadim al salih wa al akhdzu bil jadid al aslah) . Hal ini yang telah di wariskan oleh para Walisongo dalam menyebarkan agama Islam di tanah air tanpa menimbulkan gejolak.

Kiprah perjuangan KH.A Wahab hasbulloh banyak sekali mewarnai perjalanan NU dari masa ke masa. Keputusan keputusan penting yang diambil NU mewarnai peran Kh.A.Wahab Hasbullah dalam percaturan politik di tanah air. Pada hari Rabu tanggal 29 Desember 1971 KH.A Wahab Hasbulloh meninggal dunia dan dimakamkan di komplek psantren Tambak beras Jombang Jawa timur.
Selengkapnya..

KH Sirajuddin Abbas Al Minangkabawi, Sumatra Barat

Biografi KH Sirajuddin Abbas (1905-1980)
Sebagian orang menuduh bahwa KH Sirojuddin Abbas adalah pembohong atau membuat fitnah. Ini dapat dinukil dari tulisan-tulisan puak salafi-wahabi. Akan tetapi, apakah banyak orang tahu siapakah KH Sirojuddin Abbas ini? Latar belakang beliau serta perjalanan dakwah beliau? oleh itu, ana akan memaparkan sekilas biodata beliau yang ana nukil dari Ensiklopedi Ulama Nusantara yang disusun oleh H. M. Bibit Suprapto.

Di kalangan ulama Indonesia, nama kiai Haji Sirojuddin Abbas sudah bukan nama asing lagi. Ulama ini terkenal seorang muallif kitab yang cukup produktif walau tidak sampai berjumlah puluhan buah. Sebagai seorang muallif kitab, Kiai Sirojuddin Abbas justru lebih banyak dikenal orang melalui karya-karya ilmiah keislaman yang disusunnya daripada bertemu langsung wajhan bi wajhin dengan orangnya.

Pikiran-pikiran keagamaan K. Sirojuddin Abbas banyak diikuti orang, baik yang menyangkut segi-segi akidah maupun syariah. Kitab-kitab karya ulama ini bukan saja dibaca oleh kelompok kecil di kalangan masyarakat Minangkabau di mana ia dilahirkan, bukan pula hanya oleh warga Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) yang pernah dipimpinnya, tetapi juga tersebar luas di kalangan umat Islam. Bisa dikatakan, orang Islam Indonesia, khususnya kelompok tradisional, menyatakan Kiai Sirojuddin sebagai pembela mazhab Syafi’i di Indonesia yang argumentatif dan menguasai bidangnya lewat kitab-kitab yang disusunnya. Kalangan tradisional di Indonesia, termasuk di dalamnya Nahdlatul Ulama, mengakui kealiman ulama ini. Ini terbukti dari banyaknya warga NU yang membaca karya-karya K. Sirojuddin Abbas, terutama warga NU dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Kelebihan lain K. Sirojuddin Abbas, selain seorang ulama muallif, adalah sangat gigih mempertahankan mazhab Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya mazhab Syafi’i dalam bidang ilmu fikih. Pembelaan ini relevan sekali dengan kondisi Indonesia dan Asia Tenggara yang mayoritas penganut mazhab Syafi’i dalam ibadahnya. Dengan pembelaannya yang gigih dan argumentatif, banyak kalangan modernis yang menyebutnya terlalu kaku dan apriori terhadap paham lain, khususnya paham-paham baru.

Sirojuddin Abbas dilahirkan tanggal 5 Mei 1905 M di Bengkawas, Bukittinggi (Sumatera Barat), putra seorang ulama besar di kawasan itu, Syekh Haji Abbas Qadli yang lebih dikenal dengan Syekh Abbas Ladang Lawas. Sebagai seorang putra ulama tentu saja Sirajuddin mendapatkan pendidikan ilmu-ilmu keislaman sejak usia kanak-kanak dengan harapan kelak ia menjadi seorang ulama penerus perjuangan ayahandanya.

Pertama kali ia belajar keagamaan kepada ayahandanya sendiri, kemudian meneruskan mengaji kepada ulama-ulama lain di kawasan Minangkabau. Sejak umur 7 hingga 9 tahun (1912-1924) ia menjelajahi beberapa pondok pesantren (surau) di ranah Minang untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman. Masih belum puas juga dengan ilmu yang didapatkan dari ulama-ulama tanah air, ia memperdalam ilmunya dengan pergi merantau di negeri orang, ke tanah suci Mekkah. Selama enam tahunan ia belajar di Mekkah (1927-1933) sekaligus menunaikan haji setiap tahunnya (7 kali) di sela-sela belajarnya dan tepat pada musim haji. Di sana ia banyak berkenalan dengan para pelajar dari kalangan melayu maupun dari belahan dunia lainnya. Ia berteman dengan Syekh Muhammad As’ad (ulama Bone), Haji Abdurrahman Sjihab (tokoh Al Wasliyah) dan lain-lain yang kala itu bersama-sama belajar di Mekah, di bawah asuhan ulama-ulama terkenal baik dari kalangan al-Jawi (Melayu) maupun dari kawasan lain.

Puas menuntut ilmu di tanah suci Mekah, ia pulang ke kampung halamannya di Minangkabau untuk meneruskan perjuangan ayahandanya, mengajar di pesantren ayahandanya, walau kemudian ia lebih melebarkan sayapnya berkiprah di dunia yang lebih luas, yakni dunia pendidikan, keagamaan, juga dunia politik. Sebagaimana telah di ketahui, Syeikh Abbas Ladang Lawas adalah pendiri Jam’iyah Perti (Perhimpunan Tarbiyah Islamiyah) 20 Mei 1930 bersam-sama Syeikh Sulaiman ar-Rasuli dan Syeikh Jamil Jaho (Trio Pendiri Perti). Sebagai putra pendiri organisasi Islam ini wajar sekali apabila Kiai Sirajuddin Abbas meneruskan perjuangan mereka, bahkan sempat tampil sebagai Ketua Umum Perti (1935). Jabatan ini di pertahankan terus sampai Perti menjadi sebuah partai politik (Partai Islam Perti) 1951. Ia pernah pula menjadi anggota parlemen mewakili Perti dan pernah menjabat Menteri Negara mewakili partainya. Jabatan ini dipegangnya hingga awal Orde Baru, ketika menjadi perpecahan dalam tubuh partai Perti, karena sebagian Pengurus Pusat Perti termasuk KH. Sirajuddin Abbas dianggap terlalu dekat dengan kelompok kiri.

Kiai Sirajuddin Abbas termasuk ulama Syafi’iyah yang sangat kukuh melestarikan dan mengembangkan mazhab Syafi’i, baik melalui jalur pendidikan, keagamaan maupun jalur politik. Setelah diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, berdirilah partai-partai politik di Indonesia dengan berbagai asas dan landasannya. Begitu pula Perti, yang asalnya merupakan jam’iyah diniyah sebagaimana Nahdlatul Ulama menjelma menjadi sebuah partai politik tersendiri tanpa bergabung dengan Masyumi dengan nama Partai Islam Perti berlambangkan masjid dan bintang. Partai ini tetap mencantumkan Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagai asas partainya dengan mengikuti mazhab Syafi’i.

Kiai Sirajuddin Abbas meneruskan perjuangan generasi pendiri organisasi itu dengan tetap pada prinsip semula. Ia mengubah perjuangan Perti tidak saja dalam dunia sosial pendidikan dan kebudayaan tetapi juga bidang politik. Partai Islam Perti terhitung partai keci. Tetapi dibawah kepemimpinan Kiai Sirajuddin Abbas, partai ini tetap eksis dan diperhitungkan oleh kelompok Islam lainnya. Bahkan bersama NU dan PSII (minus masyumi), Perti berhasil mendirikan Liga Muslim dengan tokoh-tokohnya Kiai Wahid Hasyim, Kiai Sirajuddin Abbas dan Abi Kusno Cokrosuyoso (1952), tetapi liga ini tidak dapat berjalan secara efektif dan akhirnya pudar.

Sebagai seorang ulama dan politisi, KH Sirajuddin Abbas memiliki banyak pengalaman di bidang politik maupun keagamaan. Ia banyak berkunjung ke berbagai negara asing, baik melalui kunjungan resmi (kenegaraan) sebagai anggota lembaga legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat) maupun kunjungan kerja lain dalam missi keagamaan. Di antara negara yang pernah dikunjunginya antara lain Arab Saudi, Mesir, Yaman, Libanon, Syiria, Irak, Iran, Pakistan, Kazakstan, Turkistan, Turkmenia, Sin Kiang, Aljazair, dan Maroko. Mustahil apabila tokoh ini tidak memiliki pengalaman yang cukup di bidang politik maupun kemasyarakatan. Karena kedekatannya dengan tokoh-tokoh politik kiri, yang tentunya demi kepentingan politiknya dan eksistensinya Perti sebagai partai kecil, maka ia sering dicap sebagai sel dari PKI dan kelompok kiri lainnya.

Walaupun KH Sirajuddin Abbas banyak terlibat dalam kegiatan praktis, tetapi ia tidak pernah melupakan kegiatan keagamaan. Semasa menjadi partai politik, Perti juga tetap menangani masalah keagamaan, sosial dan pendidikan, sebagaimana peran yang diambil oleh Nahdlatul Ulama. Memang kedua organisasi ini termasuk kelompok organisasi Islam tradisional di samping Al Wasliyah, Nahdlatul Wathan dan beberapa organisasi Islam berskala lokal.

KH Sirajuddin Abbas tercatat sebagai ulama terkemuka bukan lantaran pondok pesantren yang dipimpinnya, bukan karena ia seorang orator yang memukau publiknya,bukan pula karena ia tokoh partai politik Islam atau politisi. KH Sirajuddin Abbas dikategorikan sebagai ulama besar karena ia seorang ulama muallif (pengarang) yang bukunya dipergunakan sebagai rujukan berbagai pihak dari kalangan ulama Islam dalam mempelajari ilmu keislaman khususnya Ahli Sunnah wal Jamaah dan mazhab Syafi’i. Bayangkan saja, tokoh-tokoh ulama, cendekiawan sampai mahasiswa dan pelajar dari kalangan Nahdlatul Ulama (sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia) banyak mengikuti pendapat KH Sirajuddin Abbas yang ditulis dalam buku-bukunya. Mereka mengikuti pemikiran KH Sirajuddin Abbas tanpa memandangnya sebagai pemimpin organisasi Islam yang kecil semacam Perti, tetapi semata-mata karena keulamaannya.

Di antara karya ilmiah KH Sirajuddin Abbas yang banyak dibaca orang adalah I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengupas tentang firqah-firqah faham dalam bidang akidah keislaman yang 73 aliran. Di antara yang paling tepat adalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Begitu pula kitab 40 Masalah Agama (4 jilid) banyak mengupas persoalan-persoalan fikih yang dibahasnya secara argumentatif menurut faham mazhab Syafi’i. Kitab ini banyak dipergunakan di masyarakat Islam, baik di kalangan intelektual maupun orang awam.

Sebahagian karya ilmiah KH Sirajuddin Abbas ditulis dalam bahasa Arab sebagian lagi dalam bahasa Indonesia. Kitab-kitab kuning berbahasa Arab yang ditulis KH Sirajuddin Abbas adalah:

~ Siraj al-Munir, berisi fikih Syafi’i terdiri 2 jilid.
~ Jawahir Ilm an-Nafs, berisi ilmu jiwa ditinjau dari ajaran Islam.
~ Siraj al-Bayan fi Fihrasati Ayat al-Qur’an, berisi tentang pembahasan ayat-ayat Al-Qur’an untuk memudahkan orang mempelajari kitab suci itu.
~ Bidayah al-Balaghah, tentang ilmu balaghah dan bayan (retorika).
~ Khulashah Tarikh al-Islam, tentang sejarah Islam.
~ Ta’limul Insya’.

Karya-karyanya dalam bahasa Indonesia antara lain:

~ I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah
~ 40 Masalah Agama, terdiri 4 jilid besar.
~ Thabaqatus Syafi’iyah, yang berisi untaian ulama-ulama Syafi’iyah dari zaman ke zaman, termasuk sejarah singkat dan karya-karyanya.
~ Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i, juga pembelaan terhadap mazhab ini di Indonesia.

KH Sirajuddin Abbas tetap berkhidmat dalam perjuangan Islam melalui kegiatan karya ilmiah maupun kegiatan keagamaan lain yang praktis sampai usia lanjut. Ulama ini wafat di Jakarta tanggal 27 Agustus 1980 dalam usia 75 tahun, usia yang bisa dikatakan lanjut untuk manusia masa kini. Walaupun ia telah wafat, tetapi pengaruhnya tetap hidup di kalangan umat, selama karya-karyanya masih tetap dibaca oleh kaum muslimin. Bagaimanapun juga KH Sirajuddin Abbas merupakan salah seorang ulama pembela mazhab Syafi’i yang gigih di Indonesia walaupun banyak yang menilai karya-karyanya lebih bersifat doktrinal dan bahkan apologis untuk Ahlussunnah wal Jama’ah terutama dalam bidang fikih mazhab Syafi’i.
Selengkapnya..

Syekh Fadhil bin Abu Bakar Al Bantani

Ulama yang sangat besar pengaruhnya dalam bidang kerohanian dalam kerajaan Johor pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 tidak lama dahulu ialah Syeikh Kiyai Haji Fadhil bin Haji Abu Bakar al-Banten.

Ulama besar ini lahir di Banten, Jawa Barat sekitar tahun 1287 Hijrah/1870 Masihi dan meninggal dunia di Bakri, Muar, Johor pada 29 Jamadilawal 1369 Hijrah/18 Mac 1950 Masihi. Beliau dikebumikan di Batu 28 Lenga, Muar. Selain mendapat pendidikan dari kalangan keluarga sendiri, Syeikh Fadhil juga memasuki pelbagai pondok pengajian di Banten. Sekitar usia tiga puluhan, barulah beliau melanjutkan pendidikannya di Makkah.

Syeikh Fadhil telah mendapat pendedahan amalan tariqat semenjak berada di Banten lagi. Beliau mengenali Tariqat Qadiriyah wan Naqsyabandiyyah (TQN) yang tersebar di seluruh Jawa yang dibawa oleh murid-murid Syeikh Ahmad Khatib bin Abdul Ghaffar Sambas (lahir 1217 Hijrah/ 1802 Masihi, wafat 1289 Hijrah/1872 Masihi). Salah seorang khalifahnya yang paling terkenal, yang berasal dari Banten ialah Syeikh Abdul Karim al-Bantani (wafat 18 Safar 1315 Hijrah/19 Julai 1897 Masihi). Syekh Fadhil telah ditawajjuh dengan kedua-dua tariqat (Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah) tersebut oleh Syeikh Abdul Karim al-Bantani, ulama Banten yang sangat terkenal itu.

Ketika berada di Makkah, Syeikh Fadhil dikatakan banyak bergaul dengan pengikut tariqat Tijaniyah sehinggakan beliau juga diriwayatkan menerima Tariqat Tijaniyah tetapi tidaklah diketahui dengan jelas daripada siapa beliau menerima tariqat itu. Dengan itu, jelaslah bahawa Syeikh Fadhil mempunyai pengetahuan yang sangat meluas dalam amalan-amalan tariqat yang muktabar khususnya tariqat Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah yang sangat terkenal dalam bidang tariqat.

Tentang penghijrahannya ke Tanah Melayu, ianya bermula apabila Penghulu Mukim Lenga yang bernama Haji Daud sangat tertarik pada keperibadian, keilmuan dan kerohanian yang ada pada Syeikh Fadhil lalu penghulu itu berusaha memujuk ulama yang berasal dari Banten ini supaya datang ke Johor. Akhirnya hasrat Haji Daud tercapai apabila Syeikh Fadhil bersetuju untuk datang ke Johor. Maka dalam tahun 1915 Masihi, Syeikh Fadhil tiba di Johor. Beliau mengajar di Kampung Lenga, Muar. Selain pelbagai ilmu Islam yang asas seperti fardu ain, Syeikh Fadhil amat menekankan amalan Wirid Khaujakan atau Khatam Khaujakan yang sangat terkenal dalam ajaran Tariqat Naqsyabandiyah. Isi kandungan wirid ini adalah zikir-zikir (ayat-ayat Al-Qur’an, selawat atas Nabi, Asma’ ul husna dan lain-lain) yang tujuannya utamanya mendekatkan diri kepada Allah dan memohon keredhaannya. Perkataan ‘Khaujakan’ ini berasal dari perkataan Farsi dalam bentuk jamak (plural), dan mafradnya (tunggalnya) ‘khawajah’ yang bererti syeikh atau guru. ‘Khatam Khaujakan’ sebenarnya merujuk kepada perihal tuan guru menyudahkan majlis bersama anak muridnya dengan membaca zikir-zikirnya dengan adab-adab dan kifiatnya.
Syeikh Fadhil melebarkan sayap dakwahnya keseluruh tempat dimana beliau mengajar seperti Bandar Maharani (Muar), Bakri, Bukit Kepong dan tempat-tempat lainnya. Kesungguhan dan keikhlasan beliau menyebarkan dakwah menyebabkan beliau disenangi segenap lapisan masyarakat, bahkan ajaran beliau dapat diterima oleh semua pihak termasuk Sultan Johor. Beliau juga diriwayatkan rapat dengan Sultan Johor. Semuanya bermula ketika perang dunia kedua meletus antara tahun 1939 hingga tahun 1945. Dalam masa darurat itulah Sultan Ibrahim, Sultan Johor merasa perlu menyelamatkan Kerajaan Johor, termasuk diri peribadi dan keluarganya dengan apa cara sekali pun. Atas nasihat beberapa insan yang arif, baginda mendekati Syeikh Fadhil. Baginda menitahkan Datuk Othman Buang, Pegawai Daerah Muar ketika itu untuk mencari dan menjemput ulama sufi itu datang ke istana baginda. Hajat Sultan Ibrahim itu dipersetujui oleh Syeikh Fadhil tetapi ulama besar itu tidak mahu tinggal dirumah yang disediakan oleh Sultan tetapi hanya mahu tinggal di Masjid Pasir Pelangi. Di sebelah malamnya, beliau hadir di sebelah bilik peraduan Sultan Ibrahim dengan membaca wirid untuk menjaga keselamatan sultan. Walau bagaimana pun untuk lebih mudah melakukan pelbagai amalan wirid dan munajat kepada Allah, beliau memilih masjid yang lebih banyak berkatnya dari rumah. Oleh itu Fadhil lebih banyak melakukannya di dalam masjid.
Akhirnya Sultan Ibrahim memperoleh ketenangan jiwa kerana keberkesanan dan keberkatan doa Syeikh Fadhil. Setelah perang dunia kedua berakhir, baginda memberikan anugerah kepada ulama sufi tersebut. Seperti yang disebut oleh almarhum al-Ustaz Haji Wan Mohd Saghir,
Ustaz Haji Ahmad Tunggal (kini YDP Persatuan Khaujakan) dalam bukunya menyebut, ``Sultan telah menganugerahkan pangkat kepada Haji Fadhil, iaitu ia dilantik sebagai Mufti Peribadi Sultan. Jawatan ini berbeza dengan Mufti Kerajaan. Mufti Peribadi adalah bertanggungjawab kepada sultan. Ia memberi nasihat dan fatwa jika dikehendaki oleh sultan.''
Selain anugerah yang berupa kedudukan itu, Sultan Ibrahim juga membiayai Syeikh Fadhil dan isterinya menunaikan ibadah haji, dan memberikan hadiah-hadiah yang tidak terkira besar dan banyaknya. Sumbangan yang tiada terhingga besarnya daripada Sultan Ibrahim ialah apabila baginda membuka pintu kebebasan seluas-luasnya kepada Syeikh Fadhil untuk menubuhkan kumpulan-kumpulan Wirid Khaujakan di seluruh Kerajaan Johor tanpa sebarang halangan. Seperti yang dicatat oleh almarhum al-Ustaz Haji Wan Mohd Saghir tentang penubuhan kumpulan ini,
Berdasarkan tulisan Ustaz Haji Ahmad Tunggal, peringkat awal pembentukan kumpulan tersebut di Pontian diketuai oleh Haji Ahmad Syah. Di Batu Pahat oleh Kiyai Saleh. Di Muar oleh Haji Abdul Majid dan di Mersing oleh Haji Siraj bin Marzuki.
Daripada isteri yang pertama, Syeikh Fadhil memperoleh empat orang anak; seorang lelaki dan tiga perempuan. Anak lelakinya ialah Orang Kaya Penghulu Haji Abdul Hamid. Setelah isteri pertamanya meninggal dunia, beliau berpindah ke Bandar Muar dan berkahwin lagi dengan seorang janda beranak dua. Kedua-dua anak tirinya iaitu Haji Othman bin Haji Azhari dan Haji Ali bin Haji Azhari meneruskan perjuangan Syeikh Fadhil. Antara murid Syeikh Fadhil yang menjadi ulama besar ialah Sahibus Samahah Haji Ahmad Awang yang pernah menjadi Mufti Kerajaan Johor dan anak tirinya, Haji Othman Azhari yang pernah memegang jawatan Yang Dipertua Badan Kebajikan Jamaah Khaujakan.
Anak tirinya yang gigih meluaskan amalan wirid Khaujakan ialah Haji Othman bin Azhari. Beliau dilahirkan di Jalan Bakri, Muar pada bulan April tahun 1915 dan dibesarkan oleh ibunya setelah bapanya meninggal dunia ketika usianya masih kecil. Beliau mendapat didikan secara formal di bidang agama di sekolah agama di Muar dan pada tahun 1936 beliau telah melanjutkan pengajiannya di Kuliatul Al-Attas di Johor Bahru. Selepas tamat pengajian beliau mengajar di sekolah sekolah agama di Muar termasuk Madrasah Maharani al-Islamiah, Madrasah Lughatul Quran dan Madrasah Sa’diah. Tokoh yang paling banyak memberi bimbingan kerohanian kepadanya tidak lain tidak bukan ialah ayah tirinya iaitu Syeikh Fadhil Banten. Setelah Syeikh Fadhil Banten wafat, Haji Othman meneruskan usaha mengembangkan wirid khaujakan. Mulai tahun 1967 perkembangan wirid khaujakan telah menampakan pesatnya apabila Tuan Guru Haji Othman Azhari telah berusaha mengumpulkan para ahli ibadah mengamalkan wirid khaujakan secara beramai ramai di masjid Jamek Muar tiap tiap malam Jumaat dari jam 12 malam hingga subuh. Pada mulanya ia disertai oleh beberapa orang dan kemudiannya telah meningkat kepada 600 orang yang datang dari pelbagai daerah. Perkembangan yang pesat ini telah menyebabkan semakin banyak kumpulan wirid ditubuhkan di serata daerah. Pada penghujung tahun 1969, keahlian wirid khaujakan telah meningkat kepada ribuan orang dan bagi mengelak dari fitnah orang maka Tuan Guru Haji Othman Azhari mengambil keputusan mendaftar secara sah dengan pendaftar pertubuhan di Johor. Maka urusan pendaftaran pun diusahakan dan pada 2 November 1971 kumpulan ini didaftarkan di bawah undang undang pertubuhan negeri Johor dengan nama Badan Kebajikan Jemaah Khaujakan Johor dengan No.Pendaftaran 473 (Johor). Tuan Guru Haji Othman Azhari turut menyusun beberapa buah buku risalah wirid Khaujakan dan beberapa buah buku lain bagi memudahkan ahli pertubuhan mengamalkan wirid dan membuat rujukan bacaan. Wirid Khaujakan yang asal adalah panjang, tetapi setelah diringkaskan oleh Tuan Guru Haji Othman, wirid tersebut boleh diselesaikan dalam masa sekitar 45 minit. Tuan Guru Haji Othman meringkaskan wirid itu setelah melakukan istikharah. Tuan Guru Haji Othman Azhari selaku Yang DiPertua persatuan telah memimpin ahli-ahlinya sehingga satu ketika jumlah ahlinya mencecah lebih 20,000 orang.Setelah memimpin pertubuhan ini selama 24 tahun Tuan Guru Haji Othman Azhari menyerahkan pimpinan pertubuhan ini kepada timbalannya. Pada tanggal 23 haribulan Jun 1995 beliau wafat pada usianya 80 tahun dan di kebumikan di tanah perkuburan Batu 2 Jalan Bakri, Muar Johor. Kini, persatuan Khaujakan dipimpin oleh Ustaz Haji Ahmad bin Tunggal.
Selengkapnya..

Syekh Yusuf Al Makasari, Sulawesi Selatan

Cikal bakal pendekar pendekar Banten yang terkenal sakti tak lepas dari upaya Syech Yusuf al makasari. Ulama kelahiran Bugis Makasar ini lama menetap di Banten dan menjadi Kaki tangan Sultan Ageng Tirtayasa berjuang bersama dalam mensyiarkan Islam dan melawan Penjajahan belanda. Sekitar tahun 1670 sekembalinya dari timur tengah Syech Yusuf al makasari tinggal di banten dan menikah dengan Putri Sultan Ageng Tirtayasa. Kedalaman ilmu yang dimiliki Syeck Yusuf menjadikan Beliu begitu cepat terkenal dan menjadikan Banten sebagai Pusat pendidikan Islam. Banyak Murid murid yang berdatangan dari berbagai penjuru negri untuk belajar kepada Syech Yusuf . Disamping mengajarkan tentang ilmu-ilmu syariat beliau juga mengajarkan ilmu beladiri untuk berjuang bersama melawan penjajah Belanda.

Putra Bugis sulawesi lahir di tallo 13 jui 1627 ,Ayahnya bernama Abdulloh dan ibunya bernama Aminah, sejak kecil di didik dalam lingkungan yang islami belajar kepada ulama-ulama setempat namun yang menarik perhatiaannya adalah kecintaannya untuk memperdalam ilmu tasawuf. Menginjak remaja beliau belajar kepada seorang ulama terkenal di Makasar bernama Syech Jalaludin al aidit. Tahun 1644 Syech yusuf dengan menumpang kapal melayu belayar menuju Timur tengah untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Di Damaskus beliau berguru kepada Syech Abu al barkah dan gurunya tersebut yang memberi nama syech yusup dengan “Al makasari” serta memberikan ijazah Tarekat Khalwati kepadanya. DI samping belajar syech yusul al makasri juga mengajar di Mekkah kepada santri-santri yang berasal dari indonesia . Konsep tasawuf yang di ajarkan Syech Yusuf tentang Pemurnian kepercayaan pada keesaan Tuhan sangat menarik minat pelajar-pelajar yang berada di Mekkah . Menurut Syech Yusuf bahwa Tauhid adalah komponen penting dalam ajaran Islam maka bagi yang tidak percaya tentang tauhid dikategorikan sebagai kafir. Hakekat Tuhan sendiri menurut Syech Yusuf adalah kesatuan dari sifat-sifat yang saling bertentangan dan tak seorangpun dapat memahami Sirr ( rahasia) kecuali mereka yang telah di beri Kasyaf oleh Tuhan. Beliau menegaskan bahwa seseorang yang mengamalkan Syariat itu lebih baik daripada orang yang mengamalkan Tasawuf tapi mengabaikan ajaran Hukum Islam.

Selama Menetap di banten Syech Yusuf al makassari menjabat sebagai Penasehat Spritual Sultan Ageng Tirtayasa, pengaruhnya terhadap masyarakat banten untuk melawan Penjajah Belanda sangat ditakutkan oleh belanda, apalagi Murid -murid Syech yusuf Al makassari terkenal sebagai pendekar pendekar Banten yang kebal terhadap Senjata membuat Pasukan Belanda kalang kabut. Maka tehnik licik belandapun dilakukannya dengan memecah belah serta mengadu domba terhadap keluarga Sultan. Hasutan-hasutan Belanda terhadap putra Sultan Ageng tirtayasa yang bernama Sultan Haji rupanya telah berhasil. Dengan dukungan militer Belanda Sultan Haji Putra Sultan Ageng bertempur dengan Ayahnya Sendiri Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam pertempuran tersebut Syech Yusuf di tawan Belanda dan diasingkan ke Pulau Ceylon ( srilangka) . Di pengasingannya beliu bertemu dengan Ulama Sri langkah bernama Syech Ibrahim bin mi’an dan sering mengadakan diskusi kegamaan dan majlis ta’lim . Pembahasan tentang konsep Tasawuf yang diajarkan oleh Syech Yusuf sangat menarik minta para ulama serta jama’ah setempat dan mereka meminta kepada Syech Yusuf untuk membuat sebuah Kitab tentang Tasawuf. Dan Syech yusufpun akhirnya mengarang Kitab tentang Konsep tawasuf yang berjudul “kaypiyyah At tasawuf”. Rupanya Belanda tak mau kecolongan lagi dengan pengaruh - pengaruh Syech Yusuf sehingga Syech yusufpun kembali di asingkan ke Afrika Selatan sampai akhir hayatnya. Syech yusuf al makassari wafat tahun 1699 dalam usia 72 tahun dan di makamkan di Afrika selatan. Dan yang menarik adalah sekitar tahun 1705 kerangka Syech yusuf Al makassari yang di makamkan di afrika selatan di pindahkan oleh murid-murid beliau ke Tanah kelahirannya di Sulawesi selatan.
Selengkapnya..

Syekh Abdul Karim Al Bantani

Syekh Abdul Karim Pemimpin Tarekat Nusantara

Gerakan kebangkitan kembali yang dipimpin Syekh Abdul Karim alias Kiai Ageng memang memperlihatkan sikap yang keras dalam soal-soal keagamaan dan bernada puritan. Tetapi ia bukan seorang revolusioner yang radikal. Kegiatan-kegiatannya terbatas pada tuntutan agar ketentuan-ketentuan agama, dengan tekanan khusus kepada salat, puasa, mengeluarkan zakat dan fitrah, agar benar-benar dilaksanakan. Dan tentu saja, zikir merupakan kegiatan yang pokok pula.

Senin, 13 Februari 1876. Haji Abdul Karim meninggalkan Tanara. Ia terpaksa meninggalkan Banten menuju tanah airnya yang kedua, Makkah, menyusul pengangkatannya sebagai Pemimpin Tarekat Qadiriah, menggantikan Syekh Ahmad Khatib Sambas. Ikut bersamanya 10 anggota keluarga, enam orang pengawal, dan 30 atau 40 orang yang menyertainya hanya sampai Batavia.

Khawatir akan kemungkinan turunnya rakyat secara besar-besaran ke jalan, Residen Banten meminta Kiai Abdul Karim mengubah rute perjalanannya. Rencananya singgah di beberapa tempat di Tangerang dibatalkan; diputuskan ia akan menumpang kapal langsung ke Batavia. Padahal banyak haji dari Tangerang dan Distrik Bogor sudah berangkat ke Karawaci. Selain itu, satu pertemuan besar akan digelar di rumah Raden Kencana, janda Tumenggung Karawaci dan ahli waris perkebunan swasta Kali Pasir, yang selain oleh anggota keluarganya juga bakal dihadiri orang-orang yang dicap pemerintah kolonial sebagai “fanatik” dan pembangkang. Semuanya urung. Toh murid dan para pengikut Abdul Karim berduyun-duyun bertolak dari desa-desa pantai, seperti Pasilian dan Mauk, dengan menggunakan berbagai perahu, untuk menyatakan salam perpisahan—dan semoga Kiai kembali.

Tak syak lagi, Haji Abdul Karim adalah salah satu ulama yang sangat dihormati dan paling berpengaruh di Nusantara pada penghujung abad ke-19. Ia digelari Kiai Agung. Bahkan sebagian orang menganggapnya sebagai Wali Allah, yang telah dianugerahi karamah. Di antara peristiwa yang disebut-sebut sebagai petunjuk kekaramatannya, pertama, ia selamat ketika seluruh daerah dilanda banjir air Sungai Cidurian; kedua, setelah ia dikenai hukuman denda, residen diganti dan bupati dipensiun.

Besarnya pengaruh Kiai Abdul Karim, juga tampak ketika ia melangsungkan pernikahan putrinya. Seluruh desa Lampuyang, tempat tinggalnya, dihias dengan megah. Kiai-kiai terkemuka – termasuk dari Batavia dan Priangan – datang di pesta yang antara lain dimeriahkan rombongan musik dari Batavia dan berlangsung sepekan itu.

Sejak muda Abdul Karim berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas. Pemimpin tarekat yang juga menguasai hampir semua cabang ilmu keislaman ini dilahirkan di Sambas, Kalimantan Barat, dan bermukim di Makkah sejak perempat kedua abad ke-19. Pengarang Fathul ‘Arifin ini – kitab pedoman praktis untuk para pengamal tarekat di Asia Tenggara – mengajar di Masjidil Haram sampai wafatnya pada 1875. Ulama terkemuka ini punya banyak pengikut, sehingga ajaran Qadiriah menyebar di berbagai daerah di Nusantara, seperti Bogor, Tangerang, Solok, Sambas, Bali, Madura, dan Banten. Kecuali di Madura, semua pengikut tersebut berada di bawah bimbingan Haji Abdul Karim. Boleh dikatakan, Abdul Karim adalah murid Syekh Sambas yang paling terkemuka. Tak heran, jika dia mendapat kepercayaan gurunya untuk menyebarkan ajaran Tarekat Qadiriah.

Tugas pertama yang diemban Haji Abdul Karim adalah menjadi guru tarekat di Singapura. Setelah beberapa tahun, ia kembali ke desa asalnya, Lampuyang, Tanara, pada tahun 1872. Ia mendirikan pesantren, dan karena sudah amat terkenal, dalam waktu singkat ia sudah banyak memperoleh murid dan pengikut. Sulit diperkirakan berapa jumlah pengikutnya. Yang pasti, dialah yang paling dominan di kalangan elite agama di Banten kala itu.

Kurang lebih tiga tahun Kiai Abdul Karim tinggal di Banten. Ditunjang kekayaan yang dimiliknya, ia mengunjungi berbagai daerah di negeri ulama dan jawara itu, sambil menyebarkan ajaran tarekatnya. Selain kalangan rakyat, ia juga berhasil meyakinkan banyak pejabat pamong praja untuk mendukung dakwahnya. Tidak kurang dari Bupati Serang sendiri yang menjadi pendukungnya. Sedangkan tokoh-tokoh terkemuka lainnya, seperti Haji R.A Prawiranegara, pensiunan patih, merupakan sahabat-sahabatnya, dan mereka amat terkesan dengan dakwahnya. Alhasil, Kiai Abdul Karim sangat populer dan sangat dihormati oleh rakyat; sedangkan para pejabat kolonial takut kepadanya. Kediamannya dikunjungi Bupati Serang dan Residen Banten. Dan tentu saja kunjungan kedua petinggi di Banten itu membuat gengsinya semakin naik. Tidak berlebihan jika dikatakan, Kiai Abdul Karim benar-benar orang yang paling dihormati di Banten.

Sebelum kedatangan Kiai Agung dengan tarekat Qadiriahnya, para kiai bekerja tanpa ikatan satu sama lainnya. Tiap kiai menyelenggarakan pesantrennnya sendiri dengan caranya sendiri dan bersaing satu sama lainnya. Maka, setelah kedatangan Kiai Abdul Karim, tarekat Qadiriah bukan saja semakin mengakar di kalangan rakyat, tapi mampu mempersatukan para kiai di Banten. Penyebaran tarekat ini diperkuat oleh kedatangan Haji Marjuki, murid Haji Abdul Karim yang paling setia, dari Makkah

Kiai Abdul Karim memang orang kaya. Dan kekayaan itu memungkinkannya menjelajahi berbagai daerah di Banten. Dalam kunjungan-kunjungan itu dia tak henti-henti berseru kepada rakyat supaya memperbarui kehidupan agama mereka dengan jalan lebih taat beribadah.Ia menjelaskan bahwa aqidah (keyakinan) dan ibadah (praktek agama) harus terus dimurnikan. Abdul Karim memfokuskan zikir sebagai tema keangkitan kembali kehidupan agama (revival). Maka zikir diselenggarakan di mana-mana, menggelorakan semangat keagamaan rakyat. Dan Berkat kedudukannya yang luar biasa, khotbah-khotbah Kiai Abdul Karim mempunyai pengaruh yang besar terhadap penduduk.

Dalam waktu singkat, setelah Haji Abdul Karim memulai kunjungannya dari satu tempat ketempat lain, daerah Banten diwarnai kehidupan keagamaan yang luar biasa aktifnya. Pengaruh dari meluasnya kegiatan keagamaan ini adalah bangkitnya semangat di kalangan umat dalam menentang penguasa asing. Kebetulan pada waktu itu sudah berkembang rasa ketidakpuasaan rakyat kepada pemerintah kolonial akibat tindakan politik dan ekonomi mereka yang merugikan rakyat. Dalam situasi demikian, para ulama secara bertahap membangunkansemangat rakyat untuk melawan pemerintah kolonial Belanda. Ketidakpuasan itu kemudian memuncak sedemikian rupa sehingga beberapa ulama merencanakan waktu untuk memberontak terhadap Belanda. Kiai Abdul Karim sendiri menganggap bahwa pemberontakan belum tiba saatnya karena rakyat belum siap.

Haji-haji Berjiwa Pemberontak

Seperti diungkapkan sejarawan Sartono Kartodirdjo, gerakan kebangkitan kembali yang dipimpin Kiai Abdul Karim memang memperlihatkan sikap yang keras dalam soal-soal keagamaan dan bernada puritan. Tetapi ia bukan seorang revolusioner yang radikal. Kegiatan-kegiatannya terbatas pada tuntutan agar ketentuan-ketentuan agama, dengan tekanan khusus kepada salat, puasa, mengeluarkan zakat dan fitrah, agar benar-benar dilaksanakan. Dan tentu saja, zikir merupakan kegiatan yang pokok pula. Setelah Haji Abdul Karim meninggalkan Banten, menurut Sartono, gerakan itu berpaling dari semata-semata sebagai gerakan kebangkitan kembali. Semangat yang sangat anti asing mulai merembesi gerakan tarekat yang telah ditumbuhsuburkan Kiai Abdul Karim. Dan pada akhirnya haji-haji dan guru-guru tarekat yang berjiwa pemberontak menempatkan ajaran tarekat sepenuhnya di bawah tujuan politik.

Syekh Abdul Karim disebut sebagai salah satu di antara tiga kiai utama yang memegang peranan penting dalam pemberontakan rakyat Banten di Cilegon pada tahun 1888. Dua tokoh kunci lainnya adalah KH Wasid dan KH Tubagus Ismail. Sebelum bertolak ke Makkah, sekali lagi ia berkeliling Banten. Di tempat-tempat yang dikunjunginya, ia berseru kepada rakyat agar berpegang teguh pada ajaran agama, dan menjauhkan diri dari perbuatan mungkar. Ia memilih beberapa ulama terkemuka untuk memperhatikan kesejahteraan tarekat qadiriah. Ia juga pamit kepada para pamong praja terkemuka, dan berpesan kepada mereka untuk menyokong perjuangan para ulama dalam membangun kembali kehidupan keagamaan, dan agar selalu minta nasihat kepada mereka mengenai soal-soal keagamaan.

Menjelang keberangkatannya, kepada murid-murid dekatnya Syekh Abdul Karim mengatakan bahwa dia tidak akan kembali lagi ke Banten selama daerah ini masih dalam genggaman kekuasaan asing. Dia memang tidak terlibat secara langsung pemberontakan yang meletus 12 tahun setelah keberangkatannya ke Tanah Suci itu. Tapi dialah yang menjadi perata jalan bagi murid-murid dan pengikutnya untuk melakukan jihad atau perang suci. Di antara murid-muridnya yang terkemuka, yang mempunyai peranan penting dalam pemberontakan Banten, antara lain Haji Sangadeli dari Kaloran, Haji Asnawi dari Bendung Lampuyang, Haji Abu Bakar dari Pontang, Haji Tubagus Ismail dari Gulacir, dan Haji Marjuki dari Tanara. Mereka juga dikenal sebagai pribadi-pribadi yang punya karisma.

Kepergian Abdul Karim ke Makkah, ternayata tidak menyurutkan pengaruhnya di Banten. Popularitasnya bahkan meningkat. Rakyat selah dilanda rindu dan ingin bertemu dengannya. Sementara para muridnya sendiri sudah tidak sabar menantikan seruannya untuk berontak.

Snouck Hurgronje, yang menghadiri pengajiannya di Makkah pada 1884-1885, menceritakan:

“Setiap malam beratus-ratus orang yang mencari pahala berduyun-duyun ke tempat tinggalnya, untuk belajar zikir dari dia, untuk mencium tangannya, dan untuk menayakan apakah saatnya sudah hampir tiba, dan berapa tahun lagi pemerintahan kafir masih akan berkuasa.”

Tetapi Syekh Abdul Karim tidak memberikan jawaban pasti. Dia selalu memberikan jawaban-jawaban yang samar tentang soal-soal yang sangat penting seperti mengenai pemulihan kesultanan atau saat dimulainya jihad. Dia hanya mengisyaratkan bahwa waktunya belum tiba untuk melancarkan perang sabil.***

Dilema Guru, Dilema Murid

Pada 1883 murid Syekh Abdul Karim, Kiai Haji Tubagus Ismail, kembali dari Makkah, mendirikan pesantren dan mendirikan cabang tarekat Qadiriah di kampung halamannya, Gulacir. Bangsawan yang ingin menghidupkan kembali kesultanan Banten ini juga dianggap sebagai wali – ia tidak mencukur rambutnya seperti umumnya para haji, dan dalam setiap jamuan hampir tidak pernah makan apa-apa. Ditambah bahwa ia juga cucu Tubagus Urip, yang sudah dikenal sebagai wali, maka dalam waktu singkat KH Tubagus Ismail sudah punya banyak pengikut , dan kepemimpinannya semakin diakui di Banten. Menyadari dirinya mulai menarik perhatian umum, ia pun segera melancarkan propaganda untuk melawan penguasa kafir. Banyak ulama yang mendukungnya seperti Haji Wasid dari Beji, Haji Iskak dari Saneja, Haji Usman dari Tunggak, selain kiai-kiai seperguruannya seperti Haji Abu Bakar, Haji Sangadeli dan Haji Asnawi. Untuk mengkonkretkan rencana pemberontakan, rapat pertama diadakan pada tahun 1884 di kediaman Haji Wasid.

Pada Maret 1887 Haji Marjuki, yang sering pulang pergi Banten-Makkah, tiba di Tanara. Murid kesayangan dan wakil Haji Abdul Karim ini juga sahabat dekat Haji Tubagus Ismail. Menurut dugaan para pendudukung pemberontakan, kedatangan Haji Marjuki itu adalah atas permintaan sahabatnya itu. Haji Marjuki segera melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah di Banten, Tangerang, Batavia, dan Bogor untuk mendakwahkan gagasan tentang jihad. Propagandanya cepat diterima umum, karena ia bertindak atas nama Haji Abdul Karim. Dilaporkan, setelah berbagai kunjungannya itu, masjid-masjid dipenuhi orang-orang yang beribadah, jamaah pada hari-hari Jum’at meningkat tajam. Dalam berdakwah di luar Banten, Haji Marjuki dibantu oleh Haji Wasid, yang juga sangat berhasil meyakinkan para kiai di daerah Jawa Barat. Dikatakann, kedua haji ini sesungguhnya merupakan jiwa gerakan jihad di Banten. Bahkan pejabat-pejabat tertentu di Banten, seperti residen, menganggap bahwa Haji Marjuki bertanggung jawab sepenuhnya atas pemberontakan itu.

Tetapi, menjelang pemberontakan meletus, Haji Marjuki segera berangkat ke Makkah bersama istri dan anaknya. Sebelum berangkat ia sempat memberkati pakaian putih yang akan dikenakan para pemberontak di masjid kediamannya di Tanara. Rupanya ia tidak sependapat dengan kiai lainnya, khususnya Haji Wasid, yang akan memulai pemberontakan pada bulan Juli. Kepada mereka ia menjelaskan bahwa pemberontakan itu terlalu dini, dan ia meninggalkan Banten sebelum pemberontakan pecah. Dan jika pemberontakan itu berhasil, ia akan mengundang Syekh Abdul Karim dan Syekh Nawawi untuk datang ke Banten dan ikut serta dalam perang sabil.

Di Makkah Haji Marjuki melanjutkan pekerjaan lamanya, yatu mengajar nahwu, sharaf, dan fikih. Muridnya tergolong banyak. Ia juga tidak pernah menyembunyikan sikap politiknya. Ia misalnya mengecam pemberontakan yang dipimpin Haji Wasid yang dinilainya terlalu pagi dan menimbulkan korban yang sia-sia. Menurutnya, agar berhasil, pemberontakan harus pecah di seluruh Nusantara, selain bahwa pemberontak harus punya cukup uang dan senjata. Karena pendapatnya itu, terjadilah perselisihan yang sulit didamaikan dengan Haji Wasid dan kawan-kawan. Dan kepada mereka ia mengatakan bahwa tangan kananya yang berpuru tidak memungkinnya aktif dalamperjuangan. Andaikan dia tetap di Banten, ia pasti akan menghadapi dilema: dibunuh oleh seradu-serdadu Belanda atau tidak berbuat apa-apa dan menghadapi risiko tindakan pembalasan Haji Wasid. Maka hanya satu alternatif – pergi ke Makkah. Lagi pula istri dan anak-anaknya masih ada di sana. Apakah alasana-alasan itu merupakan dalih yang dibuat-buat untuk meninggalkan medan pertempuran menjelang saat meletusnya pemberontakan, dan merupakan bukti bahwa pada saat-saat terakhir Haji Marjuki hanya mementingkan keselamatannya sendiri? .

Kedudukan pribadi yang sulit seperti itu, sebenarnya pernah dialami beberapa tahun sebelumnya oleh guru Haji Marjuki sendiri, Syekh Abdul Karim. Hanya saja sang guru tampaknya lebih “beruntung” karena keburu dipanggil untuk menggantikan kedudukan Syekh Sambas. Bukankah Haji Abdul Karim dulu, ketika masih di Banten, berpendapat bahwa rakyat sebenarnya belum siap untuk mengadakan pemberontakan? Bahkan, di tahun-tahun ketika murid-muridnya tidak sabar menungu “fatwa” untuk mulai berjihad, dia tidak pernah memberikan kepastian waktu. Sementara itu, sebagai kiai agung dan pengaruh, ia dituntut untuk merestui dan secara tidak langsung memimpin pemberontakan. Jadi, apakah sang murid kesayangan sebenarnya hanya mengikuti pendapat gurunya, Syekh Abdul Karim? Wallahu a’lam.

Yang pasti, setelah pemberontakan dipadamkan, pemerintah kolonial terus memburu orang-orang yang terlibat atau mereka yang diduga terlibat dalam terlibat. Ada yang dihukum mati dengan cara digantung di Alun-alun Cilegon, diasingkan, dipenjara, dan, yang laing ringan, dikenai hukuman kerja paksa. Beberapa pemimpin pemberontak berhasil meloloskan diri, dan di antaranya ada yang lari ke Makkah. Dan meskipun diburu sampai Tanah Suci, pemerintah tidak bisa menjangkau mereka. Sementara itu, Kiai Abdul Karim dan Haji Marjuki terus dimata-matai.

Sekarang, jejak Syekh Abdul Karim kita temukan dalam pelbagai kumpulan tarekat. Organisasi-organisasi tarekat di Tanah Air, terutama Jawa (di pesantren-pesantren Cilongok, Tangerang, Pagentongan, Bogor, Suralaya, Tasikmalaya, Mranggen, Semarang, Bejosa dan Tebuireng, keduanya di Jombang), yang paling berpengruh dan memiliki puluhan ribu pengikut, menyambungkan silsilah mereka ke Syekh Abdul Karim

Kyai pada masyarakat Banten sebagai elit sosial dalam melakukan peran-peran kemasyarakatannya memiliki jaringan sosial. Karenanya, nilai-nilai yang diajarkan tersebar secara luas dan tetap lestari dalam kehidupan masyarakat. Jaringan sosial itu terbentuk melalui sistem kekerabatan, perkawinan hubungan intelektual guru-murid, kerjasama antar pesantren dan lembaga-lembaga sosial. [33] Melalui jaringan tersebut para kyai dapat berperan secara maksimal dan juga status sosialnya selalu terjaga.

a. Kekerabatan

Seorang kyai yang memimpin sebuah pesantren memiliki garis keturunan yang selalu dijaga, yang sebagai besar para pendahulunya adalah para kyai dan keturunan Sultan Banten. K.H. Asytari, seorang kyai keturunan Imam Nawawi Tanara, Tirtayasa, Serang Banten. [34] Garis keturunannya tersebut apabila dicermati adalah para kyai, sultan Banten, para tokoh-tokoh ulama tasawuf sampai dengan Nabi Muhmmad Saw. Lebih lengkapnya sebagai berikut:
1. K.H. Asytari
2. Imam Nawawi
3. Kyai Umar
4. Kyai Arabi
5. Kyai Ali
6. Kyai Jamad
7. Kyai Janta
8. Kyai Masbugil
9. Kyai Masqun
10. Kyai Masnun
11. Kyai Maswi
12. Kyai Tajul Arusy Tanara
13. Maulana Hasanuddin Banten
14. Maulana Syarif Hidayatullah
15. Raja Atamuddin Abdullah
16. Ali Nuruddin
17. Maulana Jamaluddin Akhbar Husain
18. Imam Sayyid Akhmad Syah Jalal
19. Abdullah Adzmah Khan
20. Amir Abdullah Malik
21. Sayyid Alwi
22. Sayyid Muhammad Mirbath
23. Sayyid Ali Khali’ Qasim
24. Sayid Alwi
25. Imam Ubaidiilah
26. Imam Ahmad Muhajir Ilallahi
27. Imam Isa al-Naqib
28. Imam Muhmmad Naqib
29. Imam Ali Ardhi
30. Imam Ja’far al-Shadiq
31. Imam Muhammad al-Baqir
32. Imam Ali Zainal Abidin
33. Sayyidina Husain
34. Sayyidatuna Fathimah Zahra
35. Nabi Muhammad Saw.

Seorang kyai dan keturunannya sering dipercayai oleh masyarakat mendapat karamah dan berkah dari Allah. Karamah dan berkah ini merupakan hal penting bagi seorang kyai dan keturunan untuk mengembangkan dan melanjutkan kepemimpinan pesantrennya. Dengan adanya hal tersebut para kyai dan keturunannya mendapat legitimasi kuat untuk tetap mempertahankan kedudukannya sebagai pemimpin pesantren dan elit sosial di masyarakatnya dengan segala prestise sosial yang dimilikinya.

b. Guru-Murid

Perkembangan Islam di Indonesia tidak lepas dari terjalinannya ikatan jaringan intelektual antara para ulama di pusat-pusat intelektual Islam, seperti Mekkah dan Madinah di Arab Saudi dan Kairo Mesir, dengan para muridnya di Nusantara. Jaringan intelektual itu sedemikian penting, sehingga setiap ada gerakan keagamaan di pusat-pusat Islam itu akan memiliki pengaruh dalam kehidupan keagamaan di Nusantara. Demikian pula kejadian-kejadian di Nusantara akan menjadi perhatian para ulama atau syaikh-syaikh yang tinggal di negeri-negeri Arab tersebut [35] .

Berikut ini contoh dari jaringan intelektual seorang murid dengan para guru-gurunya. Kyai Tb. Khodim, putra K.H. Asnawi, yang telah menjadi seorang mursyid dari tarekat Qodariyah wa Naqsabandiyah memiliki silsilah guru-guru tarekat yang memang diakui oleh kyai-kyai lain yang seangkatan dengannya. Silsilah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Nabi Muhammad Saw.
2. Ali bin Abi Thalib
3. Husein bin Fatimah Al-Zahra
4. Imam Zainal Abidin
5. Syaikh Muhamad al-Baqir
6. Syaikh Ja’far al-Shadiq
7. Syaikh Musa al-Kadzim
8. Syaikh Abi Hasan Alif bin Musa al-Ridha
9. Syaikh Ma’ruf al-Karkhi
10. Syaikh Sari al-Saqati
11. Syaikh Abi al-Qasim Junayd
12. Sayikh Abu Bakar al-Shibli
13. Syaikh Abd al-Wahid al-Tamimi.
14. Syaikh Abi al-Faraj al-Tartusi
15. Syaikh Abi Hasan al-Hiraki
16. Syaikh Abi Sa’id Mubarak al-Mahzum
17. Syaikh Abd al-Qadir al-Jilani
18. Syaikh Abd al-Aziz
19. Syaikh Muhammad al-Hattaki
20. Syaikh Syams al-Din
21. Syaikh Syaraf al-Din
22. Syaikh Zayn al-Din
23. Syaikh Nur al-Din
24. Syaikh Waliyu al-Din
25. Syaikh Husham al-Din
26. Syaikh Yahya
27. Syaikh Abi Bakr
28. Syaikh Abd al-Rahim
29. Syaikh Ustman
30. Syaikh Kamal al-Din
31. Syaikh Abd al-Fattah
32. Syaikh Murod
33. Syaikh Syams al-Din
34. Syaikh Ahmad Khatib Sambas
35. Syaikh Abdul Karim Tanara
36. K.H. Asnawi
37. K.H. Ahmad Suhari
38. K.H. Khodim

c. Organisasi Massa

Para kyai di Banten dalam membangun jaringan sosialnya tidak hanya terbatas pada kekerabatan dan intelektual tetapi juga pada organisasi-organisasi sosial yang ada. Lembaga-lembaga sosial keagamaan yang ada di Banten adalah yang paling banyak di pergunakan oleh para kyai untuk membangun jaringan sosialnya. Jaringan sosial tersebut berskala baik nasional seperti Nahdatul Ulama (NU) maupun lokal, seperti Al-Khaeriyah, Mathla’ul Anwar dan Masyarikul Anwar.

Para pendiri Al-Khaeriyah, Mathla’ul Anwar dan Masyarikul Anwar nampak dari awal tidak dimaksudkan untuk membentuk suatu organisasi sosial, tetapi lebih berorientasi kepada lembaga pendidikan yang dipimpinnya semata. [36] Pada tulisan ini akan dibahas salah satu dari ketiga organisasi lokal di daerah Banten, yakni Al-Khaeriyah. Hal ini dikarenakan ketiganya memiliki karateristik yang hampir sama. Maka, membahas salah satunya dianggap akan mewakili yang lain.

Alumni dari pesantren ini, selain menjadi guru agama atau tokoh masyarakat, juga banyak yang mendirikan pesantren atau madrasah. Lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan biasanya diberi nama Al-Khaeriyah. Pemberian nama yang sama tersebut menyimbolkan bahwa jalinan dengan lembaga induk dan antar para santri yang pernah mengenyam pendidikan di Al-Khaeriyah tetap terjaga dengan baik. Dari ikatan-ikatan yang terjalin secara emosional itu para alumninya mendirikan organisasi massa dengan nama yang sama. [37]

Para santri dari alumni pesantren Al-Khaeriyah yang mendirikan dan memimpin pesantren di daerahnya masing-masing adalah:

1. K.H. Amad dari Pulo Merak-Serang
2. K.H. Ali Jaya dari Ciwandan-Cilegon.
3. K.H. Mohammad Nur dari Keramat Watu, Serang.
4. K.H. Muhamad dari Bojonegara Serang
5. K.H. Mohamad Zein dari Kramat Watu Serang
6. K.H. Mohamad Syadeli Kejayaan dari Keramat Watu Serang.
7. K.H. Ismail dari Keragilan Serang.
8. K.H. Karna dari Sumurwatu, Kragilan-Serang
9. Kyai Rosyidin dari Kubang Benyawak, Pulo Merak-Serang
10. Kyai Arifuddin dari Citangkil, Cilegon.
11. K.H. Rafe’i dari Barugbug, Ciomas, Padarincang, Serang,
12. K.H. Asy’ari dari Kadulesung, Pandeglang.

Wasalam !!
Selengkapnya..

Syekh Abdus Shamad Al Falimbani, Sumatra Selatan

Syeikh Abdus Shamad Palembang Ulama Shufi Dan Jihad Dunia Melayu

Mengenali nama ayahnya

Terdapat banyak percanggahan berkenaan nama ayah kepada ulama ini. Pada penyelidikan awal, penulis menemui nama orang tua Syeikh Abdus Shamad Falimbani itu adalah Syeikh Abdul Jalil al-Mahdani dan Faqih Husein al-Falimbani. Maka dalam penyelidikan selanjutnya, penulis jumpai pula nama ayahnya selain Syeikh Abdul Jalil al-Mahdani dan Faqih Husein al-Falimbani itu. Nama-nama lain itu ialah: Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani. Maklumat ini pertama sekali penulis jumpai hanya pada Hidayatus Salikin terbitan Al-Ahmadiah Press, Singapura, tanpa menyebut tahun cetakan, berdasarkan satu naskhah yang dijumpai di Banjar.

Pada cetakan itu pentashhihnya juga disebutkan ialah Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani sebagaimana cetakan-cetakan lainnya. Sedangkan Hidayatus Salikin terbitan lainnya tidak menyebut nama orang tua Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani itu. Hal ini bersamaan pula dengan manuskrip salin semula judul Zahratul Murid yang terdapat di Pusat Islam Malaysia. Manuskrip Zahratul Murid yang ada dalam simpanan penulis juga menyebut nama orang tuanya Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani.

Tetapi dalam karya beliau judul yang sama, salinan Hj. Muhammad Husein bin Abdul Latif (Tok Kelaba al-Fathani) menyebut bahawa nama orang tua Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani ialah Syeikh Abdullah al-Jawi al-Falimbani, tidak Abdur Rahman al-Falimbani al-Jawi dan tidak pula dua nama yang terdahulu (Faqih Husein al-Falimbani dan Syeikh Abdul Jalil al-Mahdani).

Manuskrip Zahratul Murid yang tersimpan di Muzium Nasional Jakarta, nampaknya serupa dengan salinan Tok Kelaba al-Fathani, iaitu orang tuanya bernama Abdullah al-Jawi al-Falimbani.

Nama ayah Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani dinyatakan ialah Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani, juga tersebut pada cover cetakan kitab itu oleh Matba’ah at-Taraqqil Majidiyah al-‘Itsmaniyah, Mekah, tahun 1331 H/1912 M, ditashhih oleh Syeikh Idris bin Husein al-Kalantani, iaitu murid kepercayaan Syeikh Ahmad al-Fathani. Dipercayai ada cetakan yang lebih awal dari cetakan ini yang diusahakan oleh Syeikh Ahmad al-Fathani yang dicetak oleh Matba’ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah dalam tahun 1300 H/1882 M.

Juga nama ayahnya Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani tersebut pada mukadimah risalah Ilmu Tasauf, manuskrip koleksi Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia. Nama Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani juga disebut pada banyak halaman dalam karya Syeikh Muhammad Yasin bin ‘Isa al-Fadani (Padang) berjudul Al-‘Iqdul Farid min Jawahiril Asanid dan Balughul Amani.

Nama ayah Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani adalah Syeikh Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani, dari sumber Melayu sendiri selain sumber-sumber yang penulis sebutkan di atas. Juga disebut oleh salah seorang murid beliau bernama Haji Mahmud bin Muhammad Yusuf Terengganu, dalam salah sebuah salinan karya Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani. Tokoh tersebut sangat banyak membuat salinan pelbagai judul manuskrip.

Berbeda

Susur galur keturunan Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani sampai saat ini baru dijumpai dua sumber yang agak lengkap walaupun antara kedua- duanya sangat berbeza. Kedua-dua sumber itu ialah: Al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah, yang mengemukakan bahawa Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani bin Syeikh Abdul Jalil bin Syeikh 'Abdul Wahhab bin Syeikh Ahmad al-Mahdani.

Dalam Bulughul Maram karya Syeikh Muhammad Yasin Padang pula dijumpai bahawa Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani bin Abdur Rahman bin Abdullah bin Ahmad al-Falimbani. Namun pada beberapa halaman lain oleh pengarang dalam buku yang sama dinyatakan: Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman bin Abdul Jalil al-Falimbani. Penulis tidak dapat mengesan dengan pasti apa sebab persoalan ini boleh berlaku, nama ayahnya berbeda-beda dan nama-nama ayah ke ayah pula terjadi demikian seperti yang telah disalinkan di atas.

Nama yang digunakan di makam yang terletak di Tanjung Pauh, Jitra, Daerah Kubang Pasu, Kedah ialah Syeikh Abdul Jalil, bukan nama yang lainnya. Sungguh pun di makamnya memakai nama Syeikh Abdul Jalil, namun jika diperhatikan dengan perbandingan ternyata jumlah maklumat yang menyebut nama ayah beliau Abdur Rahman al-Jawi al-Falimbani lebih banyak dari nama-nama lain seperti yang disebutkan di atas.

Selama ini semua penulis hanya mengenal bahawa di hujung nama Syeikh Abdus Shamad biasa ditambah dengan perkataan ‘al-Falimbani’, iaitu yang dinisbahkan/dibangsakan bahawa beliau berasal dari Palembang. Akan tetapi dalam sebuah manuskrip al-‘Urwatul Wutsqa karya beliau, ternyata beliau menyebut di hujung namanya dengan ‘al-Fathani’.

Pada beberapa halaman al-‘Iqdul Farid, Syeikh Yasin Padang menyebut di hujung nama beliau dengan ‘al-Asyi asy-Syahir bil Falimbani’, yang maksudnya bahawa dinisbahkan/dibangsakan berasal dari Aceh yang masyhur berasal dari Palembang.

Pendidikan

Syeikh Abdus Shamad mendapat pendidikan asas dari ayahnya sendiri, Syeikh Abdul Jalil, di Kedah. Kemudian Syeikh Abdul Jalil mengantar semua anaknya ke pondok di negeri Patani. Zaman itu memang di Patani lah tempat menempa ilmu-ilmu keislaman sistem pondok secara yang lebih mendalam lagi.

Mungkin Abdus Shamad dan saudara-saudaranya Wan Abdullah dan Wan Abdul Qadir telah memasuki pondok-pondok yang terkenal, antaranya ialah Pondok Bendang Gucil di Kerisik, atau Pondok Kuala Bekah atau Pondok Semala yang semuanya terletak di Patani.

Di antara para gurunya di Patani, yang dapat diketahui dengan jelas hanyalah Syeikh Abdur Rahman bin Abdul Mubin Pauh Bok. Demikianlah yang diceritakan oleh beberapa orang tokoh terkemuka Kampung Pauh Bok itu (1989), serta sedikit catatan dalam salah satu manuskrip terjemahan Al-‘Urwatul Wutsqa, versi Syeikh Abdus Shamad bin Qunbul al-Fathani yang ada dalam simpanan penulis. Kepada Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok itulah sehingga membolehkan pelajaran Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani dilanjutkan ke Mekah dan Madinah. Walau bagaimana pun mengenai Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani belajar kepada Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok al-Fathani itu belum pernah ditulis oleh siapa pun, namun sumber asli didengar di Kampung Pauh Bok sendiri.

Sistem pengajian pondok di Patani pada zaman itu sangat terikat dengan hafalan matan ilmu-ilmu Arabiyah yang terkenal dengan ‘llmu Alat Dua Belas’. Dalam bidang syariat Islam dimulai dengan matan-matan fiqh menurut Mazhab Imam Syafie. Di bidang tauhid dimulai dengan menghafal matan-matan ilmu kalam/usuluddin menurut faham Ahlus Sunah wal Jamaah yang bersumber dari Imam Syeikh Abul Hasan al-Asy’ari dan Syeikh Abu Mansur al-Maturidi.

Setelah Syeikh Abdus Shamad banyak hafal matan lalu dilanjutkan pula dengan penerapan pengertian yang lebih mendalam lagi. Sewaktu masih di Patani lagi, Syeikh Abdus Shamad telah dipandang alim, kerana beliau adalah sebagai kepala thalaah (tutor), menurut istilah pengajian pondok. Namun ayahnya berusaha mengantar anak-anaknya melanjutkan pelajarannya ke Mekah. Memang merupakan satu tradisi pada zaman itu walau bagaimana banyak ilmu pengetahuan seseorang belumlah di pandang memadai, jika tak sempat mengambil barakah di Mekah dan Madinah kepada para ulama yang dipandang Wali Allah di tempat pertama lahirnya agama Islam itu.

Keturunan

Mengenai pengajiannya di Mekah dan Madinah sumber yang paling pertama diketahui ialah tulisan Syeikh Abdur Rahman Shiddiq, keturunan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari, ditulisnya dalam Syajaratul Arsyadiyah. Menurut beliau, bahawa Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, belajar di Mekah sekitar 30 tahun dan di Madinah 5 tahun bersama kawan-kawannya. Mereka ialah Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari penyusun kitab Sabilul Muhtadin yang terkenal, Syeikh Abdul Wahab Pang-kajene (Sidenreng Daeng Bunga Wardiah) Bugis, Syeikh Abdur Rahman al-Masri, Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari, Syeikh Muhammad Ali Aceh, Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan ramai lagi.

Sahabat-sahabat Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani sewaktu melanjutkan pelajaran di Mekah selain yang tersebut itu sangat ramai, di antara nama mereka telah penulis sebut dalam buku Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari Pengarang Sabilal Muhtadin. Mengenai para gurunya di Mekah, selain yang diketahui umum, dalam sebuah manuskrip disebutkan bahawa Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani pernah belajar daripada Syeikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Aceh di Mekah. Para ulama besar yang pernah mendidik Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani selama berada di Mekah dan Madinah selain yang tersebut dapat dirujuk kepada buku penulis Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari ... tersebut di atas, lihat hlm. 14-15, sanad-sanadnya dari hlm. 16 sampai 27. Namun masih ada beberapa guru Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani yang berasal dari Palembang dan sanad beberapa ilmu yang tidak tersebut dalam buku penulis itu. Hal ini kerana ada beberapa ilmu yang mereka tidak belajar secara bersama-sama.

Menurut Syeikh Yasin Padang dalam beberapa bukunya yang telah disebutkan, bahawa hampir semua ilmu nampaknya Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani menerima dari al-Mu’ammar Aqib bin Hasanuddin bin Ja’far al-Falimbani. Ulama yang berasal dari Palembang ini tinggal di Madinah. Beliau berguru dengan ramai ulama, namun di antara gurunya termasuklah ayah saudaranya bernama Thaiyib bin Ja'far al-Falimbani. Thaiyib bin Ja’far belajar dengan ayahnya Muhammad bin Badruddin al-Falimbani.

Tulisan Syeikh Yasin Padang yang mengatakan Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani belajar dengan Syeikh Muhammad Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani itu bertentangan dengan tulisan Syeikh Muhammad Azhari ibnu Abdullah al-Jawi al-Falimbani. Kenyataan ulama ini ialah, “... telah mengambil talqin zikir ini oleh faqir Muhammad Azhari ibnu Abdillah al-Falimbani. [Ia] mengambil daripada asy-Syeikh Abdullah bin Ma’ruf al-Falimbani, [Ia] mengambil daripada asy-Syeikh Muhammad Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani, [Ia] mengambil daripda asy-Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani ...”.

Jika kita berpegang kepada Syeikh Yasin Padang bererti Syeikh Abdus Shamad adalah murid Syeikh Muhammad Aqib. Sebaliknya jika kita berpegang kepada Syeikh Muhammad Azhari bin Abdullah bin Muhammad Asyiquddin bin Safiyuddin Abdullah al-Alawi al-Husaini al-Falimbani, bererti Syeikh Abdus Shamad adalah guru kepada Syeikh Muhammad Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani.

LEMBARAN akhir kitab Siyarus Salikin dinyatakan diselesaikan di Taif pada tahun 1203 Hijrah.

SHEIKH Abdus Shamad al-Falimbani adalah seorang ulama sufi yang agung di Nusantara, beliau sangat anti terhadap penjajah dan ia telah menunjukkan kesanggupan luar biasa untuk berjuang demi ketinggian Islam semata-mata.

Prof. Dr. Hamka menyebut dalam salah satu karangannya, bahawa setelah belajar di Mekah, Sheikh Abdus Shamad Palembang tidak pernah kembali ke tanah airnya Palembang, lantaran bencinya terhadap penjajah Belanda.

Sebagaimana disebutkan bahawa yang sebenarnya menurut khabar yang mutawatir, dan bukti-bukti bertulis bahawa Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani pulang buat kali pertamanya ke Nusantara bersama-sama sahahat-sahabatnya iaitu Sheikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari, Sheikh Abdul Wahab Sadenreng Daeng Bunga Bugis, Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani, dan Sheikh Abdur Rahman al-Masri.

Diceritakan oleh Sheikh Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari dalam Syajaratul Arsyadiyah, bahawa gurunya menasihati mereka jika ke Mesir untuk mendalami ilmu pengetahuan, hal itu akan mengecewakan kerana Sheikh Abdus Shamad dan Sheikh Muhammad Arsyad Banjar itu bukan layak menjadi mahasiswa, akan tetapi layak menjadi mahaguru.

Di Mesir adalah sukar mencari ulama yang lebih tinggi pengetahuannya daripada ulama-ulama yang berasal Jawi itu. Tetapi gurunya tidak melarang maksud suci itu, namun gurunya itu menegaskan jika ke Mesir hanya ingin bertemasya melihat keindahan dan peninggalan-peninggalan kuno khas Mesir, hal itu adalah merupakan suatu ilmu pengetahuan perbandingan pula.

Sheikh Abdus Shamad dan kawan-kawan dikatakan sempat ke Mesir tetapi bukan belajar di sana melainkan ingin mengunjungi lembaga-lembaga pendidikan di Mesir ketika itu. Mereka bukan saja ke Kaherah tetapi termasuk beberapa kota kecil, bahkan sampai ke pedalaman dan di hulunya. Banyak madrasah dan sistem pendidikannya menjadi perhatian mereka bahawa mereka bercita-cita menerapkan kaedah Mesir yang agak berbeza dengan kaedah pendidikan di Pattani.

Sekembali dari Mesir, mereka tidak tinggal lama di Mekah mahupun Madinah. Setelah diizinkan oleh Sheikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman, maka mereka berangkat menuju ke Jeddah. Dari Jeddah mereka menumpang sebuah perahu layar, pulang ke tanah air. Berbulan-bulan di laut sampailah mereka di Pulau Pinang. Mereka kemudian menziarahi Kedah dan Perak, kemudian melalui jalan darat terus ke Singapura.

Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani walaupun telah dekat dengan negerinya Pattani namun beliau tidak pulang tetapi disebabkan semangat setiakawannya, beliau mengikuti teman-temannya ke Singapura.

Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani hanya sampai di Singapura saja, tetapi dalam riwayat lain ada yang mengatakan beliau menghantar sampai ke Betawi. Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani dan Sheikh Muhammad Arsyad meneruskan pelayaran ke Betawi (Jakarta).

Setelah di Betawi, pada satu hari Jumaat, mereka sembahyang di Masjid Kampung Sawah Jambatan Lima, Betawi. Walaupun masjid itu telah lama didirikan, menurut Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani, dan Sheikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari bahawa adalah arah ke kiblat masjid itu tidak tepat sebagaimana semestinya.

Orang yang hadir dalam masjid itu sangat hairan melihat mereka melakukan solat tahiyatul masjid jauh miring dari seperti apa yang dikerjakan oleh orang lain. Lalu ada yang bertanya dan dijawab oleh mereka bahawa arah kiblat menurut biasa itu adalah tidak tepat, dan yang betulnya seperti yang mereka lakukan dan. Maka, berlaku sedikit salah faham antara mereka dan hadirin tersebut.

Dengan tangkas Sheikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari maju kemuka. Ia berdiri di depan sekali, diangkatkannya tangannya ke arah hadirin majlis Jumaat hari itu, sangat aneh dan ajaib sekali tiba-tiba saja yang hadir itu langsung dapat melihat Kaabatullah ke arah lurus tangan Sheikh Muhammad Arsyad itu. Suasana tenang kembali, tiada siapa berani membantah.

Khalayak ramai maklum bahawa orang-orang yang melakukan solat tahiyatul masjid yang berbeza dengan mereka itu adalah para wali Allah yang ditugaskan Wali Quthub Sheikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman yang terkenal itu. Kononnya, mulai hari Jumaat itu arah kiblat diubah atau diperbetulkan dengan dibuat garis merah sebagai tandanya.

Peristiwa itu akhirnya diketahui penguasa Belanda, selaku kuasa penjajah pada zaman itu. Belanda menangkap Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani, Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan Sheikh Abdul Wahab Bugis dan mereka dituduh sebagai pengacau keamanan. Mereka dibawa ke atas sebuah kapal yang sedang berlabuh di Betawi, di atas kapal itulah mereka disoal, dihujani dengan pelbagai pertanyaan yang sukar dijawab. Akan tetapi pihak Belanda sangat mengagumi pengetahuan mereka sehingga setelah tiga hari tiga malam, barulah mereka dibebaskan begitu saja.

Setelah peristiwa itu barulah mereka kembali ke tempat kelahiran masing-masing. Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani pulang ke Palembang, Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari pulang ke Banjar, kemudian Sheikh Abdul Wahab Bugis juga ke Banjar mengikut Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Ramai meriwayatkan cerita yang menarik ketika Sheikh Abdus Shamad berada di negerinya Palembang. Oleh kerana rasa bencinya kepada Belanda, ditambah pula dengan peristiwa di atas kapal itu, beliau bertambah kecewa kerana melihat pihak Belanda yang kafir telah memegang pemerintahan di lingkungan Islam dan tiada kuasa sedikit pun bagi Sultan.

Maka beliau rasa tidak betah untuk diam di Palembang walaupun beliau kelahiran negeri itu. Sheikh Abdus Shamad mengambil keputusan sendiri tanpa musyawarah dengan siapa pun, semata-mata memohon petunjuk Allah dengan melakukan solat istikharah. Keputusannya, beliau mesti meninggalkan Palembang, mesti kembali ke Mekah semula.

Lantaran terlalu anti Belanda, beliau tidak mahu menaiki kapal Belanda sehingga terpaksa menebang kayu di hutan untuk membuat perahu bersama-sama orang-orang yang patuh sebagai muridnya. Walaupun sebenarnya beliau bukanlah seorang tukang yang pandai membuat perahu, namun beliau sanggup mereka bentuk perahu itu sendiri untuk membawanya ke Mekah. Tentunya ada beberapa orang muridnya mempunyai pengetahuan membuat perahu seperti itu.

Ini membuktikan Sheikh Abdus Shamadal-Falimbani telah menunjukkan keteguhan pegangan, tawakal adalah merupakan catatan sejarah yang tidak dapat dilupakan.

Pulang ke nusantara buat kali kedua

Setelah perahu siap dan kelengkapan pelayaran cukup, maka berangkatlah Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani dari Palembang menuju Mekah dengan beberapa orang muridnya. Selama di Mekah, beliau bergiat dalam pengajaran dan penulisan kitab-kitab dalam beberapa bidang pengetahuan keislaman, terutamanya tentang tasauf, fikah, usuluddin dan lain-lain.

Untuk menunjukkan sikap antinya kepada penjajah, dikarangnya sebuah buku tentang jihad. Buku yang penting itu berjudul Nasihatul Muslimin wa Tazkiratul Mu’minin fi Fadhail Jihadi fi Sabilillah wa Karamatul Mujtahidin fi Sabilillah.

Kegiatan-kegiatannya di bidang penulisan akan dibicarakan pada bahagian lain.

Di sini terlebih dahulu diceritakan kepulangan beliau ke nusantara untuk kali kedua. Kepulangan Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani kali ini tidak ke Palembang tetapi ke Kedah. Saudara kandungnya Sheikh Wan Abdul Qadir bin Sheikh Abdul Jalil al-Mahdani ketika itu ialah Mufti Kerajaan Kedah. Seorang lagi saudaranya, Sheikh Wan Abdullah adalah pembesar Kedah dengan gelar Seri Maharaja Putera Dewa.

Meskipun Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani lama menetap di Mekah, namun hubungan antara mereka tidak pernah terputus. Sekurang-kurangnya mereka berutus surat setahun sekal, iaitu melalui mereka yang pulang selepas melaksanakan ibadah haji.

Selain hubungan beliau dengan adik-beradik di Kedah, Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani turut membina hubungan dengan kaum Muslimin di seluruh Asia Tenggara. Pada zaman itu hampir semua orang yang berhasrat mendalami ilmu tasauf terutama di sektor Tarekat Sammaniyah, Tarekat Anfasiyah dan Tarekat Khalwatiyah menerima ilmu daripada beliau.

Beliau sentiasa mengikuti perkembangan di Tanah Jawi (dunia Melayu) dengan menanyakan kepada pendatang-pendatang dari Pattani, Semenanjung Tanah Melayu, dan negeri-negeri Nusantara yang di bawah penjajahan Belanda (pada zaman itu masih disebut Hindia Belanda).

Ini terbukti dengan pengiriman dua pucuk surat kepada Sultan Hamengkubuwono I, Sultan Mataram dan kepada Susuhunan Prabu Jaka atau Pangeran Singasari Putera Amengkurat IV. Surat-surat tersebut jatuh ke tangan Belanda di Semarang (tahun 1772 M).

Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani telah lama bercita-cita untuk ikut serta dalam salah satu peperangan/pemberontakan melawan penjajah. Namun setelah dipertimbangkan, beliau lebih tertarik membantu umat Islam di Pattani dan Kedah melawan keganasan Siam yang beragama Buddha.

Sebelum perang itu terjadi, Sheikh Wan Abdul Qadir bin Sheikh Abdul Jalil al-Mahdani, Mufti Kedah mengirim sepucuk surat kepada Sheikh Abdus Shamad di Mekah. Surat itu membawa maksud agar diumumkan kepada kaum Muslimin yang berada di Mekah bahawa umat Islam Melayu Pattani dan Kedah sedang menghadapi jihad mempertahankan agama Islam dan watan (tanah air) mereka.

Dalam peperangan itu, Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani memegang peranan penting dengan beberapa panglima Melayu lainnya. Ada catatan menarik mengatakan beliau bukan berfungsi sebagai panglima sebenarnya tetapi beliau bertindak sebagai seorang ulama sufi yang sentiasa berwirid, bertasbih, bertahmid, bertakbir dan berselawat setiap siang dan malam.

Banyak orang menuduh bahawa orang sufi adalah orang-orang jumud yang tidak menghiraukan dunia. Tetapi jika kita kaji beberapa biografi ulama sufi, termasuk Sheikh Abdus Shamad yang diriwayat ini adalah orang-orang yang bertanggungjawab mempertahankan agama Islam dan tanah air dari hal-hal yang dapat merosakkan Islam itu.

Golongan ini adalah orang yang berani mati dalam menegakkan jihad fi sabililah. Mereka tidak terikat dengan sanak keluarga, material duniawi, pangkat dan kedudukan dan sebagainya, mereka semata-mata mencintai Allah dan Rasul dari segala apa pun juga.

Kepulangan Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani ke Kedah memang pada awalnya bertekad demi jihad, bukan kerana mengajar masyarakat mengenai hukum-hukum keislaman walaupun beliau pernah mengajar di Mekah. Dipendekkan kisah akhirnya Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani dan rombongan pun berangkat menuju ke Pattani yang bergelar ‘Cermin Mekah’.

Sayangnya kedatangan beliau agak terlambat, pasukan Pattani telah hampir lemah dengan keganasan Siam.

Sementara itu, Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan pengikut-pengikutnya telah mengundurkan diri ke Pulau Duyung, Terengganu untuk menyusun semula langkah perjuangan.

Pattani telah patah dan kekuatan lenyap dengan itu Sheikh Abdus Shamad pun berkhalwat di salah sebuah masjid di Legor. Ada orang mengatakan beliau berkhalwat di Masjid Kerisik yang terkenal dengan ‘Pintu Gerbang Hang Tuah’ itu.

Para pengikut tasauf percaya di sanalah beliau menghilang diri tetapi bagi kalangan bukan tasauf, perkara ini adalah mustahil dan mereka lebih percaya bahawa beliau telah mati dibunuh oleh musuh-musuh Islam.

Mengenai tahun peperangan yang terjadi antara Kedah dengan Siam, dalam Al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah menyebut bahawa kejadian tersebut berlaku pada 1244 H bersamaan dengan 1828 M. Sungguhpun demikian, seorang ahli sejarah Kedah, Hj. Wan Shamsuddin, berpendapat bahawa kemuncak peperangan terjadi ialah pada 1254 H/1838 M, iaitu 10 tahun kemudian dari yang disebut oleh Al-Tarikh Salasilah Negeri Kedah itu. Oleh itu, yang mana yang lebih tepat antara 1244 H/1828 M atau 1254 H/1838 M, perlu kepada penyelidikan lanjut.

Kesimpulannya, kembalinya Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani untuk kali yang kedua itu adalah juga merupakan tahun kepulangannya beliau ke rahmatullah sebagai seorang ‘syuhada’.
Selengkapnya..